RADAR KUDUS - Dunia kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam ilmu pengetahuan dan pelestarian alam.
Dame Jane Goodall, perempuan yang mengubah cara pandang manusia terhadap simpanse dan konservasi hutan, meninggal pada usia 91 tahun di California.
Pihak Jane Goodall Institute menyebut penyebabnya adalah faktor usia, saat ia sedang berada di Amerika Serikat untuk tur ceramah.
Selama lebih dari enam dekade, Goodall dikenal sebagai pionir dalam penelitian perilaku simpanse.
Ia membuktikan bahwa kera besar bukan sekadar satwa liar, melainkan makhluk dengan kecerdasan, ikatan sosial, dan emosi yang rumit.
Temuan awalnya di Tanzania pada 1960 — ketika ia melihat seekor simpanse jantan bernama David Greybeard menggunakan ranting untuk mencari rayap — mengguncang teori ilmiah yang sebelumnya meyakini hanya manusia yang mampu memakai alat.
Sejak saat itu, karya-karyanya merevolusi studi primata. Ia menulis hasil penelitiannya di jurnal ilmiah bergengsi, tampil di film dokumenter, hingga menghiasi sampul National Geographic.
Metode pendekatannya yang penuh kedekatan emosional dengan hewan sempat menuai kritik dari ilmuwan lain, tetapi justru membuka cara pandang baru dalam memahami satwa.
Kecintaannya pada hewan sudah tumbuh sejak kecil, ketika ia gemar membaca Tarzan dan Doctor Dolittle.
Perjumpaannya dengan ahli antropologi Louis Leakey di Kenya menjadi titik balik yang membawanya masuk ke dunia riset lapangan, meski kala itu ia belum memiliki latar pendidikan formal di bidang sains.
Di luar riset, Goodall juga menjadi aktivis global. Ia memperjuangkan hak simpanse dari kurungan kebun binatang dan laboratorium, lalu meluaskan suaranya ke isu krisis iklim dan kerusakan lingkungan. “Kita tengah berada di era kepunahan massal keenam. Segala upaya untuk menyelamatkan hutan dan menghidupkan kembali alam sangat berarti,” katanya dalam wawancara BBC tahun 2024.
Warisan Goodall tidak hanya berupa catatan ilmiah, tetapi juga gerakan global. Melalui Jane Goodall Institute yang ia dirikan pada 1977, ia mendorong program perlindungan satwa, restorasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan.
Sepanjang hidupnya, Goodall meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk gelar Dame Commander dari Kerajaan Inggris (2003) dan Presidential Medal of Freedom dari Amerika Serikat (2025).
Meski sering berpindah tempat dan hampir tak pernah tinggal lama di satu lokasi, ia tetap aktif berbicara di hadapan publik hingga akhir hayat. Hanya sepekan sebelum berpulang, ia masih tampil dalam wawancara di New York.
Berbagai tokoh dunia menyampaikan duka mendalam. Pangeran Harry dan Meghan Markle menyebutnya sebagai “sahabat bagi bumi,” sementara Leonardo DiCaprio menyebutnya “pahlawan planet yang menginspirasi jutaan orang untuk peduli dan bertindak.” Greenpeace, PBB, hingga banyak organisasi lingkungan juga memberikan penghormatan atas warisan besarnya.
Jane Goodall meninggalkan lebih dari sekadar penelitian; ia mewariskan semangat, gerakan, dan harapan bahwa manusia masih bisa hidup berdampingan dengan alam.