Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Selat Hormuz Tidak Tertutup, Melainkan Terfilter: IRGC Kendalikan Jalur Minyak Dunia dan Hukum Kepatuhan Sanksi AS

Ghina Nailal Husna • Minggu, 5 April 2026 | 21:17 WIB
Selat Hormuz Tidak Tertutup, Melainkan Terfilter
Selat Hormuz Tidak Tertutup, Melainkan Terfilter

 

RADAR KUDUS – Narasi mengenai penutupan total Selat Hormuz akibat konflik yang berkecamuk ternyata tidak sepenuhnya akurat.

 Data terbaru menunjukkan bahwa jalur perairan paling kritis di dunia tersebut tidaklah mati, melainkan telah berubah menjadi sebuah mekanisme "penyaringan" yang dikendalikan sepenuhnya oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.

Laporan dari TankerTrackers yang diverifikasi melalui citra satelit mengungkapkan fakta mengejutkan: sejak 1 Maret, sebanyak 108 kapal tanker telah meninggalkan selat tersebut.

Baca Juga: Eksplorasi Melankolis: Sehun 'EXO' Dobrak Citra Rapper Lewat Balada Emosional "Dear My Girl"

 Meski volume lalu lintas anjlok hingga 95 persen dibandingkan masa sebelum perang—dari 130 kapal per hari menjadi hanya sekitar tiga kapal—fokus utamanya bukanlah pada jumlahnya, melainkan pada siapa yang diizinkan melintas.

Data menunjukkan bahwa dari 108 tanker yang melintas, 78 di antaranya (sekitar 72 persen) adalah kapal-kapal yang dikenal sebagai pelanggar sanksi internasional.

Angka ini semakin mencolok pada kategori Very Large Crude Carriers (VLCC) atau kapal supertanker; dari 31 kapal yang melintas, 29 di antaranya adalah pelanggar sanksi.

Dalam sistem yang diterapkan IRGC saat ini, tatanan maritim internasional seolah dijungkirbalikkan.

 Kepatuhan terhadap sanksi Amerika Serikat justru menjadi hambatan, sementara pelanggaran sanksi diberikan karpet merah.

Armada legal yang patuh terhadap aturan internasional kini terkunci di luar, sementara "armada bayangan" berlayar dengan bebas.

Kapal-kapal yang melintas ini umumnya berlayar menuju Timur dengan transponder yang dimatikan.

 Mereka membawa minyak mentah Iran untuk kilang-kilang di Tiongkok dengan harga diskon, namun tetap memberikan keuntungan besar karena harga minyak dunia sendiri telah terkerek hingga US$ 140 per barel akibat konflik.

Prosedur pengamanan jalur ini dilaporkan menyerupai otoritas bea cukai berdaulat:

Penyaringan: IRGC memeriksa setiap dokumen kapal.

Pembayaran Tol: Biaya melintas dibayarkan dalam mata uang Yuan atau *stablecoin* (kripto).

Izin Melintas: Setelah kode kliring diterbitkan, kapal akan dikawal melalui koridor Larak.

Strategi ini membuat pendapatan ekspor minyak Iran tetap terjaga di angka 1,1 hingga 1,5 juta barel per hari.

Bahkan, pendapatan negara tersebut dilaporkan melonjak dua kali lipat karena setiap barelnya dijual dengan harga premium akibat kelangkaan yang diciptakan oleh perang.

Dari segelintir kapal yang dianggap "patuh sanksi" namun tetap diizinkan lewat—seperti pengangkut LPG dari India atau LNG dari Jepang—mereka hanya bisa melintas melalui negosiasi bilateral yang alot, seringkali dimediasi oleh Beijing.

Baca Juga: Janji Setia Sang Leader: S.COUPS Pastikan SEVENTEEN Bakal Kembali dengan Formasi OT13 Usai Jeda Konser

Ironisnya, proses "legal" ini pun tetap melibatkan pembayaran di luar sistem SWIFT dan tidak menggunakan dolar AS, sebuah langkah nyata menuju de-dolarisasi global.

Kondisi ini menandakan pergeseran kekuatan yang signifikan di Selat Hormuz. Amerika Serikat, yang selama puluhan tahun menjadi penjamin keamanan jalur ini, tampaknya telah kehilangan kendali atas "gerbang" utama energi dunia tersebut.

 Selat Hormuz kini berfungsi sebagai alat sortir yang menghargai negara atau entitas yang berani menentang rezim sanksi yang dibangun oleh Washington. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Armada Bayangan #sanksi energi #Geopolitik Minyak #irgc #selat hormuz