Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Satu Keluarga Meninggal Saat Glamping di Posong Temanggung, Sosok Mahasiswa UGM Jadi Sorotan

Ali Mustofa • Jumat, 29 Mei 2026 | 15:56 WIB
Misteri kematian empat orang sekeluarga di tenda glamping Posong Temanggung menyita perhatian publik. Polisi mendalami dugaan keracunan makanan barbeque.
Misteri kematian empat orang sekeluarga di tenda glamping Posong Temanggung menyita perhatian publik. Polisi mendalami dugaan keracunan makanan barbeque.

TEMANGGUNG – Kasus meninggalnya empat orang dalam satu keluarga saat melakukan kegiatan glamping di kawasan wisata Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, masih menyisakan misteri dan terus menjadi perhatian publik.

Di tengah proses penyelidikan yang tengah berjalan, nama salah satu korban, Bagas Amar Hakiki (21), ikut mencuri perhatian.

Ia diketahui merupakan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus fotografer lepas di lingkungan Keraton Yogyakarta yang dikenal memiliki kemampuan fotografi yang menonjol.

Peristiwa memilukan ini dialami satu keluarga asal Desa Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang ditemukan meninggal dunia di dalam tenda pada Rabu (27/5/2026).

Hingga kini, kepolisian masih menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium forensik untuk memastikan penyebab kematian.

Nama Bagas kemudian menjadi sorotan setelah diketahui aktif sebagai bagian dari tim dokumentasi Keraton Yogyakarta. Selain menempuh pendidikan di Program Studi Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Budaya UGM angkatan 2022, ia juga dikenal sebagai fotografer muda yang produktif.

Pengajeng Hudyanawara Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Nyi RW Kartiutami Guritno, membenarkan bahwa Bagas merupakan bagian dari tim dokumentasi mereka.

Awalnya ia bergabung melalui program magang sebelum akhirnya dipercaya menjadi fotografer lepas.

“Betul, Mas Bagas adalah salah satu fotografer kami di Kawedanan Tandha Yekti,” ungkap Kartiutami.

Ia menjelaskan bahwa kemampuan Bagas sudah terlihat sejak masa magang pada 2024.

Setelah menunjukkan kualitas kerja yang baik, ia kemudian direkrut sebagai bagian dari tim dokumentasi bersama beberapa rekan lainnya.

“Setelah masa magangnya selesai, kami melihat kemampuannya sangat baik, sehingga ia bersama dua rekannya kemudian menjadi fotografer lepas di tim dokumentasi Keraton,” tambahnya.

Meski tidak berstatus abdi dalem, Bagas memiliki peran penting dalam kegiatan dokumentasi berbagai agenda resmi Keraton Yogyakarta.

Ia dikenal sebagai salah satu fotografer muda yang dapat diandalkan dalam tim.

“Dia memang fotografer lepas, tetapi termasuk dalam tim inti dokumentasi. Sebagian anggota kami abdi dalem, sebagian lagi freelance,” jelasnya.

Kepergian Bagas meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekannya di Keraton Yogyakarta. Sosoknya dikenal ramah, mudah bergaul, dan memiliki semangat tinggi dalam berkarya.

“Kami sangat kehilangan. Bagas bukan hanya fotografer terbaik, tetapi juga rekan, sahabat, dan sosok yang menyenangkan,” ujarnya dengan nada haru.

Sementara itu, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan terkait penyebab kematian empat anggota keluarga tersebut.

Dugaan awal mengarah pada kemungkinan keracunan makanan saat mereka melakukan aktivitas glamping di kawasan wisata Posong.

Kasat Reskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, mengatakan sejumlah sampel makanan telah diamankan untuk diperiksa di Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah, termasuk sisa makanan barbeque yang dibawa korban.

“Untuk penyebab pasti masih menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan Labfor,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).

Keempat korban diketahui tiba di lokasi wisata pada Selasa malam (26/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIB untuk berlibur dan menginap di area camping.

Mereka adalah MHM (52), M (43), AEH (17), dan Bagas Amar Hakiki (21), yang merupakan satu keluarga asal Kabupaten Semarang.

Dari hasil penyelidikan sementara, tidak ditemukan kejanggalan saat keluarga tersebut tiba di lokasi. Aktivitas mereka juga berjalan seperti pengunjung pada umumnya.

Namun keesokan harinya, petugas pengelola mulai curiga karena tidak ada respons dari dalam tenda meski waktu check-out telah tiba.

Setelah beberapa kali dipanggil tanpa jawaban, tenda akhirnya dibuka dan seluruh penghuni ditemukan sudah meninggal dunia dalam kondisi kaku.

Temuan tersebut langsung menggemparkan kawasan wisata Posong dan membuat para pengunjung lain panik.

Polisi yang tiba di lokasi segera melakukan olah TKP dan mengevakuasi jenazah untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Hingga saat ini, hasil autopsi dan uji laboratorium masih menjadi kunci utama untuk mengungkap penyebab pasti tragedi tersebut.

Kasus ini juga mendapat perhatian luas di media sosial, terutama karena salah satu korban merupakan mahasiswa muda yang dikenal berprestasi dan aktif berkarya di bidang fotografi.

Rekan-rekan Bagas di UGM dan komunitas fotografi Yogyakarta turut menyampaikan duka mendalam atas kepergiannya. Ia dikenang sebagai sosok muda yang hangat, kreatif, dan penuh semangat.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam aktivitas berkemah atau glamping, terutama terkait faktor keamanan makanan, peralatan, dan kondisi lingkungan.

Polisi memastikan penyelidikan masih terus berlanjut hingga hasil resmi dari forensik keluar, yang diharapkan dapat menjawab misteri kematian satu keluarga tersebut.

Editor : Ali Mustofa
#kawasan wisata posong #satu keluarga meninggal #mahasiswa ugm #Temanggung #polda jawa tengah