RADAR KUDUS – Sinyal meredanya ketegangan muncul dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan negaranya siap menghentikan operasi militer apabila serangan terhadap Iran juga dihentikan.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya upaya diplomasi internasional untuk meredakan konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, serta sekutunya.
Melalui platform X, Araghchi menegaskan bahwa penghentian operasi militer Iran merupakan bagian dari langkah deeskalasi yang sedang diupayakan lewat jalur diplomasi.
Jalur Pelayaran Hormuz Dibuka Sementara
Sebagai sinyal konkret, Iran menjamin jalur pelayaran di Selat Hormuz akan dibuka selama dua pekan.
Pembukaan ini dilakukan melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran, dengan mempertimbangkan kondisi teknis di lapangan.
Langkah tersebut dinilai krusial karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak terpenting dunia yang sebelumnya sempat ditutup sebagai respons atas serangan militer.
Proposal Damai 10 Poin
Iran juga mendorong penyelesaian konflik melalui proposal perdamaian 10 poin yang kini menjadi dasar negosiasi.
Beberapa poin utama mencakup jaminan non-agresi terhadap Iran, pengakuan hak pengayaan uranium, pencabutan sanksi AS, penghentian resolusi PBB dan badan nuklir internasional, penarikan pasukan AS dari kawasan, pembayaran kompensasi perang, hingga gencatan senjata di seluruh front konflik.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan proposal tersebut akan menjadi kerangka pembicaraan, meski tidak semua detail dipublikasikan.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap Iran selama dua minggu.
Ia menilai proposal Iran sebagai dasar yang dapat dibahas, meski belum tentu disetujui sepenuhnya.
Penundaan ini membuka ruang diplomasi yang dinilai penting untuk mencegah eskalasi konflik lebih luas di Timur Tengah.
Gencatan Senjata dan Rencana Negosiasi
Iran kemudian menyepakati gencatan senjata dua pekan dengan AS dan Israel.
Perundingan damai dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, mulai Jumat (10/4) dengan mediasi pemerintah Pakistan.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan gencatan senjata berlaku segera di seluruh wilayah konflik, termasuk Lebanon.
Kesepakatan ini tak lepas dari syarat utama Washington, yakni pembukaan kembali Selat Hormuz.
Jalur vital tersebut menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga penutupannya sebelumnya memicu lonjakan harga energi global.
Meski demikian, Iran menegaskan tetap berhati-hati dan menyatakan akan merespons dengan tegas jika terjadi pelanggaran.
Dalam beberapa pekan ke depan, jalur diplomasi dipandang sebagai peluang penting untuk meredakan konflik yang telah meluas hingga Lebanon dan Yaman.
Jika negosiasi berhasil, ketegangan berpotensi menurun signifikan.
Namun, kegagalan perundingan masih membuka kemungkinan eskalasi militer kembali terjadi.