Pembunuhan korban diduga terjadi pada Kamis dini hari (6/4). Korban diketahui baru persiapan memasak. Hal tersebut terlihat dari temuan sayur kol yang baru dipotong-potong. Sayangnya, saat kejadian, tetangga sama sekali tak mendengar suara teriakan dan lainnya.
“Saya posisi di rumah, terus saya dibel (telepon) sama Mas Warjo (warga) dan Pak Carik, itu sekitar pukul 06.56. Saya langsung datang ke lokasi. Posisi sudah banyak warga, pintu depan warung, samping dan belakang dapur sudah terbuka,” ungkap Kades Gubug Moh Hamid.
Dia menerangkan, mayat korban ditemukan kali pertama oleh warga setempat yang juga kakak ipar korban, Yati. Saat itu, saksi akan membeli gula ke warung korban.
Karena tak mendengar sahutan dari korban, Yati lantas masuk ke dalam rumah untuk mencari korban sekitar pukul 06.30. Tak disangka, korban sudah dalam keadaan tengkurap dengan bersimbah darah.
“Histeris, saksi histeris dan kaget. Langsung teriak. Ditemukan ya yang di sana tadi, di dapur, ada di ruang belakang itu tadi belum diubah-ubah. Dia langsung memanggil keluarga dan warga,” terangnya.
Hal itu pun langsung dilaporkan ke polsek setempat. Selama ini korban dikenal baik. Beberapa tahun belakangan korban menjual bubur dan kebutuhan dapur. Pelanggannya tak hanya dari Dusun Sidosari, tapi juga luar dusun.
Biasanya, korban sudah melakukan aktivitas berjualan sejak Subuh. Untuk memasak bubur dan nasi tumpang. Selama puasa pun tetap berjualan.
“Iya, tadi sudah ada persiapan-persiapan kelihatannya. Ada sayur kol yang sudah dipotong-potong berceceran. Tapi pas malam sampai dini hari itu, tetangga terdekat tidak mendengar teriakan atau apa pun. Makanya baru tahu pagi. Kalau indikasi perampokan, belum tahu. Tapi korban memang janda sudah lama, anaknya sudah nikah dan tinggal di Jakarta,” pungkasnya. (radarsolo.jawapos.com) Editor : Ali Mustofa