RADAR KUDUS - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat hanya beberapa jam sebelum dimulainya perundingan tingkat tinggi di Swiss.
Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan peringatan keras kepada Teheran, namun situasi berbalik ketika kedua pihak justru berhasil mencapai kemajuan diplomatik berupa kesepakatan pembentukan mekanisme koordinasi untuk meredakan konflik di Lebanon.
Kesepakatan tersebut muncul dari perundingan yang dimediasi oleh Qatar dan Pakistan.
Dikutip dari Antara, Dalam hasil utama pembicaraan itu, Washington dan Teheran sepakat membentuk sebuah “de-confliction cell”, yakni tim koordinasi khusus yang juga melibatkan pemerintah Lebanon guna memastikan penghentian operasi militer di wilayah tersebut.
Langkah ini sekaligus membuka jalur diplomasi lanjutan selama 60 hari yang diarahkan untuk merumuskan kesepakatan permanen, dengan tujuan menurunkan eskalasi konflik yang melibatkan Iran serta meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah secara lebih luas.
Sebelum perundingan berlangsung, Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras terkait kelompok-kelompok yang didukung Iran di Lebanon.
Ia bahkan memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat meningkatkan aksi militer terhadap Iran jika kelompok pro-Teheran terus melakukan serangan.
Pernyataan itu langsung memicu respons dari pihak Iran dan menimbulkan kekhawatiran bahwa proses diplomasi bisa terganggu.
Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman tersebut.
“Mereka sebaiknya berhati-hati dengan ucapan mereka,” tulis Ghalibaf di platform X. Ia juga menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran siap memberikan respons yang berbeda jika diperlukan.
Meski sempat terjadi saling ancam, pembicaraan tetap berlanjut di Swiss.
Pertemuan sekitar 80 menit itu mempertemukan Wakil Presiden AS JD Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner dengan delegasi Iran yang dipimpin Ghalibaf serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Dari pertemuan tersebut, lahir kesepakatan pembentukan tim koordinasi yang bertugas mengawasi penghentian pertempuran di Lebanon.
Dalam pernyataan bersama, mediator Qatar dan Pakistan menyebut mekanisme itu dirancang untuk memastikan implementasi gencatan senjata serta mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut hasil ini sebagai kemajuan penting setelah berbulan-bulan meningkatnya ketegangan.
Namun, jalan menuju perdamaian masih panjang. Konflik di Lebanon tetap rumit karena Israel dan Hizbullah belum menjadi bagian dari kesepakatan yang dibahas dalam forum tersebut.
Israel menegaskan melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon selatan hingga ancaman dianggap benar-benar hilang, sementara Hezbollah menolak menghentikan serangan tanpa adanya penarikan militer Israel.
Situasi ini membuat efektivitas mekanisme koordinasi yang baru dibentuk masih harus diuji di lapangan.
Meski demikian, beberapa perkembangan positif mulai terlihat, termasuk bertahannya gencatan senjata sebelumnya dan keputusan militer Israel yang mulai melonggarkan pembatasan aktivitas warga di wilayah perbatasan Lebanon.
Selain isu Lebanon, pembahasan juga mencakup program nuklir Iran serta keamanan jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia. Amerika Serikat mendorong Iran untuk kembali melanjutkan negosiasi terkait program nuklirnya, sementara Teheran tetap mempertahankan hak pengayaan uranium.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan mundur dari posisi tersebut.
Di sisi lain, pembicaraan juga menyinggung mekanisme agar Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas internasional di tengah dinamika klaim penutupan jalur tersebut oleh Iran.