RADAR KUDUS - Pemerintah Republik Islam Iran akhirnya memecah keheningan terkait gelombang demonstrasi yang mengguncang sejumlah kota sejak akhir Desember 2025.
Melalui pernyataan resmi Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Teheran menegaskan satu narasi kunci: aksi tersebut bermula dari protes ekonomi yang sah dan damai, namun berubah arah setelah disusupi kepentingan asing dan elemen kekerasan terorganisir.
Pernyataan ini menjadi penting di tengah derasnya pemberitaan internasional yang kerap memotret situasi Iran dalam bingkai kerusuhan semata.
Iran, melalui jalur diplomatiknya, berupaya meluruskan persepsi global—bahwa tidak semua yang turun ke jalan adalah perusuh, dan tidak semua kekacauan lahir dari kehendak rakyat.
Baca Juga: Tarif Trump 25 Persen Jadi Senjata Baru Tekan Mitra Iran
Akar Protes: Kurs, Daya Beli, dan Nafas Ekonomi
Menurut Kedubes Iran, unjuk rasa yang meletus pada 28 Desember 2025 di Teheran dipicu oleh tekanan ekonomi, khususnya fluktuasi nilai tukar mata uang nasional yang memukul aktivitas usaha dan daya beli masyarakat.
Aksi ini diinisiasi oleh serikat pekerja, pelaku pasar, serta kelompok ekonomi menengah yang terdampak langsung oleh gejolak kurs.
Tuntutan mereka sederhana namun mendesak: stabilisasi pasar, perlindungan usaha kecil, dan langkah konkret pemerintah meredam inflasi biaya hidup.
Dalam fase awal, demonstrasi berlangsung terbuka, tertib, dan tanpa kekerasan—sebuah bentuk ekspresi publik yang, menurut Iran, dilindungi konstitusi negara tersebut.
“Iran mengakui dan menjamin hak warganya untuk menyampaikan aspirasi secara damai,” tegas pernyataan resmi Kedubes, seraya merujuk pada komitmen Iran terhadap standar internasional, termasuk Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR).
Dari Aksi Damai ke Kekerasan Terorganisir
Namun, narasi berubah ketika demonstrasi tersebut—menurut klaim Iran—mulai ditunggangi oleh kelompok kecil yang membawa agenda berbeda.
Elemen ini disebut menyusup ke dalam kerumunan, memprovokasi bentrokan, dan melakukan aksi yang sama sekali tidak berkaitan dengan tuntutan ekonomi.
Dokumentasi yang diklaim dimiliki otoritas Iran menunjukkan adanya perusakan fasilitas publik, serangan terhadap aparat, pembakaran, hingga penggunaan senjata api. Iran menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak memiliki legitimasi hukum maupun moral sebagai bentuk protes sipil.
Dalam konteks ini, Teheran menarik garis tegas antara demonstran damai dan pelaku kekerasan.
“Tidak ada tindakan represif terhadap pengunjuk rasa damai,” klaim Iran, sembari menyebut bahwa langkah aparat difokuskan pada pemulihan keamanan publik.
Tuduhan Langsung ke Washington dan Tel Aviv
Yang membuat pernyataan Iran semakin tajam adalah penunjukan aktor eksternal sebagai katalis kekacauan. Amerika Serikat dan rezim Zionis disebut secara eksplisit sebagai pihak yang dinilai memberi dukungan moral, politik, bahkan provokasi terbuka terhadap eskalasi kerusuhan.
Iran menilai pernyataan sejumlah pejabat AS dan dukungan terbuka dari Perdana Menteri Israel sebagai bentuk intervensi terang-terangan yang melanggar prinsip kedaulatan negara dan Piagam PBB.
Tuduhan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dikaitkan dengan sejarah panjang ketegangan geopolitik, sanksi ekonomi, dan konflik regional.
Menurut Iran, dukungan eksternal tersebut telah memperkuat aksi kekerasan, menciptakan perang psikologis, dan memperbesar korban sipil—baik dari kalangan masyarakat maupun aparat keamanan.
Sanksi, Tekanan, dan Lingkaran Krisis
Dalam penjelasannya, Iran kembali menyoroti peran sanksi sepihak Amerika Serikat sebagai faktor struktural yang memperparah tekanan ekonomi domestik.
Sanksi ini, menurut Teheran, bukan hanya kebijakan luar negeri, melainkan instrumen yang secara langsung memukul kehidupan rakyat.
“Eksploitasi penderitaan ekonomi rakyat Iran untuk tujuan politik atau ancaman militer adalah pelanggaran terhadap integritas negara,” tulis Kedubes Iran.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pesan bahwa krisis ekonomi dan protes sosial tidak bisa dilepaskan dari dinamika global yang menekan Iran selama bertahun-tahun.
Langkah Internal: Meredam Api, Merawat Luka
Di sisi kebijakan domestik, Iran mengklaim telah menyiapkan langkah-langkah konkret.
Pemerintah disebut menggelontorkan paket bantuan darurat bagi kelompok rentan, membuka ruang dialog dengan serikat pekerja dan pelaku pasar, serta menyusun agenda reformasi ekonomi jangka menengah.
Pendekatan aparat keamanan, menurut Iran, dijalankan dengan prinsip proporsionalitas dan urgensi. Namun, Teheran juga mengakui adanya korban jiwa—baik warga sipil maupun petugas—yang jatuh akibat aksi kekerasan kelompok yang disebut sebagai “teroris bayaran”.
Diplomasi ke Asia Tenggara
Menutup pernyataannya, Iran menegaskan komitmen menjaga hubungan persahabatan dengan Indonesia.
Teheran memandang dialog, saling menghormati, dan kerja sama internasional sebagai kunci menjaga stabilitas global di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas.
Pesan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Iran tidak hanya berbicara ke dalam negeri, tetapi juga sedang berperang di ruang opini internasional—memperebutkan narasi tentang siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas gejolak di dalam negerinya.
Editor : Mahendra Aditya