DEMAK - Banjir yang menerjang Kabupaten Demak, Jawa Tengah, sejak Jumat (3/4/2026) pagi menyebabkan jumlah pengungsi terus bertambah hingga mencapai 2.839 jiwa hingga Sabtu (4/4/2026) pukul 09.00 WIB, menurut data Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Banjir terjadi setelah hujan berintensitas tinggi di wilayah hulu menaikkan debit air Sungai Tuntang hingga merusak dan menjebol beberapa tanggul di Dukuh Solowere dan Selodoko, sehingga air meluap ke permukiman warga di sejumlah desa dan kecamatan.
Luapan Sungai Tuntang merendam sebagian besar rumah penduduk dengan ketinggian air mencapai sekitar 1,5 meter di beberapa titik, sehingga warga memilih dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Data Pusdalops‑BNPB mencatat pengungsi tersebar di berbagai titik penampungan seperti masjid, balai desa, gedung sekolah, dan kantor kecamatan, di mana petugas BPBD setempat dan relawan terus mendata kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, obat‑obatan, dan perlengkapan tidur.
Pemerintah daerah dan instansi terkait juga melakukan penanganan darurat berupa pengisian dan penguatan tanggul dengan kantong pasir, serta menyiagakan perahu karet dan kendaraan amfibi untuk membantu evakuasi serta pendistribusian bantuan.
Sebaran wilayah terdampak meliputi sejumlah desa di beberapa kecamatan di Demak yang sebelumnya hanya tercatat beberapa desa, kini meluas menjadi enam desa dengan ketinggian air bervariasi hingga sekitar 80 sentimeter di beberapa permukiman.
Kondisi ini membuat aktivitas warga terganggu, termasuk akses ke sekolah, tempat ibadah, dan fasilitas kesehatan, sehingga tim medis dikerahkan ke posko pengungsian untuk memantau dan menangani gangguan kesehatan seperti diare, infeksi kulit, dan ISPA.
Pemerintah pusat dan daerah terus mengimbau masyarakat di sepanjang aliran Sungai Tuntang untuk tetap waspada karena curah hujan masih berpotensi tinggi dan status siaga banjir masih berlangsung.
Dengan jumlah pengungsi 2.839 jiwa, kebutuhan logistik dan penanganan jangka menengah menjadi fokus utama, termasuk penguatan koordinasi antara BPBD, TNI/Polri, PMI, serta lembaga kemanusiaan lain untuk memastikan tidak terjadi kekurangan pangan dan layanan kesehatan dasar.
Selain itu, pemerintah juga mulai mengkaji upaya pemulihan, seperti penilaian kerusakan infrastruktur, penanganan sanitasi lingkungan, dan program pemulihan aktivitas ekonomi warga setelah banjir surut.
Di tengah situasi darurat ini, pihak terkait mengajak masyarakat dan lembaga swadaya untuk ikut membantu dengan donasi terarah dan kegiatan relawan yang terkoordinasi, guna mempercepat pemulihan hidup warga yang terdampak banjir di Demak. (*)
Editor : Anita Fitriani