RADAR KUDUS – Menghadapi ketidakpastian pasokan energi global yang kian meningkat, Pemerintah Korea Selatan secara resmi mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup hemat energi.
Dalam sebuah rapat kabinet strategis, Presiden Lee Jae Myung menegaskan bahwa langkah-langkah kecil di tingkat rumah tangga akan menjadi kunci pertahanan nasional dalam menghadapi potensi krisis listrik dan bahan bakar.
Pemerintah merilis serangkaian pedoman praktis yang diharapkan dapat menekan angka konsumsi listrik secara signifikan.
Salah satu poin yang menarik perhatian adalah ajakan bagi warga untuk mempersingkat waktu mandi.
Meskipun terdengar sederhana, pengurangan durasi mandi secara kolektif diyakini mampu mengurangi beban pemanasan air yang mengonsumsi energi besar.
Selain itu, masyarakat diminta untuk lebih bijak dalam mengelola perangkat elektronik, antara lain:
1. Optimalisasi Pengisian Daya: Mengurangi durasi pengisian daya ponsel dan memastikan perangkat dicabut segera setelah baterai penuh.
2. Manajemen Waktu: Mendorong pengisian daya kendaraan listrik (EV) dan perangkat elektronik lainnya pada siang hari guna memanfaatkan beban listrik yang lebih stabil.
3. Pembatasan Alat Berat: Mengimbau warga untuk hanya menggunakan peralatan rumah tangga berdaya besar, seperti mesin cuci dan penyedot debu (vacuum cleaner), pada akhir pekan.
Di sektor mobilitas, Presiden Lee Jae Myung menekankan pentingnya beralih dari kendaraan pribadi ke moda transportasi umum.
Langkah ini diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga menekan angka emisi karbon nasional di tengah situasi darurat energi.
Agar kebijakan ini berjalan efektif, lembaga-lembaga publik diperintahkan untuk menjadi teladan bagi masyarakat luas. Pemerintah telah menginstruksikan instansi negara untuk:
1. Sistem Kendaraan Dinas: Menerapkan regulasi ketat penggunaan mobil dinas selama lima hari kerja guna meminimalkan konsumsi BBM.
2. Audit Energi Internal: Membatasi penggunaan pendingin ruangan dan pencahayaan di gedung-gedung pemerintahan yang tidak mendesak.
Baca Juga: Aturan Baru PER-11/PJ/2025: SPT Jadi Instrumen Transparansi Total Keuangan Wajib Pajak
"Stabilitas pasokan energi dunia saat ini sedang berada dalam titik yang mengkhawatirkan. Kita perlu bergerak bersama, dimulai dari efisiensi di rumah masing-masing, demi menjaga ketahanan ekonomi nasional," ujar Presiden dalam pidato penutupnya.
Langkah preventif ini diambil menyusul fluktuasi harga energi di pasar internasional yang kian tak menentu, memaksa negara-negara industri maju seperti Korea Selatan untuk memperketat ikat pinggang dalam penggunaan sumber daya mereka. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna