GROBOGAN- Panggilan hati untuk menolong sudah tumbuh dalam diri Laura Christy Evangela sejak kecil. Saat masih tinggal di Kuala Simpang, Aceh, ia hampir setiap tahun menyaksikan banjir datang dan merendam lingkungan tempat tinggalnya. Pengalaman itu membekas kuat.
Ketika kemudian menetap di Purwodadi, Grobogan, dan mendapati wilayah ini juga kerap dilanda banjir, kenangan lama seperti terulang. Dari situlah tekadnya semakin kuat: ia ingin menjadi bagian dari orang-orang yang turun tangan membantu saat bencana datang.
Kini, sebagai siswi SMK Negeri 1 Purwodadi, Laura aktif di kegiatan Pramuka sejak awal masuk sekolah. Ia bergabung dengan Saka Wira Kartika dan mulai mengikuti berbagai kegiatan kerelawanan kebencanaan.
Baginya, Pramuka bukan sekadar ekstrakurikuler, melainkan wadah untuk menyalurkan kepedulian.
Kesempatan terjun langsung menjadi relawan datang saat kakak dewan saka menawarkan siapa yang bersedia membantu penanganan bencana. Tanpa ragu, Laura mengajukan diri. Beberapa adik tingkatnya turut bergabung.
Pengalaman paling menegangkan ia rasakan saat banjir besar melanda Kecamatan Gubug beberapa waktu lalu. Setelah membantu penanganan tanggul bocor dalam kondisi tubuh lelah, Laura dan tim bersiap pulang. Namun laporan masuk: sebuah bus terjebak di tengah arus deras.
Di tengah minim penerangan dan arus yang sulit dilawan, Laura ikut dalam proses evakuasi. Satu per satu penumpang dikeluarkan dari dalam bus, dipandu menembus banjir, lalu diarahkan menuju Terminal Gubug agar dapat melanjutkan perjalanan dengan aman. Beberapa korban bahkan sempat pingsan karena kelelahan dan kesulitan bernapas.
“Itu kali pertama saya menolong korban langsung di dalam bus. Rasanya campur aduk, takut ada, capek juga. Tapi saya bersyukur bisa membantu,” ujarnya.
Untuk mengatasi rasa takut dan lelah, Laura menenangkan diri dengan mengatur napas, berpikir positif, dan berdoa. Baginya, kekuatan mental sama pentingnya dengan fisik saat berada di lokasi bencana.
Sejak aktif menjadi relawan, ia banyak belajar: mulai dari teknik dasar pencarian korban hilang, prosedur evakuasi, hingga kesiapsiagaan memantau cuaca dan kondisi lingkungan. Ia sadar masih perlu banyak belajar, namun semangatnya tak surut.
Meski aktif di lapangan, Laura tetap memprioritaskan pendidikan. Ia memastikan tugas sekolah tetap terselesaikan dan selalu mengurus izin resmi jika harus bertugas saat jam belajar.
Kini, di tengah cuaca yang tak menentu—panas, mendung, lalu hujan deras—Laura menyatakan dirinya siap siaga. Baginya, menjadi relawan bukan soal aksi heroik, melainkan wujud kepedulian sederhana.
“Tidak perlu menyelamatkan seluruh dunia dalam satu hari. Cukup mulai dengan menjadi alasan seseorang hari ini merasa bahwa dunia tidak sejahat yang mereka kira,” pesannya. (int)
Editor : Mahendra Aditya