RADAR KUDUS - Anna Sebastian Perayil, karyawan 26 tahun yang bekerja sebagai akuntan berizin di SR Batliboi, firma anggota EY (Ernst & Young) Global di India dikabarkan meninggal dunia karena kelelahan, tekanan pekerjaan yang berat.
Publik menuding firma EY bertanggung jawab atas budaya kerja yang toksik hingga membuat karyawannya tidak bisa beristirahat.
Baca Juga: Konglomerat Yamaha Motor Ditikam saat Tidur, Diduga Sempat Pukul Putrinya hingga 6 kali
Meninggalnya Anna sudah terjadi sejak Juli 2024, namun kejadian ini kembali membuat gempar setelah orangtua Anna mengirimkan surat kepada firma terkait, mempertanyakan kenapa anaknya bisa meninggal dunia dengan kondisi kerja yang sangat tidak wajar.
Apalagi, saat Anna meninggal dunia tidak ada sama sekali karyawan atau teman kerja dari firma tersebut yang mengucapkan belasungkawa dan melayat.
Baca Juga: Kate Middleton Anggota Kerajaan Inggris Berbagi Kabar setelah Jalani Kemoterapi
Kabar ini juga menyita perhatian sebagian publik di Indonesia.
Terutama bagi mereka yang ingin bekerja di firma EY yang sangat terkenal dan memiliki sebutan “Big 4 Company”.
Mereka yang ingin bekerja di EY akhirnya mempertimbangkan ulang untuk bekerja di perusahaan tersebut.
Melansir dari Independent.co.uk, Anna baru empat bulan bekerja di firma EY. Ayah Anna menjelaskan anaknya meninggal karena kombinasi dari "berbagai masalah termasuk refluks asam lambung, stres kerja, hingga tekanan pekerjaan.
Baca Juga: Bahaya 'Chroming': Kasus Cesar Watson-King dan Ancaman Dibalik Tren TikTok Ini
Menariknya, setelah kabar tersebut kembali viral, pimpinan/CEO dari EY bernama Rajiv Memani baru mengungkapkan dukacitanya melalui postingan LinkedIn pada Jumat (20/7/2024).
Dikutip dari The Times of India, Rajiv menyatakan penyesalannya karena tidak ada seorang pun dari perusahaan yang menghadiri pemakaman Anna.
Dalam sebuah posting di LinkedIn pihaknya mengatakan, “Saya benar-benar menyesalkan kenyataan bahwa kami tidak dapat hadir di pemakaman Anna. Ini sama sekali tidak sesuai dengan budaya kami. Ini belum pernah terjadi sebelumnya; ini tidak akan pernah terjadi lagi.”
Setelah postingan itu muncul, banyak pihak mantan karyawan mulai bercerita pengalaman tidak menyenangkan mereka saat bekerja di perusahaan tersebut.
Baca Juga: Perkuat Jaringan di Korea Selatan, BRI Rayakan HUT ke-79 RI Bersama Diaspora
EY kini juga terus disorot oleh publik sejak kabar tersebut viral.
Publik menuntut EY untuk membuat sistem kerja yang lebih sehat.
Editor : Abdul Rokhim