Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Harga Minyak Dunia Melonjak 10% dalam Dua Hari, Krisis Selat Hormuz Kembali Guncang Pasar Global

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 14 Juli 2026 | 17:14 WIB
ilustrasi minyak
ilustrasi minyak

JAKARTA – Pasar energi global kembali diguncang lonjakan harga minyak setelah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah meningkat tajam. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz memicu kekhawatiran baru terhadap kelancaran distribusi minyak dunia, sehingga mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 10 persen hanya dalam dua hari perdagangan.

Berdasarkan data perdagangan hingga Selasa (14/7/2026) pagi, harga minyak Brent diperdagangkan di level US$84,19 per barel, naik sekitar 1,07 persen dibanding penutupan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,55 persen menjadi US$79,35 per barel.

Jika dibandingkan dengan posisi pada 10 Juli 2026, harga Brent telah melonjak sekitar 10,8 persen, sedangkan WTI mencatat kenaikan sekitar 11,1 persen. Kenaikan tersebut membawa kedua kontrak minyak ke level tertinggi dalam hampir satu bulan.

Selat Hormuz Kembali Menjadi Titik Panas Dunia

Lonjakan harga dipicu meningkatnya premi risiko geopolitik setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas di kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu memiliki peran yang sangat vital. Berbagai laporan lembaga energi internasional, termasuk U.S. Energy Information Administration (EIA), menyebut sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia atau sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz.

Karena itu, setiap ancaman terhadap keamanan jalur tersebut hampir selalu memicu lonjakan harga minyak global.

Blokade AS dan Respons Militer Iran Tingkatkan Ketegangan

Ketidakpastian pasar semakin meningkat setelah Amerika Serikat kembali menerapkan kebijakan pembatasan terhadap pelayaran Iran.

Presiden Donald Trump menyatakan Washington mengaktifkan kembali blokade terhadap aktivitas pelayaran Iran dan meminta negara-negara yang memperoleh perlindungan keamanan di Selat Hormuz turut menanggung biaya pengamanan kawasan tersebut.

Di sisi lain, Iran merespons dengan meningkatkan aktivitas militernya.

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan dua kapal tanker miliknya terkena serangan rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz, tepatnya di wilayah perairan Oman.

Insiden tersebut mengakibatkan seorang awak kapal asal India meninggal dunia, sementara delapan awak lainnya mengalami luka-luka.

Serangan terhadap kapal komersial tersebut semakin memperbesar kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada aspek diplomatik, tetapi mulai mengganggu jalur perdagangan internasional.

Operasi Militer Berlanjut di Iran

Ketegangan juga meningkat di daratan.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militernya terhadap Iran telah memasuki malam ketiga secara berturut-turut.

Sementara itu, sejumlah media Iran melaporkan terjadi beberapa ledakan di kawasan strategis, termasuk di Bandar Abbas, kota pelabuhan utama Iran yang berada di dekat Selat Hormuz, serta di Pulau Kish.

Bandar Abbas sendiri merupakan salah satu pusat logistik terpenting Iran untuk aktivitas perdagangan dan energi sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut langsung menjadi perhatian pelaku pasar internasional.

Risiko Pasokan Minyak Meningkat

Analis Kepala Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai eskalasi terbaru telah meningkatkan premi risiko pada perdagangan minyak dunia.

Menurutnya, kombinasi antara blokade Amerika Serikat dan respons militer Iran membuat arah pasokan minyak global menjadi semakin sulit diprediksi.

Meskipun hingga kini Selat Hormuz belum ditutup sepenuhnya, pasar tetap mengantisipasi kemungkinan terganggunya distribusi minyak apabila konflik terus memburuk.

Pelaku pasar energi umumnya akan memasukkan faktor risiko geopolitik ke dalam harga minyak, bahkan sebelum terjadi gangguan fisik terhadap pasokan.

Ancaman Baru dari Laut Merah

Ketidakpastian juga meluas ke kawasan Laut Merah.

Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan meluncurkan rudal ke arah Arab Saudi sebagai respons atas tuduhan serangan udara terhadap bandara yang mereka kuasai.

Apabila konflik tersebut berkembang dan mengganggu distribusi minyak Arab Saudi melalui Laut Merah, tekanan terhadap pasokan energi dunia diperkirakan akan semakin besar.

Manajer portofolio Gabelli Funds, Simon Wong, mengatakan gangguan pada jalur ekspor energi dari Timur Tengah dapat memperbesar volatilitas harga minyak dalam beberapa pekan mendatang.

Pasar Menunggu Data Cadangan Minyak Amerika Serikat

Selain perkembangan geopolitik, investor juga mencermati kondisi fundamental pasar energi.

Survei awal memperkirakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat mengalami penurunan pada pekan lalu, yang mengindikasikan permintaan masih relatif kuat.

Di sisi lain, stok bensin dan produk distilat diperkirakan mengalami peningkatan.

Pelaku pasar kini menunggu laporan resmi Energy Information Administration (EIA) yang akan memberikan gambaran terbaru mengenai keseimbangan antara produksi, konsumsi, dan persediaan minyak di Amerika Serikat sebagai konsumen energi terbesar dunia.

Data tersebut akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.

Dampaknya terhadap Ekonomi Global

Kenaikan harga minyak dunia berpotensi memberikan dampak luas terhadap perekonomian global.

Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, logistik, dan produksi di berbagai sektor industri. Kondisi ini berisiko memicu tekanan inflasi di banyak negara, termasuk negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

Selain itu, bank sentral di berbagai negara kemungkinan akan semakin berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga apabila lonjakan harga energi kembali mendorong inflasi.

Selama ketegangan di Selat Hormuz belum mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan tetap tinggi. Para analis menilai setiap perkembangan militer maupun diplomatik di kawasan Timur Tengah akan terus menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar energi global dalam waktu dekat.

Editor : Mahendra Aditya
Minyak Brent WTI harga minyak dunia selat hormuz konflik AS Iran