Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gelombang Protes Guncang Serbia, Gerakan Mahasiswa Tantang Kekuasaan Presiden Vučić

Mahendra Aditya Restiawan • Minggu, 24 Mei 2026 | 07:59 WIB
Ilustrasi demo
Ilustrasi demo

RADAR KUDUS - Gelombang demonstrasi besar kembali mengguncang Serbia setelah puluhan ribu warga turun ke jalan di ibu kota Beograd untuk menuntut perubahan politik dan pemilu dipercepat. 

Aksi yang berlangsung pada Sabtu, 24 Mei 2026 waktu setempat itu menjadi lanjutan dari gerakan antikorupsi yang telah berlangsung sejak tragedi runtuhnya kanopi stasiun kereta di Novi Sad pada November 2024.

Insiden runtuhnya kanopi tersebut menewaskan 16 orang dan memicu kemarahan publik terhadap pemerintah Presiden Aleksandar Vučić.

Banyak warga menilai tragedi itu terjadi akibat dugaan korupsi, lemahnya pengawasan pembangunan, serta buruknya tata kelola pemerintahan.

Sejak pagi hari, ribuan demonstran mulai memadati pusat Kota Beograd. Massa membawa bendera Serbia, atribut kampus, serta berbagai spanduk bernada kritik terhadap pemerintah.

Gerakan yang banyak dipimpin mahasiswa itu kembali menggema dengan slogan khas mereka, “Mahasiswa sedang menang”.

Aksi demonstrasi dipusatkan di Slavija Square, salah satu titik utama di Beograd.

Suasana sempat berlangsung damai dengan iringan drum, peluit, serta orasi dari para aktivis dan mahasiswa. 

Namun kondisi mulai memanas saat malam hari ketika sebagian massa mulai membubarkan diri.

Bentrokan akhirnya pecah antara aparat keamanan dan sejumlah demonstran bertopeng.

Berdasarkan laporan media internasional, beberapa orang melempar batu, botol, dan petasan ke arah polisi. 

Aparat kepolisian kemudian merespons dengan menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.

Kendaraan pasukan gendarmerie Serbia juga diterjunkan guna menghalau massa agar tidak mendekati gedung parlemen dan kantor kepresidenan.

Sejumlah peserta aksi dilaporkan diamankan setelah kericuhan terjadi.

Kantor kejaksaan Serbia menegaskan bahwa seluruh pelaku penyerangan terhadap aparat akan diproses secara hukum.

Pemerintah menyebut tindakan anarkistis tidak dapat dibenarkan meski demonstrasi merupakan hak warga negara.

Presiden Aleksandar Vučić turut memberikan tanggapan melalui media sosial. Dalam pernyataannya, ia menyebut kerusuhan yang terjadi sebagai sesuatu yang menyedihkan bagi Serbia.

“Adegan malam ini bukan hal yang baik untuk Serbia dan membuat sedih seluruh warga negara,” tulis Vučić melalui akun Instagram resminya.

Meski demikian, sebagian besar demonstrasi berlangsung damai dan terorganisasi.

Mahasiswa dengan rompi khusus tampak bertugas mengatur jalannya aksi, sementara sejumlah veteran perang dan kelompok pengendara motor ikut membantu menjaga keamanan massa.

Kepala Kepolisian Serbia, Dragan Vasiljevic, memperkirakan jumlah peserta aksi mencapai sekitar 34 ribu orang.

Namun sejumlah kelompok oposisi dan aktivis menilai angka sebenarnya jauh lebih besar.

Salah satu peserta aksi, Andjela, mahasiswa arsitektur berusia 24 tahun, mengatakan demonstrasi ini menjadi bukti bahwa gerakan masyarakat belum kehilangan semangat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa perjuangan ini belum selesai dan kami tidak akan berhenti,” ujarnya kepada AFP.

Aksi protes di Serbia sendiri telah berlangsung lebih dari satu tahun.

Pada Maret 2025, demonstrasi serupa bahkan disebut berhasil menarik hingga ratusan ribu orang ke jalanan Beograd, menjadikannya salah satu aksi terbesar dalam sejarah modern Serbia.

Tekanan terhadap pemerintah juga semakin besar setelah berbagai lembaga internasional menyoroti kondisi hak asasi manusia dan kebebasan sipil di Serbia.

Dewan Eropa sebelumnya memperingatkan adanya penyempitan ruang demokrasi, termasuk dugaan kekerasan terhadap aktivis dan jurnalis.

Para demonstran kini berharap tekanan publik dapat memaksa Presiden Vučić menggelar pemilu lebih awal.

Meski belum memberikan kepastian, Vučić sebelumnya sempat mengisyaratkan kemungkinan pemilu dini dilaksanakan pada musim gugur tahun ini.

Situasi politik Serbia kini menjadi perhatian internasional karena dinilai dapat memengaruhi stabilitas kawasan Balkan dan hubungan negara tersebut dengan Uni Eropa.

Editor : Mahendra Aditya
#demo serbia #presiden vucic #kerusuhan beograd #pemilu dini serbia #gerakan mahasiswa serbia