RADAR KUDUS – Pemerintah Iran kembali melontarkan pernyataan tegas terkait keberadaan dan aktivitas militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk.
Komandan Angkatan Darat Iran Jenderal Amir Hatami menyatakan bahwa AS tidak memiliki hak untuk melintas atau kembali menggunakan kawasan Selat Hormuz, Teluk Persia, maupun Teluk Oman seperti sebelumnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Hatami pada Minggu (16/8), sebagaimana diberitakan media penyiaran nasional Iran, IRIB.
Ia menyebut keberadaan pasukan AS di kawasan tersebut telah berakhir dan Iran tidak akan memberikan ruang bagi Washington untuk mengembalikan situasi seperti sebelum konflik.
Iran Tegaskan Pangkalan AS Tak Akan Kembali
Hatami mengatakan bahwa pasukan AS telah meninggalkan kawasan dan tidak lagi diperbolehkan memasuki sejumlah wilayah perairan strategis tersebut.
Menurutnya, semua pihak perlu memahami bahwa kondisi pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan tidak akan kembali seperti sebelumnya. Iran, kata Hatami, juga tidak akan membiarkan situasi lama terulang.
Pernyataan itu memperlihatkan sikap keras Teheran dalam menyikapi keberadaan militer AS di kawasan yang selama ini memiliki posisi strategis bagi perdagangan dan keamanan internasional.
Selat Hormuz Jadi Kartu Strategis Iran
Lebih jauh, Hatami menyebut Selat Hormuz sebagai salah satu aset geopolitik penting bagi Iran.
Jalur laut tersebut memiliki peran besar dalam distribusi minyak dunia sehingga setiap gangguan di kawasan itu berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap pasar energi global.
Menurut Hatami, kondisi Selat Hormuz tidak akan begitu saja dikembalikan pada situasi sebelumnya.
Bahkan, posisi strategis jalur tersebut disebut menjadi salah satu bagian penting dalam proses untuk mengakhiri konflik antara Iran dan AS.
Dengan kata lain, pengelolaan akses terhadap Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi posisi tawar Iran dalam pembicaraan terkait penghentian perang.
Sempat Muncul Kabar Iran dan Oman Sepakat Buka Hormuz
Di tengah pernyataan keras tersebut, sebelumnya muncul laporan mengenai kemungkinan adanya kesepakatan antara Iran dan Oman terkait pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran.
Media penyiaran Arab Saudi, Al-Hadath, melaporkan bahwa kedua negara disebut telah mencapai kesepakatan untuk membuka jalur tersebut secara penuh.
Namun, kabar itu masih menunggu persetujuan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Menurut laporan tersebut, kesepakatan itu berpotensi diumumkan secara resmi dalam beberapa hari berikutnya.
Situasi tersebut menunjukkan adanya perkembangan diplomatik yang berlangsung bersamaan dengan ketegangan militer di kawasan.
Sejumlah negara Timur Tengah diketahui turut berperan sebagai mediator dalam upaya mempertemukan kepentingan Washington dan Teheran.
Washington dan Teheran Masih Berupaya Cari Jalan Keluar
Dalam beberapa pekan terakhir, Amerika Serikat dan Iran disebut terus melakukan pembicaraan mengenai kemungkinan kesepakatan baru untuk mengakhiri konflik.
Upaya tersebut berlangsung dengan bantuan mediator dari negara-negara Timur Tengah.
Namun, proses negosiasi masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk menyangkut kondisi keamanan kawasan serta posisi masing-masing pihak.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan pada 9 Agustus bahwa Washington masih melakukan pembicaraan dengan Teheran, meski proses tersebut dinilai belum berjalan secara maksimal.
Pada saat yang sama, kondisi perekonomian Iran juga dilaporkan menghadapi tekanan.
Perkembangan terkait Selat Hormuz pun masih menjadi perhatian dunia. Selain menyangkut hubungan Iran dan AS, stabilitas jalur tersebut berkaitan erat dengan kelancaran perdagangan energi global.