Kegemaran bernyanyi menjadi salah satu jalan bagi Indah Khotimatul Husna untuk mengembangkan dirinya.
Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) UIN Walisongo Semarang ini terus mencoba berbagai bidang, mulai dari seni suara, dakwah, public speaking, hingga kegiatan keislaman.
Kini, mahasiswi yang akrab disapa Husna ini tengah berada di penghujung masa perkuliahan dan bersiap menyelesaikan pendidikannya untuk menuju wisuda.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa tingkat akhir, ia tetap menjalankan berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, mengajar, hingga berkarya.
Bagi Husna, mencoba berbagai hal baru menjadi bagian dari proses untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri.
Dari sebuah kegemaran bernyanyi, ia kemudian berani tampil di berbagai panggung dan mengikuti sejumlah perlombaan hingga tingkat nasional.
Saat ini, Husna juga bekerja pada pagi hari dan mengajar atau memberikan les pada malam hari.
Di tengah rutinitas tersebut, ia tetap berusaha memberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Perjalanan Husna di bidang seni suara membawanya meraih sejumlah prestasi. Ia pernah menjadi Juara 1 Paduan Suara se-Kabupaten Rembang dan kembali meraih Juara 1 Paduan Suara se-Kecamatan Pamotan.
Kemampuan tersebut kemudian membawanya mencoba kompetisi di bidang lain. Dalam ajang Senada Universitas Negeri Semarang (UNNES), Husna berhasil meraih Juara 2 Cover Sholawat tingkat Nasional.
Ia juga mengembangkan kemampuan membaca Al-Qur’an melalui berbagai kompetisi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Husna berhasil meraih Juara 2 MTQ se-Kecamatan Pamotan dan Juara 2 MTQ se-Kecamatan Ngaliyan.
Tidak berhenti pada seni suara dan MTQ, Husna kemudian mencoba dunia dakwah. Ia berhasil meraih Juara 2 Dai Muda tingkat Nasional dalam ajang yang diselenggarakan DDV Jawa Tengah.
Prestasi tersebut kemudian disusul dengan Juara 1 Dai tingkat Nasional dalam acara Harlah PK IPNU-IPPNU.
Bagi Husna, berbagai pencapaian tersebut tidak datang secara instan. Setiap kompetisi memberikan pengalaman yang berbeda dan membuatnya semakin berani untuk tampil.
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Husna terjadi ketika mengikuti ajang Dai Milenial TikTok tingkat Nasional yang diselenggarakan Garda Bangsa.
Dalam kompetisi tersebut, Husna berhasil masuk sebagai enam finalis terbaik tingkat nasional. Ia harus bersaing dengan peserta yang memiliki pengalaman dan kemampuan di bidang dakwah, termasuk beberapa peserta yang pernah menjadi juara dalam ajang AKSI Indosiar.
Kompetisi tersebut juga memiliki tantangan tersendiri karena salah satu pelaksanaannya berlangsung pada bulan Ramadan, bahkan berdekatan dengan waktu Magrib.
Bagi Husna, berada di tengah peserta-peserta dengan pengalaman yang lebih luas justru menjadi kesempatan untuk belajar.
“Berani tampil dan mencoba bersaing dengan orang-orang hebat membuat saya semakin percaya diri untuk terus mengembangkan kemampuan,” ungkap Husna.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanannya. Ia belajar bahwa keberanian untuk mencoba terkadang lebih penting daripada rasa takut terhadap hasil yang akan diperoleh.
Kemampuan Husna berbicara di depan publik juga berkembang melalui pengalamannya menjadi Master of Ceremony (MC).
Ketertarikannya terhadap public speaking bermula dari pengalaman sederhana ketika masih bersekolah.
Saat itu, ia pernah dipercaya menjadi MC dalam kegiatan upacara. Pengalaman tersebut kemudian menjadi awal bagi Husna untuk terus mengasah kemampuan berbicara di depan banyak orang.
Kesempatan tampil pun semakin banyak. Ia pernah dipercaya menjadi MC dalam pembukaan Festival Daiyah se-Kabupaten Rembang.
Selain menjadi MC, Husna juga aktif sebagai qari’ah, yakni pembaca Al-Qur’an dalam berbagai kegiatan. Ia pernah dipercaya mengisi sejumlah acara, seperti Musyawarah Wilayah Perempuan Bangsa, halal bihalal, kegiatan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di UIN Walisongo, serta berbagai kegiatan Muslimat dan Fatayat.
Setiap kesempatan tampil menjadi ruang bagi Husna untuk terus belajar. Ia tidak hanya mendapatkan pengalaman di atas panggung, tetapi juga membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi dengan berbagai kalangan.
Memasuki masa akhir perkuliahan, aktivitas Husna justru semakin beragam. Di satu sisi, ia harus menyelesaikan berbagai tanggung jawab sebagai mahasiswa tingkat akhir.
Di sisi lain, pekerjaan, kegiatan mengajar, dan aktivitas berkarya tetap berjalan.
Pada pagi hari, Husna bekerja, sementara malam hari digunakan untuk mengajar atau memberikan les. Di tengah kesibukan tersebut, ia tetap berusaha berkarya melalui media digital.
Beberapa cover sholawat ia unggah melalui YouTube sebagai bentuk upaya untuk tetap menyalurkan kemampuan bernyanyinya.
Selain berbagai pengalaman tersebut, Husna juga tercatat sebagai penerima Best Awards SIG (Beasiswa Semen Gresik) 2024. Pencapaian tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan pengembangan dirinya selama menjadi mahasiswa.
Kesibukan yang dijalani membuat Husna harus pandai mengatur waktu. Baginya, menjalankan banyak aktivitas tidak berarti harus mengesampingkan pendidikan.
Ia tetap berusaha menyelesaikan tanggung jawab akademiknya, termasuk tugas akhir yang ia kerjakan dengan judul “Phonological Analysis of Reading Variations Al-Insyirah to the Participant of the Muallimil Qur’an (MMQ) Malang.”
Kini, setelah melewati berbagai proses akademik dan aktivitas di luar perkuliahan, Husna berada di tahap akhir untuk menyelesaikan studinya dan mempersiapkan diri menuju wisuda.
“Di tengah kesibukan kuliah, bekerja, dan mengajar, saya tetap berusaha mencari kesempatan untuk mengembangkan kemampuan. Yang penting bagaimana semuanya bisa tetap berjalan dan tidak meninggalkan tanggung jawab utama sebagai mahasiswa,” kata Husna.
Husna tidak membatasi dirinya hanya pada satu bidang. Bernyanyi membawanya ke panggung seni suara, kemampuan membaca Al-Qur’an membawanya mengikuti MTQ, sementara ketertarikannya terhadap komunikasi mengantarkannya pada dunia dakwah dan public speaking.
Berbagai prestasi yang diraihnya akhirnya tidak hanya menjadi deretan penghargaan. Di baliknya terdapat proses latihan, keberanian untuk mencoba, rasa gugup, kegagalan, hingga kemauan untuk kembali tampil.
Kini, menjelang wisuda, Husna menyadari bahwa perjalanan untuk mengembangkan diri masih panjang. Berakhirnya masa perkuliahan bukan berarti berhenti mencoba. Ia masih ingin mengembangkan kemampuan dan membuka diri terhadap berbagai pengalaman baru.
“Bagi saya, berkarya tidak harus menunggu punya banyak waktu. Selama masih ada kesempatan, saya ingin terus belajar dan mencoba hal-hal baru,” ujarnya.(nuril baiti amiliah)
Editor : Ali Mustofa