Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Malaysia Pangkas Kuota BBM Subsidi RON 95 Jadi 200 Liter per Bulan Mulai 1 April 2026

Anita Fitriani • Senin, 30 Maret 2026 | 18:44 WIB

 

 

Ilustrasi BBM (Foto: istock)
Ilustrasi BBM (Foto: istock)

RADAR KUDUS -  Malaysia memangkas  kuota bahan bakar minyak (BBM) subsidi untuk bensin RON 95 yang dikenal sebagaii Budi95, dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan terhitung mulai 1 April 2026. Keputusan ini diambil setelah pemerintah menemukan bahwa rata-rata penggunaan bensin RON 95 oleh masyarakat hanya sekitar 100 liter dalam sebulan, sehingga kuota baru tetap mencukupi kebutuhan banyak orang tetapi sekaligus mengurangi kemungkinan penyalahgunaan subsidi.

Pengumuman mengenai penyesuaian kuota ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, sebagai langkah strategis jangka pendek untuk mempertahankan stabilitas fiskal negara di tengah gejolak harga energi global serta potensi gangguan pasokan yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pengurangan kuota ini bersifat sementara dan akan dianalisis kembali seiring dengan pulihnya situasi pasar minyak internasional.

Salah satu alasan utama di balik kebijakan ini adalah temuan yang menunjukkan lebih dari 90 persen masyarakat Malaysia menggunakan bensin RON 95 kurang dari 200 liter per bulan, sehingga pengurangan kuota dari 300 ke 200 liter tidak akan secara signifikan mengganggu kehidupan sehari-hari kebanyakan orang.

Oleh karena itu, pemerintah berusaha memastikan bahwa subsidi ditujukan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan digunakan oleh sekelompok orang yang menyalahgunakannya.

Baca Juga: Krisis Energi Makin Nyata: Rusia Setop Ekspor Bensin Mulai 1 April 2026

Pengurangan kuota juga berkaitan dengan isu penyalahgunaan subsidi bensin RON 95 yang menjadi sorotan di media sosial, termasuk gambar antrean kendaraan pribadi yang mengisi bensin dalam jumlah besar atau mengambil keuntungan dari selisih harga antara bensin subsidi dan non-subsidi.

Di bawah skema Budi95, bensin RON 95 bersubsidi tetap dijual seharga 1,99 ringgit per liter (sekitar Rp 8.400 per liter), sedangkan harga RON 95 yang tidak subsidi mencapai 3,97 ringgit per liter, sehingga selisih harga tersebut menarik bagi praktik penyalahgunaan.

Untuk memastikan subsidi benar-benar sampai ke masyarakat Malaysia, pemerintah membatasi pembelian bensin bersubsidi RON 95 hanya untuk pemegang kartu identitas yang valid, sedangkan warga asing diminta untuk membeli bensin RON 95 dengan harga pasar non-subsidi.

Kebijakan ini juga memperkuat fiskal yang lebih selektif, dengan subsidi energi hanya diberikan kepada kelompok yang sesuai berdasarkan registrasi kependudukan.

Baca Juga: Jepang Perketat Naturalisasi: Syarat Tinggal Jadi Minimal 10 Tahun Mulai 1 April 2026

Dampak langsung dari pemotongan kuota diperkirakan tidak akan terlalu signifikan bagi sebagian besar rumah tangga, karena kebanyakan pengguna hanya menggunakan sekitar 100 liter per bulan, tetapi kelompok tertentu seperti pemilik usaha transportasi informal atau pengemudi yang sangat sering berkendara, akan merasakan dampak jika mereka melebihi kuota 200 liter.

Dalam waktu dekat, pemerintah juga memantau respons pasar dan masyarakat, sekaligus menyiapkan mekanisme komunikasi yang jelas untuk menghindari kebingungan atau kepanikan di kalangan warga atas perubahan kuota ini.

Langkah ini melihatkan upaya Malaysia untuk mereformasi subsidi energi ke arah yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkuat kesiapan mengatasi potensi krisis energi global.

Pemerintah berupaya menyeimbangkan perlindungan terhadap daya beli masyarakat dengan kehati-hatian dalam anggaran negara yang rentan terhadap perubahan harga minyak di pasar internasional.

Dengan begitu, pengurangan kuota BBM subsidi RON 95 menjadi 200 liter setiap bulan bukan hanya sebuah langkah teknis, tetapi juga sebuah tanda bahwa Malaysia mulai mengubah pendekatan subsidi energinya dari model yang lebih "general" menjadi model yang lebih spesifik, efisien, dan peka terhadap perubahan ekonomi global.

Kebijakan ini juga memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk memikirkan alternatif reformasi subsidi lainnya di masa mendatang, selaras dengan usaha mempertahankan stabilitas fiskal dalam jangka panjang. (An)

Editor : Anita Fitriani
#ron 95 pemerintah malaysia #pasar minyak #malaysia pangkas bbm #BBM #krisis BBM #krisis energi global #perdana menteri malaysia #bahan bakar minyak #harga bbm #kuota bbm #malaysia