RADAR KUDUS – Lantai dipenuhi puing, pot tanaman tertutup debu tebal, dan retakan panjang menganga di dinding hingga memperlihatkan bata yang tersingkap.
Di tengah sisa-sisa kehancuran itu, Alireza Zarei, Kepala Pusat Teknologi Informasi Universitas Teknologi Sharif di Teheran, tetap menjalankan aktivitas mengajarnya.
Pemandangan tersebut disaksikan jurnalis Xinhua sehari setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam kampus bergengsi itu.
Gedung Pusat Teknologi Informasi mengalami kerusakan berat, begitu pula substasiun gas yang berada dekat masjid kampus.
Sebagian area universitas kini nyaris rata dengan tanah.
Baja-baja melengkung, rangka bangunan terbuka, serta puing berserakan membuat suasana kampus menyerupai zona perang.
Meski demikian, atmosfer akademik belum benar-benar hilang.
Buku, dokumen, dan perangkat pembelajaran masih terlihat di antara reruntuhan, sementara para dosen tetap melanjutkan kuliah dengan tenang.
“Kami akan bergerak bersama menuju kemenangan besar dan membangun kembali negara ini,” ujar Zarei.
Serangan yang terus berlangsung membuat banyak mahasiswa tidak dapat hadir secara langsung.
Demi memastikan proses belajar tidak terhenti, Zarei menginisiasi kelas algoritma daring bagi mahasiswa pascasarjana, mengajar dari ruang kuliah yang kini telah berubah menjadi puing.
Presiden universitas, Masoud Tajrishi, mengaku harus berhenti beberapa kali saat mengajak wartawan meninjau lokasi, karena sulit mengenali bangunan yang dulu begitu familiar baginya.
Ia meminta kerusakan tersebut tidak dipandang sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai bukti kebencian musuh terhadap kemajuan teknologi Iran.
Tajrishi menambahkan bahwa banyak diaspora Iran telah menghubungi pihak kampus untuk menawarkan bantuan dana pemulihan.
Universitas Teknologi Sharif hanyalah salah satu target dari rangkaian serangan terbaru.
Menteri Ilmu Pengetahuan, Penelitian, dan Teknologi Iran, Hossein Simaei-Sarraf, menyebut lebih dari 30 universitas telah diserang sejak konflik memanas pada akhir Februari.
Serangan itu menewaskan lima profesor dan lebih dari 60 mahasiswa, yang ia sebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Saat rombongan meninjau area kampus, ledakan kembali terdengar di kejauhan, memicu kepanikan.
Proyektil yang berhasil dicegat terlihat melintas di langit.
Di depan bendera nasional yang masih berkibar di dekat podium yang hancur, Tajrishi menegaskan bahwa akademisi Iran akan merespons serangan tersebut melalui jalur ilmu pengetahuan, sebagaimana pihak lain merespons di medan perang.
Namun untuk saat ini, gambaran paling nyata justru sederhana: di ruang kelas yang rusak akibat bom, seorang dosen menyalakan laptopnya dan kembali memulai perkuliahan.
Editor : Ali Mustofa