Pertemuan Bersejarah Berakhir Tanpa Hasil, Dialog AS–Iran Masih Berlanjut

Ali Mustofa • Dipublikasikan Selasa, 14 April 2026 | 14:26 WIB
Delegasi tingkat tinggi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf (C) tiba di Islamabad, Pakistan, untuk negosiasi dengan Amerika Serikat, Sabtu (11/4/2026). (Xinhua)
Delegasi tingkat tinggi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf (C) tiba di Islamabad, Pakistan, untuk negosiasi dengan Amerika Serikat, Sabtu (11/4/2026). (Xinhua)

RADAR KUDUS – Upaya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di tengah meningkatnya ketegangan tampaknya tidak berhenti pada pertemuan perdana.

Proses diplomasi kedua negara diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

Mengutip laporan Al Jazeera yang bersumber dari Associated Press, putaran lanjutan perundingan antara Washington dan Teheran kemungkinan digelar pada Kamis (16/4).

Hal ini muncul setelah pertemuan awal belum menghasilkan kesepakatan konkret.

Dalam perundingan pertama, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan tim perundingnya meninggalkan Pakistan tanpa membawa hasil setelah menjalani pembicaraan selama 21 jam.

Pernyataan tersebut disampaikannya kepada wartawan pada Minggu (12/4).

Ia menegaskan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan menjadi kabar yang lebih merugikan Iran dibandingkan Amerika Serikat.

Vance juga menambahkan bahwa pihaknya telah menyampaikan dengan jelas batasan utama yang tidak bisa dinegosiasikan.

Menurutnya, Iran menolak sejumlah syarat yang diajukan Washington, termasuk komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir maupun teknologi yang memungkinkan percepatan pembuatannya.

Ia menekankan bahwa tujuan utama pemerintahan AS adalah memastikan komitmen tegas Iran dalam isu tersebut melalui jalur diplomasi.

Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, menilai tuntutan Amerika terlalu berlebihan sehingga menghambat tercapainya kesepakatan.

Meski demikian, pemerintah Iran sebelumnya menyampaikan melalui unggahan di platform X bahwa dialog akan tetap berlanjut, termasuk pertukaran dokumen teknis antara para ahli dari kedua pihak.

Pertemuan di Islamabad sendiri menjadi kontak langsung pertama antara AS dan Iran dalam lebih dari satu dekade, sekaligus dialog tingkat tinggi sejak Revolusi Islam 1979.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, menyerukan agar perundingan dilanjutkan secara konstruktif.

Ia menilai diskusi yang telah berlangsung menunjukkan keseriusan kedua pihak untuk kembali membuka jalur dialog, meskipun belum menghasilkan kesepakatan.

PBB menegaskan bahwa perbedaan mendasar antara kedua negara tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat.

Karena itu, negosiasi yang berkelanjutan dinilai menjadi langkah penting untuk mencapai solusi damai.

Organisasi dunia tersebut juga menekankan pentingnya menjaga gencatan senjata dan menghentikan semua pelanggaran yang terjadi.

Selain itu, semua pihak diminta menghormati kebebasan navigasi di Selat Hormuz sesuai hukum internasional.

Gangguan pada jalur pelayaran di kawasan itu disebut berdampak luas pada ekonomi global.

Ketidakstabilan perdagangan maritim memicu kerentanan ekonomi, mengganggu pasokan energi, transportasi, serta rantai distribusi global.

Tidak hanya itu, gangguan terhadap pupuk dan bahan bakunya turut memperburuk krisis pangan di berbagai negara.

Dampaknya terasa pada meningkatnya biaya hidup masyarakat di banyak wilayah dunia.

Editor : Ali Mustofa
negosiasi iran selat hormuz amerika serikat gencatan senjata