SOLO - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu kebijakan nasional untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah terus mendapat perhatian pemerintah daerah.
Di Kota Solo, pengawasan terhadap pelaksanaan program ini dilakukan langsung oleh Astrid Widayani setelah muncul sejumlah aduan dari masyarakat terkait kualitas makanan dan variasi menu.
Pada Kamis, 12 Maret 2026, Astrid bersama tim dari pemerintah kota meninjau langsung operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di dua lokasi dapur yang menjadi pusat produksi makanan program MBG.
Kedua fasilitas tersebut berada di wilayah Gandekan, Kecamatan Jebres, serta Karangasem, Kecamatan Laweyan, Kota Solo.
Kunjungan lapangan ini dilakukan sebagai bentuk respons cepat terhadap masukan warga yang disampaikan melalui media sosial dan pesan langsung kepada pemerintah daerah.
Menurut Astrid, pengawasan langsung diperlukan agar pemerintah tidak hanya menerima laporan administratif, tetapi juga memahami kondisi nyata di lapangan.
Baca Juga: 717 Dapur MBG di Indonesia Timur Terancam Disuspensi karena Belum Urus Sertifikat Sanitasi
Aduan Warga Jadi Dasar Pemerintah Bergerak
Program MBG di berbagai daerah memang terus mengalami penyesuaian sejak mulai berjalan secara luas. Salah satu aspek yang paling sering disorot masyarakat adalah variasi menu makanan yang diberikan kepada siswa.
Di Kota Solo, sejumlah orang tua siswa dan penerima manfaat menyampaikan masukan melalui media sosial terkait komposisi menu yang dianggap kurang bervariasi.
Aduan tersebut langsung ditindaklanjuti oleh pemerintah kota dengan melakukan monitoring lapangan.
Astrid menjelaskan bahwa pengawasan terhadap dapur MBG sebenarnya sudah dilakukan secara berkala.
Namun munculnya aduan masyarakat membuat pemerintah memutuskan untuk melakukan peninjauan lebih intensif.
“Ini merupakan tindak lanjut dari monitoring sebelumnya sekaligus respons terhadap masukan masyarakat. Kami ingin memastikan langsung bagaimana operasional dapur berjalan,” kata Astrid saat meninjau dapur SPPG.
Pemeriksaan Menyeluruh dari Bahan Hingga Distribusi
Selama kunjungan tersebut, Astrid dan tim melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh proses operasional dapur.
Pemantauan dimulai dari tahap awal penyiapan bahan makanan, kemudian proses pengolahan di dapur, hingga kesiapan distribusi makanan kepada para penerima manfaat.
Selain itu, pemerintah kota juga melakukan dialog langsung dengan pengelola dapur serta kepala SPPG untuk mengetahui berbagai aspek pengelolaan program.
Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut antara lain:
-
manajemen produksi makanan
-
perencanaan menu dan komposisi gizi
-
sistem pengelolaan anggaran
-
mekanisme distribusi makanan ke sekolah
Melalui dialog langsung dengan pengelola dapur, pemerintah berharap dapat memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program MBG.
Baca Juga: 208 SPPG MBG di DIY Dihentikan Sementara, Standar Sanitasi Jadi Sorotan
Tiga Pilar Utama Pengelolaan Dapur MBG
Dalam pemantauan tersebut, Astrid menegaskan bahwa operasional dapur MBG harus dikelola secara profesional dengan memperhatikan tiga komponen utama.
Menurutnya, keberhasilan dapur SPPG sangat bergantung pada keseimbangan antara:
-
Proses produksi makanan
-
Pengelolaan keuangan atau anggaran
-
Perencanaan menu dan komposisi gizi
Ketiga aspek tersebut harus berjalan selaras agar layanan makanan bergizi bagi siswa dapat terlaksana secara optimal.
“Kalau kita lihat dari sisi dapur SPPG, ada tiga komponen yang harus berjalan seimbang: produksi, pengelolaan keuangan, serta perencanaan menu dan gizi,” jelas Astrid.
Ia menambahkan bahwa ketidakseimbangan dalam salah satu aspek dapat berdampak pada kualitas layanan makanan yang diterima siswa.
Baca Juga: 1.512 SPPG yang Operasionalnya Dihentikan Sementara, Wajib Mengurus Sertifikat Laik Higiene Sanitasi
Variasi Menu Jadi Fokus Evaluasi
Dari hasil pemantauan sementara, pemerintah kota tidak menemukan persoalan serius dalam operasional dapur MBG di dua lokasi tersebut.
Namun demikian, beberapa catatan perbaikan tetap diberikan, khususnya terkait variasi menu makanan yang disajikan kepada siswa.
Astrid menilai bahwa variasi menu sangat penting untuk memastikan makanan yang disediakan tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga disukai oleh anak-anak.
Jika menu yang diberikan tidak menarik bagi siswa, ada risiko makanan tidak habis dikonsumsi dan akhirnya terbuang.
Karena itu, pemerintah mendorong pengelola dapur untuk lebih kreatif dalam merancang menu makanan.
“Yang penting bahan makanannya aman, pengolahannya baik, dan ada kombinasi protein hewani, protein nabati, serta buah. Variasi menu juga penting agar anak-anak mau makan,” kata Astrid.
Baca Juga: Aduan Menu MBG Lewat Instagram, Wakil Wali Kota Solo Sidak Dua Dapur SPPG
Pentingnya Menyesuaikan Selera Anak
Dalam program makan bergizi untuk siswa sekolah dasar, aspek selera makanan menjadi salah satu faktor penting.
Makanan yang terlalu monoton atau kurang menarik sering kali membuat siswa enggan menghabiskan porsi yang diberikan.
Padahal tujuan utama program MBG adalah memastikan anak-anak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan aktivitas belajar mereka.
Oleh karena itu, pemerintah daerah mendorong agar penyusunan menu tidak hanya mempertimbangkan nilai gizi, tetapi juga preferensi anak-anak.
Kombinasi bahan makanan yang tepat serta penyajian yang menarik dinilai dapat membantu meningkatkan minat siswa untuk mengonsumsi makanan yang disediakan.
Penyesuaian Menu Selama Ramadan
Selain meninjau kualitas makanan, pemerintah kota juga memberikan perhatian khusus terhadap distribusi makanan selama bulan Ramadan.
Beberapa penyesuaian perlu dilakukan agar program MBG tetap berjalan dengan baik tanpa mengganggu aktivitas ibadah siswa yang menjalankan puasa.
Pengelola dapur diminta untuk memperhatikan pengaturan porsi makanan, baik untuk siswa yang berpuasa maupun yang tidak.
Selain itu, waktu distribusi makanan juga perlu disesuaikan agar tetap efektif.
Penyesuaian ini dilakukan agar program MBG tetap memberikan manfaat optimal bagi seluruh penerima.
Baca Juga: SPPG Sidorejo Pamotan Digembok Pemilik Aset, Program MBG 1.790 Siswa Terhenti
Monitoring Akan Dilakukan Secara Berkala
Astrid menegaskan bahwa pengawasan terhadap dapur SPPG tidak akan berhenti pada kunjungan kali ini.
Pemerintah kota berencana melakukan monitoring secara berkala untuk memastikan seluruh proses operasional berjalan sesuai standar.
Langkah ini juga merupakan bagian dari upaya pencegahan terhadap potensi masalah yang mungkin muncul di kemudian hari.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah daerah di Jawa Tengah memang sempat menerima keluhan serupa terkait variasi menu dalam program MBG.
Karena itu, pemerintah daerah ingin memastikan potensi masalah dapat diantisipasi sejak dini.
“Kami ingin mengantisipasi sejak awal. Karena itu kami turun langsung melihat kondisi dapur dan memastikan proses produksi berjalan baik,” kata Astrid.
Program MBG dan Tantangan Implementasi
Program MBG merupakan salah satu kebijakan besar pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.
Program ini menyasar jutaan siswa di berbagai wilayah dengan menyediakan makanan bergizi secara rutin.
Namun implementasi program dalam skala besar tentu menghadapi berbagai tantangan.
Beberapa di antaranya meliputi:
-
pengelolaan dapur produksi
-
distribusi makanan ke sekolah
-
penyusunan menu bergizi
-
pengawasan kualitas makanan
Karena itu, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pengelola dapur menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini.
Kunjungan Astrid Widayani ke dapur SPPG di Kota Solo menunjukkan upaya pemerintah daerah dalam menjaga kualitas pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.
Meskipun tidak ditemukan persoalan serius dalam operasional dapur, evaluasi tetap dilakukan untuk meningkatkan variasi menu serta memastikan makanan yang diberikan benar-benar dikonsumsi oleh siswa.
Monitoring yang dilakukan secara berkala diharapkan dapat menjaga kualitas layanan gizi sekaligus memastikan program MBG berjalan efektif dan berkelanjutan.
Editor : Mahendra Aditya