Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Titah Ulfiani Cholil, Penggiat Literasi dari Jepara yang Multitalenta 

Fikri Thoharudin • Selasa, 19 Mei 2026 | 11:35 WIB
Titah Ulfiani Cholil. 
(ANTON SUJARWO UNTUK RADAR KUDUS)
Titah Ulfiani Cholil. (ANTON SUJARWO UNTUK RADAR KUDUS)

KECINTAAN pada buku membawa Titah Ulfiani Cholil (26), warga Desa Ngasem, Kecamatan Batealit, membangun ruang literasi bagi anak muda di Jepara. 

Bersama teman sejawatnya—Robert, Aryo Seto, Reza Agnes, Naufal, Serli— ia menginisiasi komunitas Book Club Jepara, yang kini telah menjangkau dan memiliki ratusan anggota.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini mengaku perjalanan literasinya dimulai sejak duduk di bangku SMA.

Saat itu, ia mulai gemar membaca novel-novel populer karya penulis seperti Tere Liye dan Andrea Hirata. Dari kebiasaan membaca itulah, minatnya terhadap dunia literasi terus tumbuh.

Setelah lulus SMA, Titah melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Multimedia Yogyakarta jurusan Penyiaran pada 2017 hingga 2021.

Seusai kuliah, ia sempat bekerja sebagai penyiar di Radio Retjo Buntung pada 2022. 

Pengalaman hidup di Yogyakarta membuatnya semakin dekat dengan dunia literasi, karena aktif bergabung dalam komunitas buku dan komunitas menulis.

“Di Yogya saya pun mulai aktif menulis dan mengirim tulisan ke media. Minat membaca saya juga semakin terpupuk,” ujarnya pada Selasa (19/5).

Tak berhenti di situ, Titah kemudian melanjutkan karier di Jakarta pada 2023 hingga 2025. 

Ia bekerja di industri kreatif, khususnya production house televisi, termasuk terlibat dalam produksi program Indonesian Idol. 

Menurutnya, dunia kreatif lebih cocok dengan karakternya, yang menyukai tantangan dan hal-hal baru.

“Saya bukan orang yang suka pekerjaan repetitif. Saya lebih suka pekerjaan yang menuntut berpikir hal baru dan penuh tantangan,” katanya.

Selama tinggal di Jakarta, ia juga aktif mengikuti berbagai komunitas baca. Hampir setiap pekan, ia mendatangi titik pertemuan komunitas yang berbeda. 

Dari sana, cara pandangnya terhadap membaca ikut berubah. Jika sebelumnya lebih banyak membaca fiksi, kini ia mulai tertarik pada buku nonfiksi seperti sejarah, biografi, hingga pengembangan diri.

“Ada satu momen saya sadar, ternyata tulisan fiksi juga butuh riset dan data yang valid. Dari situ saya mulai banyak baca buku nonfiksi, seperti sejarah,” jelasnya.

Titah akhirnya pulang ke Jepara pada Juli 2025. Bersama teman-temannya, ia membangun Book Club Jepara.

Kontan ini menjadi wadah bagi masyarakat, khususnya generasi muda, yang memiliki ketertarikan terhadap buku, diskusi, dan literasi. 

Kini komunitas tersebut rutin menggelar pertemuan setiap pekan, dengan jumlah peserta sekitar 20 hingga 30 orang setiap kegiatan.

Menurutnya, minat baca anak muda Jepara sebenarnya cukup tinggi. Hanya saja, selama ini mereka belum memiliki ruang untuk bertemu, dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa.

“Book Club ini jadi wadah. Mereka bukan hanya menyalurkan hobi membaca, tapi juga belajar public speaking, membangun rasa percaya diri, belajar presentasi dan sejenisnya,” jelasnya.

Bagi Titah, literasi tidak hanya soal membaca buku. Ia percaya, komunitas yang turut dibangunnya juga menjadi jembatan sosial. Mampu mempertemukan banyak orang dengan latar belakang berbeda.

“Ternyata tidak hanya literasi yang kami bangun, tapi sesuatu yang mengharukan. Ada hubungan sosial yang kuat, terbangun lewat komunitas ini,” imbuhnya.

Saat ini Titah bekerja sebagai social media specialist. Kendati demikian, ia tetap aktif mengembangkan komunitas literasi di Jepara. 

Ia optimistis kesadaran membaca di kalangan generasi muda terus tumbuh, terutama di tengah derasnya arus informasi digital.

“Membaca penting supaya kita tidak mudah termakan hoaks. Di era digital sekarang berita cepat sekali menyebar dan sering kali cenderung negatif. Membaca bisa menambah wawasan, melatih kesabaran, dan kemampuan mengkurasi informasi yang benar,” ungkapnya.

Meski begitu, ia juga memahami bahwa setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Menurutnya, literasi tidak harus selalu dimaknai sebatas membaca buku.

“Cara belajar orang berbeda-beda. Ada yang lebih mudah memahami sesuatu ketika diceritakan orang lain. Yang penting tetap mau belajar dan berpikir kritis,” sebutnya.

Titah pun mengamini, di tangan para generasi muda yang terliterasi, masa depan satu bangsa masih dapat dipercayakan.(fik)

Editor : Admin
#perempuan pembaca #book club Jepara #membaca asyik #literasi #Gen Z