Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Profil Kardinal Peter Erdo, Kandidat Penerus Paus Fransiskus Asal Hungaria

Zakarias Fariury • Selasa, 22 April 2025 | 17:00 WIB
Peter Erdo
Peter Erdo

RADAR KUDUS - Wafatnya Paus Fransiskus pada Senin, 21 April 2025, telah menandai berakhirnya sebuah babak penting dalam sejarah Gereja Katolik modern.

Sang paus asal Argentina, yang dikenal sebagai sosok progresif dan pembaru, meninggalkan warisan reformasi yang luas dan penuh tantangan untuk dilanjutkan.

Kini, perhatian dunia tertuju pada siapa yang akan terpilih sebagai pemimpin baru Gereja Katolik, saat konklaf mendatang di Vatikan akan menentukan arah masa depan bagi lebih dari satu miliar umat Katolik.

Sejumlah nama mulai mencuat sebagai kandidat kuat penerus Takhta Suci, baik dari kalangan progresif maupun konservatif.

Salah satu figur yang mengemuka dari kubu konservatif adalah Kardinal Peter Erdo, Uskup Agung Esztergom-Budapest asal Hungaria.

Sosoknya dikenal luas sebagai pakar hukum kanonik dan menjadi tokoh yang dinilai mampu mengembalikan Gereja kepada akar ortodoksi dan stabilitas doktrinal.

Konservatif yang Pragmatis dan Diplomatis

Berusia 72 tahun, Kardinal Erdo telah lama dikenal di kalangan Gereja Eropa sebagai figur intelektual yang menguasai hukum Gereja.

Ia diangkat menjadi kardinal dan Uskup Agung Budapest sejak tahun 2003.

Dan namanya menonjol dalam kancah internasional saat memimpin Council of Bishops' Conferences of Europe (CCEE) selama satu dekade, dari 2006 hingga 2016.

 

Baca Juga: Mengenal Kardinal Pietro Parolin, Salah Satu Kandidat Penerus Paus Fransiskus

Meski membawa pandangan konservatif, Erdo dinilai cukup pragmatis dan tidak konfrontatif terhadap kebijakan-kebijakan Paus Fransiskus.

Ia dikenal berhati-hati dalam pernyataan publik dan kerap memilih jalur diplomasi dalam menyuarakan pandangannya.

Edward Pentin, seorang pengamat Vatikan, menyebut Erdo sebagai kandidat yang “aman dan dapat dipercaya” serta menawarkan ketenangan pasca masa reformasi cepat di bawah Paus Fransiskus.

Namun demikian, Erdo pernah menuai sorotan saat menanggapi krisis pengungsi pada 2015.

Ketika itu, ia menyatakan bahwa membuka gereja bagi para pengungsi bisa dianggap sebagai bentuk perdagangan manusia—pernyataan yang sejalan dengan pendekatan keras pemerintah nasionalis Hungaria di bawah Perdana Menteri Viktor Orbán.

Kritikus Terselubung terhadap Arah Baru Vatikan

Hubungan Erdo dengan pemerintah Hungaria—khususnya partai Fidesz yang kembali berkuasa sejak 2010—kerap digambarkan dekat meski rumit.

Di kalangan umat Katolik konservatif internasional, ia tetap menjadi sosok yang dihormati karena ketegasannya dalam mempertahankan ajaran Gereja.

Peran penting Erdo dalam Sinode Keluarga 2014–2015 menegaskan posisinya sebagai penjaga ajaran tradisional.

Dalam sinode tersebut, ia menolak perubahan radikal terhadap pendekatan Gereja terhadap umat yang bercerai maupun kelompok LGBT.

Meskipun tak berhasil sepenuhnya menghentikan reformasi, sikapnya mendapat simpati dari kalangan konservatif di Afrika dan Amerika.

Baru-baru ini, Erdo juga memberikan tanggapan kritis terhadap dekrit Fiducia Supplicans yang diterbitkan Vatikan pada Desember 2023—yang mengizinkan imam memberkati pasangan sesama jenis secara informal.

Dalam misa malam Natal di Basilika Santo Stefanus, Budapest, ia menyampaikan bahwa menjadi Kristiani berarti “tidak hanya mengikuti filsafat filantropi yang saleh dan berubah-ubah sesuai tren setiap dekade.”

Ia menegaskan bahwa “ajaran, kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus adalah standar yang abadi.” Pernyataan itu secara luas dipandang sebagai kritik halus terhadap kebijakan Vatikan tersebut.

Baca Juga: Mengenal 4 Kandidat Kuat Penerus Paus Fransiskus, Ada Yang Dari Asia. Siapa Saja?

Kekuatan Penyeimbang di Tengah Polarisasi Gereja

Meski berpandangan konservatif, Erdo tidak tergolong dalam barisan tradisionalis ekstrem yang kerap berkonfrontasi dengan Vatikan.

Zoltan Laky, jurnalis Katolik dari media Valasz Online, menyebut Erdo sebagai sosok yang bisa menjembatani kubu konservatif dan progresif moderat.

“Ia konservatif, tapi bukan reaksioner. Pendekatannya lebih diplomatis dan pragmatis,” ujarnya.

Dengan ketokohan yang kuat, rekam jejak yang mapan, serta kepribadian yang cenderung meredam ketegangan, Erdo dinilai sebagai kandidat kompromi yang dapat memberikan masa transisi yang stabil bagi Gereja setelah masa penuh dinamika di bawah Paus Fransiskus.

Dalam konklaf mendatang, namanya diprediksi akan mendapat dukungan dari kalangan konservatif dan sejumlah progresif moderat yang menginginkan ketenangan di tengah arus perubahan. (*)

Editor : Ali Mustofa
#Paus Fransiskus #meninggalnya Paus Fransiskus #pengganti paus fransiskus #Orangtua Paus Fransiskus #peter erdo #Profil Paus Fransiskus #Lionel Messi dan Paus Fransiskus #Apakah Paus Fransiskus Masuk Surga #Joe Biden Paus Fransiskus #Paus Fransiskus wafat #Kematian Paus Fransiskus #vatikan #nama nama kardinal pengganti paus fransiskus #Paus Fransiskus meninggal #kardinal #nama istri Paus Fransiskus #Paus Fransiskus Telah Tiada #Hukum mendoakan Paus Fransiskus #katolik #wafatnya paus fransiskus #Pemakaman Paus Fransiskus #tulisan Paus Fransiskus #Biodata Paus Fransiskus #profil