Andika Trisna Saputra• Sabtu, 2 Mei 2026 | 16:03 WIB
Cahya Oktavianing Triska. (DOK PRIBADI)
KOTA – Di tengah lesunya pasar tradisional, Cahya Octavianing Triska (29) asal Pedawang, Kecamatan Bae, memilih tidak berhenti.
Pedagang busana di Pasar Kliwon Blok A ini justru menemukan jalan lain untuk bertahan, sekaligus mengembangkan diri melalui berbagai komunitas yang ia ikuti.
Cahya bukan pelaku usaha baru. Ia sudah berjualan sejak kelas dua SMA, meneruskan usaha keluarga di bidang busana.
Sejak 2014, setelah ibunya meninggal, ia mengambil alih usaha tersebut dan belajar secara otodidak untuk menjaga roda bisnis tetap berjalan.
Berbagai produk seperti gamis, blouse, tunik, hingga rok menjadi dagangannya.
Dalam satu kali transaksi besar, ia bahkan bisa melayani pembelian hingga 100–150 potong untuk reseller.
Pasarnya pun sudah menjangkau luar daerah seperti Blora, Jakarta, dan Jawa Timur.
Namun, kondisi pasar berubah.
Sejak 2022 pasca pandemi Covid-19, penjualan di Pasar Kliwon mengalami penurunan signifikan hingga 50 persen.
Sepinya pembeli membuat Cahya harus memutar strategi agar usahanya tetap bertahan.
Ia pun mulai beralih ke pemasaran digital. Cahya belajar digital marketing, membuka toko di marketplace, hingga menyiapkan peralatan untuk live selling.
Berbagai kelas pelatihan, baik gratis maupun berbayar, ia ikuti, termasuk kelas afiliasi untuk memperluas jangkauan pasar.
“Kalau hanya mengandalkan offline, sekarang sudah tidak cukup. Jadi saya mulai belajar online supaya bisa tetap jalan,” ujarnya.
Di sisi lain, proses pengembangan dirinya tidak hanya datang dari dunia bisnis.
Cahya aktif di berbagai komunitas, mulai dari komunitas dakwah, perempuan, hingga pengelolaan sampah.
Ia juga terlibat dalam komunitas membaca nyaring untuk anak-anak yang rutin membuka kegiatan di Car Free Day dan kunjungan ke sekolah setiap dua pekan.
Bagi Cahya, komunitas menjadi ruang belajar yang tidak ia dapatkan di bangku formal.
Dari sana, ia mengasah kemampuan komunikasi, memperluas jaringan, sekaligus membentuk pola pikir yang lebih terbuka.
Awalnya, keputusannya bergabung dengan komunitas berangkat dari keresahan pribadi.
Ia merasa rutinitas lamanya hanya diisi dengan nongkrong tanpa arah.
Dari situ, ia mulai mencari kegiatan yang lebih bermakna, salah satunya melalui kajian keislaman.
“Saya ingin berkembang, tidak hanya di usaha tapi juga sebagai pribadi. Komunitas membantu saya menemukan itu,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, Cahya juga mencoba berbagai peluang lain seperti menjadi model hijab, mengikuti audisi busana, hingga menekuni konten digital untuk membangun personal branding.
Tahun 2026 ini, ia juga resmi bergabung dengan HIPMI Kudus untuk memperluas jejaring usaha. (dik)