RADAR KUDUS – Tragedi gempa kembar yang mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) meninggalkan luka mendalam bagi negara tersebut.
Di tengah ribuan bangunan yang runtuh dan terus bertambahnya jumlah korban jiwa, sejumlah kisah penyelamatan berhasil menjadi secercah harapan bagi para keluarga korban maupun tim penyelamat yang masih bekerja tanpa henti.
Empat hari setelah dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang wilayah pesisir utara Venezuela, tim pencarian dan penyelamatan berhasil menemukan seorang ayah bersama putranya dalam keadaan hidup di bawah reruntuhan sebuah bangunan di Caradella, sekitar 40 kilometer dari ibu kota Caracas.
Berdasarkan laporan Reuters, proses evakuasi berlangsung selama sekitar 12 jam.
Tim penyelamat harus memotong lapisan beton sedikit demi sedikit menggunakan peralatan khusus agar struktur bangunan yang telah rapuh tidak kembali runtuh dan membahayakan korban maupun petugas.
Saat berhasil dievakuasi, keduanya mengalami dehidrasi berat akibat terjebak selama beberapa hari di ruang sempit tanpa akses makanan dan minuman. Mereka langsung mendapat penanganan medis sebelum dilarikan ke rumah sakit.
Keberhasilan tersebut disambut haru oleh keluarga korban dan warga yang sejak awal menunggu di sekitar lokasi pencarian.
Tepuk tangan dan tangis bahagia pecah ketika ayah dan anak itu akhirnya berhasil diangkat dari bawah puing-puing bangunan.
Ibu dan Bayi Selamat Setelah 32 Jam
Sehari sebelumnya, tim SAR juga berhasil menyelamatkan seorang ibu bersama bayi berusia sembilan bulan yang tertimbun reruntuhan bangunan di wilayah La Guaira.
Menurut Reuters dan BBC, keduanya ditemukan setelah petugas mendeteksi suara dari celah sempit di antara puing bangunan.
Dalam rekaman video yang disiarkan BBC, terlihat seorang petugas menggendong bayi tersebut keluar dari reruntuhan sebelum menyerahkannya kepada sang ayah yang telah menunggu dengan penuh kecemasan.
Tak lama berselang, sang ibu juga berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat meski mengalami kelelahan dan dehidrasi.
Keduanya segera dibawa menggunakan ambulans menuju rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
Masih dari laporan People yang mengutip tim penyelamat, seorang perempuan hamil juga berhasil ditemukan hidup di bawah reruntuhan.
Setelah dievakuasi, perempuan tersebut melahirkan bayinya dalam penanganan tenaga medis darurat. Ibu dan bayi dilaporkan berada dalam kondisi selamat.
Peluang Hidup Masih Terbuka
Hingga Senin (29/6/2026), Reuters melaporkan sebanyak 33 orang berhasil ditemukan hidup selama operasi pencarian berlangsung.
Meski jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan luas wilayah terdampak, keberhasilan itu menjadi penyemangat bagi ribuan personel penyelamat untuk terus melanjutkan pencarian.
Menurut para ahli kebencanaan, peluang menemukan korban hidup biasanya menurun drastis setelah 72 jam pertama.
Namun, korban masih dapat bertahan apabila terjebak di dalam survival void, yakni rongga kecil yang terbentuk ketika struktur bangunan roboh tetapi masih menyisakan ruang dengan sirkulasi udara.
Untuk menemukan ruang-ruang tersebut, tim SAR menggunakan berbagai teknologi seperti kamera serat optik, radar pendeteksi tanda kehidupan, mikrofon sensitif, hingga anjing pelacak.
Setelah titik korban dipastikan, proses evakuasi dilakukan secara manual menggunakan alat pemotong hidrolik dan bor berukuran kecil agar getaran tidak memicu runtuhnya bangunan.
Di sejumlah lokasi, penggunaan alat berat bahkan dihentikan sementara ketika alat pendeteksi menangkap suara ketukan atau respons dari bawah reruntuhan.
Seluruh mesin dimatikan agar petugas dapat mendengar sekecil apa pun tanda kehidupan.
Ribuan Personel Terus Mencari Korban
Reuters melaporkan lebih dari 2.600 personel pencarian dan penyelamatan dari Venezuela dan sejumlah negara lain masih disiagakan di berbagai wilayah terdampak.
Mereka membawa peralatan lengkap, mulai dari radar pencari korban, kamera pencitraan, alat pemotong beton, crane, hingga anjing pelacak.
Di sisi lain, keluarga korban tetap bertahan di sekitar lokasi bencana dengan harapan anggota keluarganya masih dapat ditemukan hidup.
Banyak warga bahkan ikut membantu membersihkan puing menggunakan tangan, sekop, maupun alat sederhana sebelum alat berat tiba.
Meski demikian, tidak semua operasi berakhir dengan kabar baik.
Banyak korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia sehingga tim medis dan relawan juga harus menangani proses identifikasi serta memberikan pendampingan kepada keluarga yang berduka.
Korban Tewas Tembus 1.450 Jiwa
Pemerintah Venezuela menyebut jumlah korban meninggal dunia hingga kini telah mencapai 1.450 orang dan diperkirakan masih akan terus bertambah karena proses pencarian masih berlangsung.
Selain menelan banyak korban jiwa, gempa tersebut juga menyebabkan sedikitnya 774 bangunan hancur di berbagai wilayah.
Menurut United States Geological Survey (USGS), bencana ini tergolong earthquake doublet, yaitu dua gempa besar yang terjadi hanya berselang sekitar 40 detik.
Guncangan pertama melemahkan struktur bangunan, sedangkan guncangan kedua membuat banyak bangunan roboh sepenuhnya sehingga memperbesar jumlah korban.
Pemerintah Venezuela memastikan operasi pencarian belum akan dihentikan selama masih ada kemungkinan menemukan korban selamat.
Sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Brasil, Kuba, Meksiko, dan Kolombia, juga telah menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa makanan, air bersih, obat-obatan, serta perlengkapan medis untuk membantu penanganan bencana.
Pelaksana Tugas Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, menegaskan keberhasilan menyelamatkan sejumlah korban hidup menjadi alasan utama operasi pencarian terus dilanjutkan.
"Hari ini, kami telah menyelamatkan orang-orang yang masih hidup. Oleh karena itu, upaya ini tidak akan dihentikan. Kami selalu berpegang pada harapan," ujar Rodríguez.
Editor : Ali Mustofa