RADAR KUDUS - Dampak operasi militer Amerika Serikat dalam konflik melawan Iran ternyata tidak kecil.
Laporan resmi pertama Pentagon kepada Kongres mengungkap kerusakan besar pada fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk ratusan bangunan yang rusak atau hancur serta lebih dari 50 pesawat yang mengalami kerusakan maupun kehancuran.
Tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, operasi tersebut juga memberikan tekanan besar terhadap persediaan persenjataan Amerika Serikat.
Laporan terbaru menyebut penggunaan amunisi dalam jumlah besar telah menyebabkan “strategic-level ammunition inventory shortfalls”, atau kekurangan stok amunisi pada level strategis.
Temuan itu tercantum dalam laporan Office of Inspector General (OIG) Departemen Pertahanan AS yang diterbitkan pada 14 September.
Dokumen tersebut mencakup periode 1 April hingga 30 Juni dan menjadi salah satu pengungkapan resmi mengenai besarnya dampak operasi militer AS terhadap pangkalan serta fasilitas diplomatiknya selama konflik dengan Iran.
Operasi militer Amerika Serikat sendiri dimulai pada 28 Februari. Hingga 7 April, militer AS disebut telah melaksanakan sekitar 36.000 sorti tempur serta lebih dari 1.800 misi penembakan.
Operasi tersebut diarahkan untuk menghancurkan kemampuan produksi dan persenjataan rudal Iran, melemahkan kekuatan angkatan lautnya, serta menghambat upaya Teheran dalam memperoleh senjata nuklir.
Komandan U.S. Central Command (CENTCOM) Brad Cooper menyebut sekitar 13.500 target telah menjadi sasaran serangan selama operasi berlangsung.
Untuk mendukung misi tersebut, Amerika Serikat mengerahkan sekitar 50.000 personel militer ke kawasan Timur Tengah. Washington juga mempertahankan beberapa kelompok tempur kapal induk di wilayah tersebut.
Besarnya pengerahan personel dan alutsista menunjukkan bahwa operasi menghadapi Iran membutuhkan mobilisasi militer dalam skala sangat besar.
Kondisi tersebut pada akhirnya turut memberikan tekanan terhadap persediaan senjata dan kapasitas industri pertahanan AS.
Lebih dari 50 Pesawat Mengalami Kerusakan
Laporan OIG juga memberikan gambaran mengenai kerugian yang dialami aset militer Amerika Serikat.
Sedikitnya 50 pesawat dilaporkan rusak atau hancur. Aset yang terdampak mencakup empat jet tempur F-15, tujuh pesawat tanker KC-135, empat helikopter AH-6, serta sedikitnya 30 drone MQ-9 Reaper.
Dampak terhadap personel militer juga tercatat dalam laporan tersebut.
Sampai 30 Juni, sebanyak tujuh anggota militer AS dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 400 orang mengalami luka-luka. Empat kematian tambahan kemudian dilaporkan terjadi pada Juli.
Kerusakan akibat konflik juga menjangkau fasilitas diplomatik Amerika Serikat.
Sejumlah kedutaan dan konsulat di kawasan mengalami kerusakan dengan nilai kerugian yang diperkirakan mencapai USD 184 juta.
Situasi keamanan tersebut bahkan membuat sekitar 3.500 personel diplomatik harus dievakuasi kembali ke Amerika Serikat selama operasi berlangsung.
Biaya Operasi Capai USD 33,4 Miliar
Besarnya skala operasi juga tercermin dari biaya yang harus ditanggung pemerintah Amerika Serikat.
Departemen Pertahanan AS memperkirakan pengeluaran untuk operasi tersebut telah mencapai sekitar USD 33,4 miliar hingga 29 Juni.
Namun, jumlah tersebut belum memasukkan seluruh biaya yang diperlukan untuk memperbaiki pangkalan dan infrastruktur yang mengalami kerusakan.
Dengan demikian, total beban keuangan diperkirakan masih dapat meningkat.
Washington masih harus menghitung biaya perbaikan fasilitas militer, penggantian berbagai aset yang rusak atau hilang, hingga pengadaan kembali persenjataan yang telah digunakan.
Salah satu bagian paling penting dalam laporan tersebut berkaitan dengan kondisi persediaan amunisi Amerika Serikat.
Temuan dari organisasi yang menangani akuisisi dan pemeliharaan di Departemen Pertahanan menyebut operasi militer telah mengakibatkan kekurangan amunisi pada tingkat strategis.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya Presiden AS Donald Trump berulang kali membantah adanya persoalan kekurangan amunisi akibat operasi militer.
Ribuan Drone dan Rudal Dicegat
Dalam menghadapi serangan Iran, sistem pertahanan rudal Amerika Serikat bersama negara-negara mitranya di Timur Tengah dilaporkan telah mencegat lebih dari 6.000 drone kamikaze serta sekitar 1.500 rudal balistik.
Penggunaan senjata dalam jumlah besar tersebut turut menguras berbagai jenis persenjataan penting yang dimiliki AS, termasuk SM-3, Patriot PAC-3, THAAD, serta Joint Direct Attack Munition (JDAM).
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Washington bukan hanya mengenai jumlah senjata yang ditembakkan selama operasi, tetapi juga kemampuan untuk memproduksi dan mengganti kembali persenjataan tersebut dalam waktu singkat.
Pemulihan Stok Bisa Memakan Waktu Tiga Tahun
Laporan OIG memperingatkan bahwa keterbatasan kapasitas industri pertahanan Amerika Serikat berpotensi menjadi persoalan dalam jangka panjang.
Departemen Pertahanan AS memperkirakan sejumlah stok amunisi utama membutuhkan waktu setidaknya tiga tahun untuk kembali ke level sebelum operasi berlangsung.
Untuk mengatasi tekanan tersebut, pemerintah AS berencana meningkatkan kapasitas produksi persenjataan sekaligus memperkuat kerja sama dengan negara-negara sekutu.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsekuensi operasi militer terhadap kemampuan pertahanan AS tidak otomatis berakhir setelah pertempuran berhenti.
Kerusakan pangkalan, kehilangan pesawat, korban personel, biaya pemulihan, hingga berkurangnya persediaan amunisi menjadi pekerjaan lanjutan yang harus dihadapi Washington dan Pentagon.
Editor : Ali Mustofa