Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Polisi Lakukan Autopsi AEH, Ungkap Dugaan Penyebab Kematian Satu Keluarga di Glamping Temanggung

Ali Mustofa • Jumat, 29 Mei 2026 | 15:46 WIB
Suasana rumah duka yang dipadati teman korban, keluarga hingga warga sekitar satu keluarga meninggal di tempat wisata Temanggung di Dusun Bendosari Kabupaten Semarang, Kamis (28/5). (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)
Suasana rumah duka yang dipadati teman korban, keluarga hingga warga sekitar satu keluarga meninggal di tempat wisata Temanggung di Dusun Bendosari Kabupaten Semarang, Kamis (28/5). (Maria Novena/Jawa Pos Radar Semarang)

TEMANGGUNG – Tim forensik melakukan proses autopsi terhadap AEH (17), salah satu korban dalam tragedi meninggalnya satu keluarga di area glamping kawasan wisata Kledung, Kabupaten Temanggung.

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kematian empat wisatawan asal Ambarawa, Kabupaten Semarang tersebut.

Kasat Reskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Deputra, menjelaskan bahwa autopsi dilakukan pada Kamis (28/5) sejak pukul 08.00 WIB dan selesai pada siang hari.

Proses tersebut menjadi bagian penting dalam penyelidikan kasus kematian yang masih menyisakan tanda tanya.

Dari hasil pemeriksaan awal dokter forensik, terdapat dua dugaan utama penyebab kematian korban, yakni keracunan makanan dan paparan gas hasil pembakaran.

“Berdasarkan keterangan awal dokter forensik, ada dua kemungkinan penyebab, yaitu keracunan makanan dan keracunan gas hasil pembakaran. Namun kami masih menunggu hasil lengkap dari laboratorium forensik,” ujar Komang, Jumat (29/5).

Ia menambahkan, AEH dipilih sebagai satu-satunya jenazah yang diautopsi berdasarkan kesepakatan keluarga.

Awalnya penyidik mengusulkan autopsi terhadap seluruh korban, namun keluarga hanya mengizinkan satu korban untuk diperiksa secara mendalam.

“Pihak keluarga memilih satu korban untuk diautopsi, yaitu AEH. Korban ini dipilih karena paling muda dan diketahui memiliki kondisi fisik yang paling kuat,” jelasnya.

Polisi berharap hasil autopsi AEH dapat menjadi kunci utama dalam mengungkap penyebab kematian tiga korban lainnya dalam peristiwa tersebut.

Dalam penyelidikan, polisi juga telah mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi kejadian, mulai dari kompor gas portable, tungku tanah liat untuk briket, hingga sisa makanan seperti daging, sosis, jagung, tahu, nasi putih, selada, dan jamur enoki.

Selain itu, lima unit handphone berbagai merek juga turut diamankan.

Dari hasil olah TKP, kompor gas portable ditemukan berada tepat di teras tenda dalam posisi regulator masih terpasang namun sudah dalam keadaan off, sementara isi gas diketahui telah habis.

Temuan ini memperkuat dugaan adanya paparan gas karbon monoksida (CO) hasil pembakaran barbeque yang masuk ke dalam tenda dan terperangkap di dalam ruang tertutup.

“Posisi pintu tenda saat ditemukan tertutup rapat, termasuk ventilasi kanan dan kiri. Kondisi ini memungkinkan gas terjebak di dalam tenda,” kata Komang.

Meski demikian, kepolisian belum menutup kemungkinan adanya faktor lain, termasuk keracunan makanan.

Namun, dari pemeriksaan awal di lokasi, tidak ditemukan tanda-tanda muntahan yang biasanya menjadi indikasi keracunan makanan.

Dokter forensik memperkirakan para korban telah meninggal sekitar 8 hingga 12 jam sebelum ditemukan dalam kondisi sudah kaku di dalam tenda.

Selain itu, hasil pemeriksaan juga memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

Saat ini, penyidik masih menunggu hasil akhir autopsi serta pemeriksaan laboratorium forensik Polda Jawa Tengah untuk memastikan penyebab pasti tragedi yang menewaskan satu keluarga tersebut.

Dari hasil olah TKP, polisi juga mengungkap kondisi fasilitas tenda berbentuk limas yang digunakan para korban.

Tenda berukuran sekitar 4x7 meter tersebut hanya dilengkapi dua kasur dan sleeping bag tanpa adanya fasilitas tambahan seperti pemanas ruangan atau water heater.

“Di dalam tenda hanya ditemukan dua kasur dan sleeping bag, tidak ada penghangat ruangan,” ujar Komang.

Tenda tersebut dalam kondisi tertutup rapat saat ditemukan, baik pintu utama maupun ventilasi samping.

Di bagian luar tenda, polisi menemukan perlengkapan barbeque yang digunakan korban, termasuk kompor gas portable dan tungku tanah liat untuk briket. Sisa makanan juga ditemukan di area teras tenda.

Polisi menduga, setelah melakukan aktivitas barbeque, para korban beristirahat tanpa menyadari adanya sisa gas pembakaran yang masih terperangkap di dalam tenda berbentuk limas tersebut.

Meski dugaan awal mengarah pada paparan gas CO, penyidik masih menunggu hasil laboratorium forensik untuk memastikan penyebab pasti kematian empat korban tersebut.

Editor : Ali Mustofa
#kompor gas portable #Temanggung #autopsi #keracunan #polda jawa tengah