Perundingan AS–Iran Buntu, Selat Hormuz Jadi Batu Sandungan Utama

Ali Mustofa • Dipublikasikan Senin, 13 April 2026 | 10:50 WIB
Ilustrasi lalu lintas minyak di selat Hormuz (Generated by AI)
Ilustrasi lalu lintas minyak di selat Hormuz (Generated by AI)

RADAR KUDUS – Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran masih belum membuahkan hasil konkret.

Salah satu isu krusial yang memicu perbedaan tajam adalah status Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Wakil Presiden AS J.D. Vance menyampaikan bahwa dirinya kembali ke Washington tanpa membawa kesepakatan setelah memimpin delegasi AS dalam pertemuan tatap muka dengan Iran yang dimediasi Pakistan.

Pembicaraan bahkan berlanjut hingga hari kedua pada Minggu (12/4) di tengah kondisi gencatan senjata sementara yang dinilai semakin rapuh.

Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf.

Media Iran menilai perbedaan pandangan, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, menjadi hambatan utama dalam negosiasi.

Laporan CNN yang mengutip pejabat Iran menyebut status selat tersebut tidak akan berubah tanpa adanya “kerangka bersama” antara kedua negara.

Iran juga menilai tuntutan Washington terlalu berlebihan sehingga memperlambat proses perundingan.

Penutupan efektif jalur Selat Hormuz sebelumnya mengguncang pasar global dan memicu lonjakan harga energi.

Jalur sempit ini sangat vital karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas di sana, termasuk pengiriman minyak mentah, LNG, dan pupuk ke Asia serta kawasan lain.

Presiden AS Donald Trump mendesak Iran menjamin keamanan pelayaran kapal setelah kedua negara menyepakati gencatan senjata dua minggu.

Namun situasi tetap tegang karena Israel masih melanjutkan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran, yang menurut AS berada di luar cakupan kesepakatan.

Militer AS menyatakan dua kapal perusak Angkatan Laut telah melintasi Selat Hormuz untuk persiapan operasi pembersihan ranjau, meski klaim tersebut dibantah Iran.

Ranjau yang disebut dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran memicu kekhawatiran bahwa jalur pelayaran belum sepenuhnya aman.

Dalam perundingan, Vance didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Dari pihak Iran, hadir Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Iran berencana membatasi kapal yang melintas sekitar 12 unit per hari, dengan biaya hingga 2 juta dolar AS per kapal tanker raksasa.

Para pemilik kapal dari berbagai negara disebut sedang bernegosiasi dengan IRGC agar dapat melintasi jalur tersebut.

Sebelumnya, Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata dua pekan.

Yang kemudian diikuti pernyataan Araghchi mengenai rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak, produk petroleum, dan gas alam cair dunia.

Editor : Ali Mustofa
perdagangan energi minyak mentah pasar global selat hormuz perundingan