RADAR KUDUS – Iran kini berada dalam situasi paradoks yang ganjil: dipimpin oleh seorang pria yang keberadaannya tak terlihat.
Sejak dinobatkan sebagai Pemimpin Tertinggi pada 8 Maret lalu, Mojtaba Khamenei belum sekalipun menampakkan diri.
Tidak ada foto terbaru, tidak ada rekaman video, bahkan tidak ada pernyataan resmi yang keluar langsung dari mulutnya.
Satu-satunya bukti visual yang dimiliki publik hanyalah sebuah potret resmi yang telah disiapkan sebelumnya. Di balik bingkai foto itu, terdapat kekosongan kekuasaan yang meresahkan dunia internasional.
Ketidakhadiran Mojtaba memicu gelombang spekulasi yang liar. Intelijen Israel menilai bahwa ia terluka dalam gelombang serangan udara pembuka yang melumpuhkan sebagian infrastruktur pertahanan Iran.
Media sosial kini dipenuhi klaim dari laporan Channel 12 Israel mengenai cedera parah, amputasi kaki, hingga kondisi koma di mana sang pemimpin disebut "tidak menyadari" penunjukannya sendiri.
Namun, penelusuran fakta menunjukkan gambaran yang lebih bernuansa:
- Sumber Primer: Laporan dari Times of Israel, Ynet, dan Haaretz hanya membatasi penilaian pada status "terluka namun selamat."
- Klarifikasi Istilah: Penggunaan kata "jaanbaz" oleh televisi pemerintah Iran sempat disalahartikan sebagai rujukan cedera baru. Faktanya, itu adalah gelar kehormatan standar atas jasanya dalam Perang Iran-Irak tahun 1980-an.
- Status Medis: Hingga saat ini, belum ada sumber resmi yang mampu mengonfirmasi apakah Mojtaba dalam kondisi sadar atau tidak.
Hal yang paling mengkhawatirkan bukanlah kondisi kesehatan Mojtaba, melainkan fakta bahwa mesin perang Iran tetap menderu tanpa komandonya.
Sebanyak 31 komando provinsi otonom IRGC (Garda Revolusi) yang mengendalikan operasi militer tidak melaporkan tindakan mereka kepada Mojtaba.
Mereka bergerak berdasarkan doktrin yang diaktifkan pada malam kematian ayahnya. Dalam sebelas hari terakhir, lebih dari 3.000 rudal dan drone telah diluncurkan tanpa satu pun perintah terkonfirmasi dari sang Pemimpin Tertinggi yang baru.
"Pemadaman informasi ini bukanlah kegagalan komunikasi, melainkan fitur dari sistem. Doktrin Mosaik dirancang untuk berfungsi tanpa kehadiran fisik seorang Pemimpin Tertinggi."
Jika Mojtaba sadar, doktrin itu berjalan. Jika ia koma atau bahkan sudah tewas namun disembunyikan, doktrin itu tetap berjalan.
Otoritas penembakan telah didelegasikan jauh sebelum bom pertama jatuh, membuat sosok pemimpin menjadi sekadar simbol dekoratif.
Ketidakpastian ini menciptakan ambiguitas permanen yang melumpuhkan diplomasi internasional. Dunia saat ini menghadapi jalan buntu karena tidak adanya lawan bicara yang nyata:
1. Diplomasi: Komunitas internasional membutuhkan pengambil keputusan untuk merundingkan gencatan senjata.
2. Militer: Pasukan di lapangan membutuhkan panglima untuk mengizinkan deeskalasi.
3. Ekonomi: Pasar reasuransi membutuhkan pihak lawan untuk merundingkan jalur pelayaran yang aman.
Sebuah foto tidak bisa bernegosiasi. Sebuah potret tidak bisa memerintahkan gencatan senjata. Saat ini, Iran diperintah oleh sebuah foto dan sebuah doktrin militer yang kaku.
Foto tersebut hanyalah hiasan, sementara doktrin tersebut sepenuhnya operasional. Tragisnya, tidak ada yang tahu pasti di mana posisi sang Pemimpin Tertinggi di antara keduanya. (*)
Editor : Mahendra Aditya