TAK semua perjalanan dimulai dari kondisi yang ideal. Ada kalanya seseorang berdiri di garis awal justru dengan keraguan, keterbatasan, bahkan rasa tidak siap.
Namun dari situlah, sering kali lahir cerita-cerita yang menawan.
Tentang keberanian yang tidak menunggu sempurna, tetapi tumbuh di tengah ketidaksempurnaan.
Kisah Khansa Aprillia Novianny mengingatkan, menjadi kuat bukan berarti tanpa hambatan.
Tiga hari sebelum lomba baca fragmen surat Kartini pada Rabu (15/4), suaranya sempat hilang.
Namun, ia tetap mencoba berlatih. Keputusan sederhana, tapi tidak mudah.
Meski ia sendiri tidak punya panggung latihan, tidak ada pelatih yang membimbing setiap detail.
Tidak ada penonton yang memberi tepuk tangan atau kritik. Yang ia miliki hanya ruang kecil, cermin, dan dirinya sendiri.
Di depan cermin itulah ia berlatih. Mengulang kata demi kata, memperbaiki intonasi, menjaga artikulasi, dan mencoba menemukan ritme yang terasa hidup.
Di sana, ia tidak hanya melatih suara, tapi juga melatih keyakinan. Sekalipun suaranya sendiri tak terdengar.
Khansa menunjukkan, konsistensi dalam kesunyian, bisa melahirkan kepercayaan diri yang tidak bergantung pada orang lain.
Namun, perjalanan itu belum lengkap tanpa “rasa”.
Sehari sebelum tampil, Khansa menonton film Kartini. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya film biasa.
Tapi baginya, itu menjadi jembatan, menghubungkan teks yang akan ia baca dengan emosi yang harus ia rasakan.
Dari sana, ia mulai memahami, bahwa membacakan sebuah karya bukan sekadar melafalkan kata, melainkan menyampaikan jiwa dari setiap kalimat. Ia mulai menemukan kedalaman.
Ketika ia membacakan surat Raden Ajeng Kartini, ia tidak lagi sekadar menyuarakan teks. Beruntung suaranya dapat “dipanggilnya” lagi.
Putri asal Desa Pulodarat, Kecamatan Pecangaan, Jepara, atau siswi SMKN 3 Jepara ini, memilih fragmen surat Kartini pada Stella. Tertanggal 28 Agustus 1899.
Dalam surat itu, Kartini menentang formalitas adat Jawa yang mengekang perempuan, sekaligus menyerukan kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.
Perempuan kelahiran 2 April 2010 tersebut, tampil sederhana tapi memukau.
Membawa semangat tentang keberanian melawan batas, tentang perempuan yang ingin merdeka dalam pikiran dan pilihan.
Tentang kelembutan yang tidak berarti lemah. Kata-kata itu hidup, karena ia merasakannya.
Di atas panggung, Khansa mungkin terlihat sederhana. Tidak berlebihan, tidak dramatis. Namun justru dalam kesederhanaan itu, ada kekuatan yang jernih.
Ia membuka penampilannya dengan tenang, memberi hormat. Lalu duduk dan mulai membaca.
Delapan menit yang ia jalani bukan hanya soal teknik, tetapi tentang bagaimana ia hadir sepenuhnya dalam setiap kata.
Meski begitu, rasa grogi datang. Namun itu wajar. Yang membedakan adalah apa yang ia lakukan setelah itu.
Momen paling menarik dari kisah ini justru terjadi di akhir.
Saat pengumuman, Khansa sudah bersiap pulang. Ia merasa usahanya belum cukup untuk menjadi juara.
Tiba-tiba namanya dipanggil. Bukan sebagai peserta biasa, tapi sebagai juara pertama.
“Waktu itu sudah mau pulang, karena yang dipanggil juara III dan II bukan nama saya. Saya pikir saya tidak dapat juara, ternyata malah dapat juara pertama,” sebutnya. (fik/lin)
Editor : Ali Mustofa