RADAR KUDUS – Kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke China dinilai banyak pengamat sebagai langkah politik untuk mencari pencapaian diplomatik di tengah meningkatnya tekanan domestik, terutama terkait konflik dengan Iran yang masih berlangsung.
Trump dijadwalkan melakukan perjalanan ke Beijing, China, pada Kamis (14/5/2026) hingga Jumat (15/5/2026), untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jinping.
Pertemuan tersebut dilaporkan akan difokuskan pada sejumlah agenda strategis, sebagaimana diberitakan Reuters, Selasa (12/5/2026).
Berbeda dengan sikapnya setahun sebelumnya yang penuh optimisme dalam menghadapi perang dagang.
Kali ini Trump disebut membawa pendekatan yang lebih realistis dan terukur dalam berhadapan dengan China sebagai rival utama ekonomi global.
Sejumlah isu ekonomi diperkirakan menjadi pembahasan utama, mulai dari komoditas pertanian seperti kedelai, produk daging sapi, pengadaan pesawat Boeing, hingga potensi keterlibatan China dalam membantu meredakan ketegangan konflik Iran.
Beberapa analis politik internasional menilai bahwa posisi negosiasi Trump saat ini tidak sekuat sebelumnya.
Salah satu akademisi kebijakan luar negeri China dari University of Hong Kong, Alejandro Reyes, menyebut bahwa kondisi hubungan kedua negara kini justru menunjukkan perubahan arah.
“Dalam situasi ini, Trump terlihat lebih membutuhkan China dibanding sebaliknya,” ujar Reyes.
Ia menambahkan bahwa kunjungan tersebut juga dapat dipahami sebagai upaya Trump untuk menunjukkan keberhasilan kebijakan luar negeri di tengah tekanan politik dalam negeri.
Selain isu perdagangan, konflik Iran menjadi salah satu agenda penting yang dibawa dalam pertemuan tersebut.
Survei menunjukkan lebih dari 60 persen masyarakat Amerika tidak mendukung keterlibatan AS dalam perang Iran, yang dinilai dipicu oleh kebijakan Trump sendiri.
Trump berharap China yang memiliki hubungan ekonomi kuat dengan Iran, terutama dalam sektor energi, dapat mendorong Teheran untuk kembali ke jalur diplomasi.
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh mantan pejabat keamanan nasional AS, Matt Pottinger, yang menilai Beijing memiliki kepentingan geopolitik tersendiri dalam konflik tersebut.
Di sisi lain, China diperkirakan akan menggunakan momentum ini untuk menekan Amerika Serikat terkait isu Taiwan.
Akademisi Universitas Fudan, Wu Xinbo, menegaskan bahwa Washington perlu memperjelas sikapnya terhadap isu sensitif tersebut.
Menurutnya, China ingin memastikan AS tidak mendukung langkah-langkah yang mengarah pada kemerdekaan Taiwan, sementara di saat yang sama Beijing terus memperkuat posisinya dalam rantai pasok global, termasuk kontrol ekspor mineral tanah jarang yang krusial bagi industri teknologi dan pertahanan Barat.
Sejumlah pengamat dari lembaga riset internasional menilai bahwa hasil pertemuan kemungkinan besar tidak akan menghasilkan terobosan besar, melainkan hanya kesepakatan sementara yang menjaga stabilitas hubungan kedua negara.
Scott Kennedy dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut bahwa hasil akhir pertemuan ini kemungkinan hanya berupa “gencatan senjata ekonomi” yang lebih menguntungkan pihak China dalam jangka pendek.
Bagi Trump, menjaga hubungan tetap stabil dengan China dinilai sudah cukup untuk dijadikan capaian politik menjelang agenda pemilu paruh waktu mendatang.
Selain isu ekonomi, ia juga dikabarkan akan membahas penjualan senjata ke Taiwan, kasus tahanan warga Amerika di China, serta persoalan kebebasan individu.
Dalam pernyataannya, Trump menyinggung hubungan panjang antara kedua negara.
“Selama bertahun-tahun kita dimanfaatkan oleh pemerintahan sebelumnya, tapi sekarang kita bekerja lebih baik dengan China,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Ia juga menyampaikan harapannya terhadap hubungan personal dengan Presiden Xi Jinping.
“Saya sangat menghormatinya, dan saya berharap dia juga menghormati saya,” tambahnya.
Editor : Ali Mustofa