RADAR KUDUS - Negosiasi tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss memasuki tahap yang semakin kompleks.
Yaitu setelah delegasi Iran memutuskan untuk meninggalkan ruang perundingan sebagai bentuk protes terhadap pernyataan keras yang disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Meski sempat terhenti, proses diplomatik itu diperkirakan tetap berlanjut sepanjang pekan ini dengan bantuan mediasi dari Qatar dan Pakistan.
Ketegangan meningkat setelah Trump melontarkan ancaman melalui media sosial dan wawancara televisi, termasuk kemungkinan aksi militer terhadap Iran serta pernyataan yang dianggap mengancam keselamatan tim perunding.
Situasi ini terjadi di tengah upaya kedua negara membahas sejumlah isu krusial, mulai dari sengketa Selat Hormuz, program nuklir sipil Iran, hingga konflik yang masih berlangsung di Lebanon.
Media pemerintah Iran menyebut bahwa perundingan telah memasuki “fase sulit” dan sempat dihentikan setelah munculnya apa yang mereka sebut sebagai “pesan menghina dari presiden Amerika Serikat”.
Setelah itu, delegasi Iran sempat bertemu mediator Qatar sebelum akhirnya meninggalkan lokasi pembicaraan.
Namun demikian, dialog tingkat tinggi dilaporkan masih berlanjut hingga dini hari, sementara sesi teknis dijadwalkan kembali digelar dalam beberapa hari ke depan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan apresiasi kepada Qatar dan Pakistan atas upaya menjaga jalur diplomasi tetap terbuka di tengah situasi yang sangat sensitif.
Ia menilai kedua mediator tersebut berhasil membantu mendorong sejumlah kemajuan penting.
Araghchi juga menegaskan bahwa mekanisme pencegahan konflik terkait Lebanon akan menjadi ujian awal dari kesepakatan yang telah dicapai kedua pihak.
Dalam pernyataan bersama, Qatar dan Pakistan menyampaikan bahwa Washington dan Teheran sepakat membentuk jalur komunikasi langsung untuk mencegah insiden di Selat Hormuz.
Selain itu, disepakati pula pembentukan pusat koordinasi dengan pemerintah Lebanon guna memastikan penghentian operasi militer dapat dipatuhi semua pihak.
Perundingan ini merupakan kelanjutan dari nota kesepahaman yang sebelumnya ditandatangani pekan lalu, yang bertujuan membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz serta menjadi dasar pembahasan lanjutan selama 60 hari terkait program nuklir sipil Iran.
Namun suasana yang semula konstruktif kembali memanas setelah Trump melontarkan ancaman baru yang dinilai bertentangan dengan semangat kesepakatan, termasuk klausul non-agresi dalam dokumen tersebut.
Ketua delegasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, merespons dengan nada keras dan menilai tekanan Washington tidak akan mempengaruhi posisi Teheran.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak menganggap serius ancaman yang disampaikan pihak AS.
Meski begitu, delegasi Iran tetap melakukan walkout dengan alasan tekanan politik domestik yang menuntut sikap lebih tegas terhadap pendekatan keras tim negosiator Amerika.
Di sisi lain, terdapat perbedaan pendekatan dalam kubu AS. Jika Trump mengambil sikap konfrontatif, Wakil Presiden JD Vance justru menyampaikan nada yang lebih terbuka.
Ia menyebut pihaknya ditugaskan untuk membuka lembaran baru dalam hubungan kedua negara.
Vance menegaskan bahwa Washington siap melakukan perubahan besar dalam hubungan bilateral jika Iran bersedia menghentikan aktivitas yang dianggap mengganggu stabilitas kawasan serta meninggalkan ambisi senjata nuklir jangka panjang.
Ketegangan juga dipicu situasi di Lebanon, di mana Iran disebut kembali memberlakukan pembatasan di Selat Hormuz sebagai bentuk protes terhadap serangan Israel yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Iran menuduh Amerika Serikat membiarkan pelanggaran tersebut.
Sementara itu, Trump kembali melontarkan ancaman keras melalui media sosial, termasuk desakan agar Iran menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok di Lebanon.
Dalam wawancara lain, ia bahkan menyebut kemungkinan langkah pengambilalihan Selat Hormuz jika situasi memburuk.
Pernyataan tersebut memicu protes resmi dari Teheran kepada mediator, karena dianggap membahayakan keselamatan delegasi dan mengganggu jalannya perundingan.
Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa hingga kini belum ada dampak signifikan terhadap lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut, meski Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama dunia karena perannya sebagai jalur vital perdagangan energi global.
Iran sendiri menegaskan bahwa fokus utama pembicaraan harus mencakup gencatan senjata di Lebanon, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan sanksi ekspor minyak, serta pelepasan aset yang masih dibekukan di luar negeri.
Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) turut memantau perkembangan, meski Iran menegaskan bahwa pembahasan inspeksi fasilitas nuklir akan ditunda sampai isu sanksi diselesaikan.
Dengan berbagai kepentingan yang saling bertabrakan, mulai dari keamanan regional, perdagangan energi global, hingga isu nuklir, hasil perundingan pekan ini diperkirakan akan sangat menentukan arah stabilitas geopolitik Timur Tengah ke depan.