Bukan Sekadar Bernyanyi: Perjalanan Stevi Menemukan Diri Lewat Musik

uinbroadcasting • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 10:37 WIB
Stevi Eza Shofi
Stevi Eza Shofi'i (doc. pribadi)

Bagi Stevi Eza Shofi'i(20), musik bukanlah sesuatu yang tiba-tiba hadir dalam kehidupannya.

Jauh sebelum dikenal sebagai mahasiswa asal Pati yang aktif bernyanyi dan tampil di berbagai panggung, ia telah mengenal dunia musik sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Bernyanyi yang awalnya hanya menjadi kesenangan kecil perlahan tumbuh menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Ketertarikan mahasiswa UIN Walisongo ini terhadap musik sempat terhenti ketika memasuki sekolah menengah pertama.

Pribadinya yang cenderung pendiam membuatnya tidak lagi banyak terlibat dalam kegiatan bernyanyi. Namun, kesempatan untuk kembali mengenal musik datang ketika ia duduk di bangku SMA.

Di sekolahnya, stevi mengikuti program life skill dan memilih seni musik. Dari sana, ketertarikannya terhadap musik kembali tumbuh.

Ia bahkan sempat membentuk band bersama teman-temannya, meskipun tidak bertahan lama karena kesibukan masing-masing.

Setelah lulus SMA pada 2023, perjalanannya di dunia musik justru semakin berkembang. Ia bergabung dengan Nostalgila, sebuah band yang sebagian besar personelnya sudah berkeluarga.

Bersama kelompok tersebut, ia beberapa kali tampil, termasuk mengisi pertunjukan musik di alun-alun pada akhir pekan dengan menyiapkan sendiri peralatan dan sound system yang digunakan.

Ketika aktivitas band tersebut mulai berkurang, Stevi tetap melanjutkan aktivitas bermusiknya. Ia beberapa kali tampil secara akustik Bersama salah satu personel Nostalgila yang seusia dengannya.

Perjalanannya kemudian membawanya bergabung dengan band lain. Setelah sempat menjadi bagian dari band Iconix, ia bergabung dengan band Sleep Walking.

Sebelumnya, ia telah mengenal para personel band tersebut. Ia bahkan ikut mengisi vokal dalam single mereka yang berjudul "Melumpuhkan Logika". Dari situlah ia mulai rutin tampil bersama Sleep Walking hingga sekarang.

Menariknya, panggung yang ia jalani tidak selalu berada di lingkungan yang sebelumnya ia bayangkan. Mahaiswa yang akrab disappa stevi ini beberapa kali tampil dalam acara yang berkaitan dengan komunitas sepak bola dan suporter. Padahal, ia mengaku bukan penggemar sepak bola.

"Saya tidak menyangka bisa manggung di acara bola. Karena memang saya bukan suporter dan tidak suka bola," ujarnya.

Namun, pengalaman tersebut justru mempertemukannya dengan banyak orang baru. Dari panggung-panggung tersebut, Stevi mendapatkan lingkungan pertemanan baru sekaligus kesempatan untuk tampil bersama orang-orang yang ia kagumi.

Di tengah kesibukannya bermusik, kehidupan sebagai mahasiswa tetap harus berjalan. Selain kuliah, ia aktif dalam organisasi kampus dan beberapa kegiatan lain.

Salah satu periode tersibuknya terjadi ketika ia terlibat dalam proyek series bersama Walisongo TV. Dalam proyek tersebut, ia untuk pertama kalinya dipercaya menjadi script writer dan harus mengerjakan salah satu dari tiga episode yang diproduksi.

Bagi Stevi, pengalaman tersebut menjadi tantangan tersendiri. Ia harus membagi waktu antara perkuliahan, tugas, kegiatan organisasi, latihan musik, hingga berbagai panggung yang harus dijalani.

Bahkan, aktivitas di Walisongo TV sempat beririsan dengan kegiatan UKM Musik ketika ia harus mengikuti berbagai workshop dan latihan untuk persiapan konser.

Kesibukan tersebut membuatnya harus belajar mengatur waktu dengan lebih disiplin.

"Kalau ada kegiatan, dari jauh-jauh hari sudah saya catat. Kalau mau pulang untuk manggung, saya pastikan tugas-tugas sudah selesai supaya tidak ada tanggungan," tuturnya.

Beruntung, sebagian besar jadwal manggungnya berlangsung pada akhir pekan. Setelah menyelesaikan perkuliahan dan tugas, ia biasanya pulang pada Kamis atau Jumat untuk mempersiapkan diri tampil pada Sabtu.

Setelahnya, ia kembali ke kos pada Minggu sore untuk menjalani aktivitas perkuliahan seperti biasa.

Meski begitu, perjalanan sebagai musisi tidak selalu meninggalkan cerita manis. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi ketika ia tampil dalam sebuah acara sepak bola pada 2025.

Penonton yang didominasi laki-laki sempat menimbulkan salah paham dalam hubungan pribadinya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu cerita yang stevi ingat dari perjalanan bermusiknya. Namun, di luar persoalan pribadi, panggung itu tetap menjadi bagian dari pengalaman yang memperkaya perjalanannya sebagai seorang musisi.

Kini, setelah melewati berbagai panggung dan pengalaman, ia tidak ingin berhenti pada pencapaian yang sudah dimiliki. Bagi mahasiswi program studi Komunikasi dan Peyiaran Islam ini, kemampuan bermusik masih menjadi sesuatu yang terus harus dikembangkan.

stevi masih ingin belajar dan meningkatkan kemampuan agar dapat tampil lebih baik. Salah satu impiannya adalah dapat berbagi panggung dengan band-band yang selama ini ia kagumi.

"Yang pasti pengen semakin berkembang. Masih banyak belajar juga. Pengen bisa lebih oke lagi seperti musisi-musisi lain. Terus, ingin sepanggung dengan band-band terkenal juga," ungkapnya. (nuril baiti amiliah)

 

 

Editor : Ali Mustofa
uin walisongo mahasiswa pati musik