Sederet pencapaian mentereng berhasil ia kantongi, di antaranya dinobatkan sebagai Duta Bahasa Jawa Tengah serta Ambassador UIN Walisongo Semarang.
Tak berhenti di situ, ia juga langganan menjuarai berbagai perlombaan, salah satunya berhasil menjadi Pemenang Karya Teks Reportase Kategori Mahasiswa pada ajang Media Mind 2025.
Langkah untuk tetap bekerja di tengah himpitan kuliah dan kompetisi ini diambil mengingat kiriman uang saku dari orang tua yang diterimanya sering kali tidak menentu.
Situasi tersebut tak lantas mematahkan semangatnya, melainkan menjadi pemicu ayu untuk bekerja keras dan lebih bijak dalam mengatur keuangan pribadi. Pekerjaan di dunia kreatif sendiri bukan hal baru baginya.
Keterampilan ayu sudah diasah sejak berada di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Dengan menerima tawaran kerja (ngejob) di industri pernikahan melalui Production House (PH) sekolah.
Memasuki jenjang kuliah, ia sempat bekerja freelance di TV lokal pada semester satu, hingga kini dipercaya mengelola konten (content creator) sekaligus Social Media Specialist (SMS) di salah satu toko batik ternama di Semarang.
"Semua proses ini tidak mudah, banyak cerita sedih, bikin stres, sampai menangis. Tapi proses itu saya nikmati saja dan tidak mau diceritakan ke media sosial. Cukup orang terdekat saja yang tahu," ujarnya.
Agar seluruh kegiatannya berjalan seimbang, Ayu memegang teguh skala prioritas.
Kuliah tetap diposisikan di urutan paling utama, disusul dengan urusan pekerjaan.
Setiap malam, ia membiasakan diri menyusun daftar tugas (to-do list) untuk menentukan agenda yang wajib dikerjakan keesokan harinya.
Tak hanya urusan kerjaan dan lomba, ia juga sangat selektif dalam mengelola waktu luang (healing).
Ia selalu mempertimbangkan tingkat kepentingan suatu agenda sebelum memutuskan untuk ikut bergabung.
Tentu perjalanan tersebut tak selalu mulus. Ia mengaku pernah berada di titik terendah hingga akademiknya sempat terdampak pada semester empat lalu.
Namun, ayu memilih berdamai dengan keadaan dan menjadikan ujian tersebut sebagai pendewasaan diri.
Bagi perempuan asal kabupaten Kendal ini, pencapaian serta kemandirian yang ia rasakan saat ini merupakan buah dari doa dan proses panjang yang ditekuninya secara konsisten sejak sekolah.
"Kita tidak perlu merasa paling menderita atau berkecil hati jika tidak memiliki privilege. Tugas kitalah yang membangun privilege itu untuk masa depan kita," tegasnya. (nuril baiti amiliah)
Editor : Ali Mustofa