SEMARANG — Hari pertama penutupan Jalan Gombel Lama pada Senin (20/4/2026) pukul 09.00 WIB langsung memicu kemacetan luar biasa di Jalan Gombel Baru, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.
Akses turunan Gombel yang ditutup total dengan water barrier memaksa seluruh kendaraan dialihkan ke jalur alternatif dua arah, menyebabkan antrean panjang hingga 2 kilometer dari kedua sisi.
Pengendara terlihat kelelahan mengubah rute perjalanan, sementara laju kendaraan melambat drastis akibat skema prioritas 3-1 yang diterapkan polisi.
Penutupan ini dilakukan untuk proyek perbaikan jalan sepanjang 1,27 kilometer yang diperkirakan berlangsung hingga sekitar 3 sampai 4 bulan.
Baca Juga: Durasi Proyek Perbaikan Jalan Gombel Lama Semarang Dipangkas dari 7 Jadi 3–4 Bulan
Sebelumnya, Gombel Lama menjadi jalur utama bagi pengendara dari arah Semarang atas menuju pusat kota atau Solo, sehingga pengalihan ke Gombel Baru yang semula searah kini jadi beban berat.
Pantauan lapangan melihatkan kemacetan mencapai puncak pada jam sibuk pulang kerja, dengan antrean mengular dari flyover Jatingaleh hingga tanjakan Gombel Baru.
Skema rekayasa lalu lintas yang diterapkan Unit Laka Satlantas Polresta Semarang memprioritaskan kendaraan menanjak ke atas dengan tiga lajur, sementara lajur turun hanya satu.
Mobil mogok dan truk yang nekat melintas menjadi pemicu utama kelumpuhan arus, memaksa pengendara mencari celah di tengah kepadatan yang tak terkendali.
Baca Juga: Naik BRT Gratis untuk Warga Jadi Kado di HUT Kota Semarang ke-479
Pengendara mulai beradaptasi dengan mengubah rute perjalanan secara massal, meski banyak yang terjebak dalam kemacetan berkepanjangan.
Beberapa memilih jalur alternatif seperti Tol Jatingaleh-Srondol, tetapi volume kendaraan yang melonjak membuat opsi ini pun tersendat.
Kendaraan berat seperti truk dan bus diimbau melewati tol tersebut untuk mengurangi beban Gombel Baru, namun tidak semua mematuhi arahan, memperburuk situasi.
Dampak penutupan tak hanya dirasakan pengendara pribadi, tapi juga pengguna transportasi umum.
Baca Juga: Proyek Besar Gombel Lama Semarang: Jalan Mulai Ditutup Total
Halte BRT di kawasan Gombel tak berfungsi optimal karena bus Trans Semarang enggan berhenti di pinggir jalan akibat kepadatan, meninggalkan penumpang terlantar.
Warga mengeluhkan ketidaknyamanan ini, dengan harapan ada penyesuaian rute bus untuk mengakomodasi perubahan lalu lintas yang mendadak.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan, menegaskan bahwa pergerakan lokal di ujung penutupan Gombel Lama tetap difasilitasi dengan personel pengatur.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan pengendara kesulitan beradaptasi, terutama pada hari pertama di mana informasi pengalihan belum merata.
Baca Juga: Karnaval Paskah 2026 di Semarang Sukses Digelar dengan Meriah dan Ramai Penonton
Personel polisi ditempatkan di titik kritis, tapi volume kendaraan yang tumpah ruah ke Gombel Baru membuat pengaturan sulit dilakukan secara efektif.
Pada sore hari, kemacetan di tanjakan Gombel Baru mencapai 2 km, dengan pengendara terlihat frustrasi menunggu giliran.
Beberapa kendaraan mogok di tengah tanjakan karena kelelahan mesin akibat laju stop-and-go yang berkepanjangan. Polisi terus mengimbau cek kondisi kendaraan sebelum melintas, serta hindari jam sibuk pagi dan sore untuk meminimalisir dampak.
Baca Juga: Antisipasi Kekeringan, Pemkot Semarang Siapkan 1 Juta Liter Air Bersih untuk Warga
Hingga malam hari, situasi masih tegang dengan arus tersendat dari arah Semarang bawah menuju atas.
Pengendara yang biasa memanfaatkan Gombel Lama kini terbiasa dengan perubahan, tapi keluhan terus bermunculan melalui media sosial.
Meski bertujuan perbaikan, hari pertama justru mengekspos kelemahan pengalihan arus yang tak siap menampung volume kendaraan harian.
Pengendara berharap adaptasi cepat terjadi agar rutinitas perjalanan tak terus terganggu.
Editor : Anita Fitriani