RADAR KUDUS – Ketegangan geopolitik di kawasan Asia Barat kembali meningkat setelah Angkatan Laut Garda Revolusi Iran mengeluarkan peringatan tegas kepada kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz pada 28 Februari lalu.
Dalam pesan radio yang disiarkan kepada sejumlah kapal, pihak militer Iran menyatakan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintas hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Peringatan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah serangan gabungan yang disebut dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel menargetkan Iran.
Sebagai respons, Teheran kembali mengangkat ancaman untuk menutup Selat Hormuz—sebuah jalur pelayaran sempit yang memiliki arti vital bagi perekonomian global.
Tak lama setelah peringatan itu disiarkan, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut dilaporkan melambat drastis.
Sejumlah kapal tanker memilih menjatuhkan jangkar atau mengubah rute pelayaran. Reaksi pasar pun terjadi secara instan.
Para pelaku perdagangan minyak mulai mengkhawatirkan potensi gangguan pasokan yang dapat mendorong lonjakan harga minyak mentah secara signifikan.
Secara geografis, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Pada titik tersempitnya, lebar selat ini hanya sekitar 33 kilometer, dengan jalur pelayaran efektif yang bahkan lebih sempit di masing-masing arah.
Meski terlihat kecil di peta dunia, hampir seperlima pasokan minyak global—sekitar 20 juta barel per hari—melewati jalur ini.
Negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Iran menyalurkan sebagian besar ekspor minyak mentah mereka melalui jalur ini.
Mayoritas pengiriman tersebut ditujukan ke negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan, yang secara kolektif menyerap hampir tiga perempat minyak yang melintasi selat tersebut.
Dengan ketergantungan sebesar itu, gangguan sekecil apa pun di Selat Hormuz dapat memicu gelombang kejut di pasar energi global.
Bahkan tanpa blokade resmi, ancaman saja sudah cukup menimbulkan kepanikan. Risiko yang dihadapi kapal meliputi serangan rudal, ranjau laut, gangguan sinyal, penahanan oleh angkatan laut, hingga lonjakan premi asuransi.
Analis memperkirakan bahwa aktivitas pelayaran telah menurun tajam, dengan lebih dari 150 kapal tanker minyak dan LNG dilaporkan menunggu atau mengalihkan rute.
Pasar kini mulai memperhitungkan berbagai skenario. Jika terjadi eskalasi terbatas, harga minyak dapat naik antara 5 hingga 10 dolar AS per barel.
Kerusakan langsung pada infrastruktur energi Iran bisa menambah kenaikan sekitar 10 dolar AS. Sementara gangguan serius di Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak melampaui 90 dolar AS per barel, bahkan menembus 100 dolar AS jika konflik meluas menjadi perang regional.
Iran sendiri memiliki cadangan energi yang sangat besar. Negara ini tercatat memiliki cadangan minyak terbukti terbesar keempat di dunia, sekitar 150 miliar barel, serta cadangan gas alam terbesar kedua secara global.
Meski kontribusi ekspor Iran terhadap pasokan global relatif kecil akibat sanksi internasional, letak geografisnya yang berada di sepanjang pantai selatan Selat Hormuz memberikan pengaruh strategis yang signifikan.
Namun, para analis menilai bahwa penutupan total selat kemungkinan menjadi opsi terakhir. Langkah tersebut juga akan menghentikan ekspor minyak Iran sendiri, sehingga berpotensi merugikan perekonomian domestiknya.
Dampak potensial ini menjadi perhatian khusus bagi India. Sebagai konsumen minyak mentah terbesar ketiga di dunia, India mengimpor sekitar 85–90 persen kebutuhan energinya.
Negara tersebut mengonsumsi sekitar 5,5 juta barel minyak per hari, dan hampir setengah impor minyak mentah serta lebih dari setengah impor LNG-nya melewati Selat Hormuz.
Gangguan pada jalur ini dapat memicu kenaikan biaya pengiriman, premi asuransi, harga bahan bakar, serta inflasi dan beban impor yang lebih besar.
Sebagai langkah diversifikasi, India mengembangkan pelabuhan Chabahar di Iran dan menandatangani perjanjian jangka panjang untuk mengoperasikan sebagian fasilitas tersebut.
Pelabuhan ini menjadi pintu masuk strategis menuju Iran, Afghanistan, dan Asia Tengah tanpa melalui Pakistan, serta terhubung dengan Koridor Transportasi Internasional Utara-Selatan yang menghubungkan India ke Rusia dan Eropa.
Meski demikian, Chabahar tidak dapat menggantikan peran Selat Hormuz dalam pengiriman minyak skala besar. Mayoritas ekspor minyak Teluk tetap bergantung pada jalur sempit tersebut.
Dengan meningkatnya ketegangan di Asia Barat, perhatian pasar energi global kini tertuju pada satu titik krusial: Selat Hormuz.
Dalam beberapa hari atau pekan ke depan, dinamika di jalur ini berpotensi menentukan arah harga minyak dunia serta stabilitas ekonomi global sepanjang 2026. (*)
Editor : Mahendra Aditya