Mesir Kutuk Serangan Israel di Lebanon, Dinilai Picu Kekacauan Kawasan

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 9 April 2026 | 16:01 WIB
Tim penyelamat bekerja di lokasi serangan Israel, di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah, di Beirut, Lebanon, 5 April 2026. (ArabWeekly).
Tim penyelamat bekerja di lokasi serangan Israel, di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah, di Beirut, Lebanon, 5 April 2026. (ArabWeekly).

RADAR KUDUS – Pemerintah Mesir menyampaikan kecaman keras terhadap serangan udara Israel di Lebanon yang dinilai sebagai langkah baru yang berpotensi memperburuk situasi kawasan.

Dalam pernyataan resmi pada Rabu, Kementerian Luar Negeri Mesir menilai aksi tersebut mengancam upaya de-eskalasi internasional dan berisiko menyeret Timur Tengah ke dalam kekacauan yang lebih luas.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, korban jiwa akibat serangan tersebut mencapai 112 orang, sementara 837 lainnya mengalami luka-luka.

Situasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional yang belum sepenuhnya mereda.

Sementara itu, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Menurutnya, faktor kelompok Hizbullah menjadi alasan utama pengecualian tersebut.

Trump sebelumnya mengumumkan kesepakatan gencatan senjata bilateral selama dua pekan dengan Iran, yang juga mencakup komitmen pembukaan kembali Selat Hormuz.

Setelah pengumuman itu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan kesiapan Teheran untuk memulai perundingan lanjutan dengan Washington pada Jumat di Islamabad.

Di tengah perkembangan tersebut, sejumlah negara kawasan mulai melonggarkan pembatasan penerbangan.

Suriah, Irak, dan Bahrain mengumumkan pembukaan kembali wilayah udara mereka setelah sebelumnya ditutup sebagai langkah pencegahan akibat konflik regional.

Kepala Otoritas Umum Penerbangan Sipil Suriah, Omar Hosari, menyebut seluruh koridor udara kini kembali beroperasi normal.

Aktivitas di Bandara Internasional Damaskus juga telah pulih dengan jadwal penerbangan berjalan sesuai standar keselamatan internasional.

Langkah serupa dilakukan Irak dan Bahrain yang menegaskan komitmen menjaga keselamatan penerbangan sipil melalui koordinasi intensif dengan berbagai otoritas terkait.

Pembukaan wilayah udara ini menyusul penutupan beberapa pekan terakhir akibat meningkatnya risiko keamanan bagi penerbangan sipil.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari yang menewaskan lebih dari 1.400 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan Teluk yang menampung aset militer AS, sekaligus membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Editor : Ali Mustofa
serangan udara timur tengah lebanon Mesir Israel