DEMAK – Selain ikhtiar lahir dengan alat berat, penutupan tanggul jebol juga diwarnai dengan ikhtiar batin.
Yaitu, pelaksanaan doa selamatan di lokasi tanggul sungai Wulan, Demak.
Dalam prosesi selamatan ini, seekor wedus kendit atau kambing dengan warna bulu hitam dan putih di tengahnya itu dibuat "kurban" dalam penutupan tanggul.
Kambing yang disembelih tersebut satu ekor. Kulit kambing berwarna hitam dan tengahnya putih. Sehingga dinamakan wedus kendit.
Sementara informasi yang dihimpun kepala kambing dan kaki tersebut akan dipendam di atas tanggul.
Sedangkan dagingnya akan dibagikan kepada warga.
Warga sekitar Mbah Suripto mengatakan proses selamatan dengan penyembelihan kambing kendit ini bermula dari pekerja penambalan tanggul melihat sosok kakek berkaos oblong.
Operator tersebut bertemu kakek tersebut berada di tanggul.
”Kambing dari sumbangan donator, ada inisiatif keselamatan bersama masyarakat,” katanya.
Jenis kambing kendit tersebut dipilih, lantaran adanya percakapan antara kakek misterius dengan operator.
Hal itu bukan semata-mata permintaan operator alat berat.
Sementara penyembelihan dilakukan pada pukul 09.00 di atas lokasi tanggul yang jebol.
Pada prosesi tersebut, kepala dan kaki kambing di pendam di atas tanggul.
”Kalau mengerjakan sesuatu apapun harus dilakukan selamatan. Raketan ada bubur merah putih menyesuaikan adat istiadat setempat,” ungkapnya.
Wedus kendit tersebut ditanam di tengah tanggul dengan harapan prosesi penutupan tanggul dapat berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan secara gaib.
Sebelum ditanam di tanggul, wedus kendit terlebih dulu di sembelih oleh seorang kyai dari Kudus sesuai syariat Islam.
Wedus kendit tersebut diperlukan setelah sebelumnya viral di media sosial bahwa pengemudi alat berat backhoe yang bertugas menutup tanggul jebol sempat menemui kondisi yang janggal di lokasi.
Saat alat berat meninggikan tanggul kondisi tanggul terasa sudah kuat.
Namun, saat pengemudi turun, tanggul yang diinjaknya terasa ambles. Kakinya pun terasa seperti menginjak tubuh ular besar.
Selain itu, pengemudi alat berat ini juga sempat ditemui sosok orang tua saat hujan deras di sela pengerjaan penutupan tanggul.
Pria sepuh misterius tersebut sempat memberi wejangan pengemudi eskavator tersebut.
Di antaranya, memberitahukan agar ada wedus kendit saat penutupan tanggul.
Sosok itu juga memberitahukan bahwa di tanggul itu ada punden (makam tokoh desa).
Namun, selama ini warga setempat dianggap sudah tidak menghargai lagi dengan bersedekah bumi.
Sosok itu juga mengingatkan agar pengemudi eskavator itu segera meninggalkan lokasi karena tanggul akan jebol lagi.
Mendasarkan pengalaman itu, akhirnya penutupan tanggul dilaksanakan dengan penanaman wedus kendit di area tanggul beserta ubo rampenya.
Bupati Demak dr Eisti'anah mengatakan, ritual selamatan wedus kendit tersebut menjadi bagian dari ikhtiar batin dalam penutupan tanggul Sungai Wulan yang jebol.
"Sebetulnya, sisi mistis ini juga kami alami saat mau pasang mesin penyedot air di Desa Karangrejo terkait upaya pembuangan air yang membanjiri Kota Demak melalui Sungai Tuntang Kontrak,” ujarnya.
Menurutnya beberapa kali mesin mati dan sulit ditarik ke lokasi. Bahkan, mesin juga kecebur ke saluran.
Karena itu, kata bupati, kearifan lokal dengan adanya wedus kendit tersebut diharapkan bisa menguatkan dalam penutupan tanggul Sungai Wulan. (gal/hib/zen)
Editor : Ali Mustofa