3,2 Juta Warga Iran Mengungsi Akibat Perang AS–Israel Menurut DataUNHCR

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Jumat, 13 Maret 2026 | 15:53 WIB

Pemerintah Iran Bantah Rumor Mojtaba Khamenei
Pemerintah Iran Bantah Rumor Mojtaba Khamenei

RADAR KUDUS - Perang yang melibatkan Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel kini memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan.

Tidak hanya memicu korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, konflik ini juga menimbulkan krisis kemanusiaan besar dengan jutaan warga sipil kehilangan tempat tinggal.

Data terbaru dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) menunjukkan bahwa sekitar 3,2 juta warga Iran telah mengungsi di dalam negeri sejak konflik militer dimulai pada 28 Februari 2026. Angka tersebut diperkirakan masih dapat meningkat seiring berlanjutnya serangan udara dan operasi militer di berbagai kota besar.

Gelombang pengungsian besar ini menjadi salah satu dampak paling serius dari eskalasi konflik di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.

Eksodus Besar dari Kota-Kota Utama Iran

Sebagian besar warga yang mengungsi berasal dari kawasan perkotaan, termasuk ibu kota Teheran dan sejumlah kota industri penting di Iran.

Serangan udara yang intens memaksa warga meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di wilayah pedesaan atau provinsi yang dianggap lebih aman. Banyak keluarga bergerak ke wilayah utara Iran yang relatif jauh dari pusat serangan.

Laporan UNHCR memperkirakan sekitar 600 ribu hingga satu juta keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak perang dimulai.

Situasi ini memperlihatkan betapa cepatnya konflik berskala militer dapat memicu perpindahan penduduk secara masif dalam waktu singkat.

Serangan Infrastruktur Sipil Memperparah Krisis

Selain korban jiwa, perang ini juga menimbulkan kerusakan besar pada fasilitas sipil.

Badan kemanusiaan melaporkan ribuan bangunan rusak akibat serangan udara, termasuk:

Organisasi kemanusiaan di Iran bahkan mencatat sekitar 20.000 bangunan terdampak, termasuk lebih dari 16.000 unit rumah warga.

Kerusakan infrastruktur ini membuat banyak warga tidak lagi memiliki tempat tinggal layak sehingga terpaksa mengungsi.

Ribuan Korban Jiwa dan Luka

Selain pengungsi, jumlah korban jiwa juga meningkat secara signifikan.

Sejumlah laporan menyebut lebih dari 1.300 orang tewas dan ribuan lainnya terluka sejak konflik pecah pada akhir Februari.

Organisasi kesehatan internasional juga mencatat ratusan anak menjadi korban dalam konflik tersebut.

Serangan udara yang menyasar berbagai wilayah perkotaan membuat warga sipil berada dalam posisi yang sangat rentan.

Awal Konflik: Operasi Militer AS–Israel

Perang ini bermula dari operasi militer yang disebut Operation Lion’s Roar, yaitu serangan gabungan yang dilancarkan Israel dengan dukungan Amerika Serikat terhadap sejumlah target di Iran.

Operasi tersebut diluncurkan dengan alasan menghentikan program nuklir Iran yang dianggap berpotensi mengancam keamanan regional.

Namun serangan itu memicu balasan dari Iran, yang kemudian meluas menjadi konflik militer regional.

Sejak saat itu, berbagai wilayah di Timur Tengah ikut terdampak oleh eskalasi perang.

Konflik Meluas ke Negara-Negara Sekitar

Ketegangan tidak hanya terjadi di Iran.

Serangan balasan Iran serta operasi militer lanjutan memicu ketegangan di beberapa negara kawasan seperti:

Bahkan konflik ini telah menyeret berbagai aktor regional dan milisi sekutu sehingga memperbesar potensi perang kawasan.

Dampaknya bukan hanya militer, tetapi juga ekonomi global.

Harga energi dan minyak dunia sempat melonjak karena kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Krisis Kemanusiaan Mengancam Memburuk

Banyak organisasi bantuan memperingatkan bahwa situasi ini dapat berkembang menjadi krisis kemanusiaan besar jika konflik berlangsung lama.

Pengungsian jutaan warga akan menimbulkan berbagai masalah baru, seperti:

Selain itu, sistem bantuan kemanusiaan global juga menghadapi tekanan besar karena berbagai konflik lain yang terjadi di dunia.

Para pengamat menilai perang Iran dapat menjadi salah satu krisis pengungsi terbesar di kawasan Timur Tengah dalam dekade terakhir.

Tantangan Besar bagi Bantuan Internasional

Dengan jutaan warga kehilangan tempat tinggal, bantuan internasional menjadi sangat penting.

Namun kondisi keamanan yang tidak stabil menyulitkan distribusi bantuan.

Sejumlah organisasi kemanusiaan menyatakan akses menuju wilayah terdampak masih terbatas karena serangan udara dan situasi militer yang terus berubah.

Jika konflik tidak segera mereda, jumlah pengungsi diperkirakan akan terus bertambah.

Dampak Sosial dan Ekonomi Jangka Panjang

Selain krisis kemanusiaan, perang ini juga membawa dampak jangka panjang bagi masyarakat Iran.

Pengungsian besar-besaran dapat memicu:

Pemulihan dari konflik berskala besar biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun, terutama jika kerusakan infrastruktur sangat luas.

Dunia Internasional Mendesak De-eskalasi

Sejumlah negara dan organisasi internasional menyerukan penghentian kekerasan serta dialog diplomatik untuk mencegah konflik semakin meluas.

Banyak pihak khawatir bahwa eskalasi lebih lanjut dapat memicu perang regional yang lebih besar di Timur Tengah.

Jika hal tersebut terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat, tetapi juga oleh ekonomi dan stabilitas global.

Editor : Mahendra Aditya
pengungsi Iran perang Iran AS Israel konflik timur tengah Perang iran perang Iran 2026 Perang Iran Amerika konflik Timur Tengah 2026