Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Lusi Noor Christina, Dara Asal Jepara yang Tanamkan Cinta Lingkungan pada Generasi Muda lewat Basecamp Pendakian

Fikri Thoharudin • Jumat, 30 Januari 2026 | 09:30 WIB

 

Lusi Noor Christina
Lusi Noor Christina

BENCANA menurut Lusi Noor Christina, bukanlah sekadar bencana. Bagi perempuan 25 tahun ini, acapkali apa yang jamak disebut orang sebagai bencana alam adalah bagian dari rencana alam. 

Sebuah siklus alami, untuk menyeimbangkan diri. Seperti halnya manusia—yang praktis—molet, membuat gerakan usai bangun tidur ataupun setelah lelah beraktivitas.

Tak sedikit hikmah dan berkah yang bisa diambil dari kejadian bencana.

Oleh sebab itu, bencana bukan akhir. Seperti halnya longsor yang terjadi di Desa Tempur setidaknya pada Jumat (9/1) lalu. 

Di tengah bencana dan kepanikan yang sempat terjadi di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, sosok muda ini justru kian terpantik. Bersemangat untuk lebih mengampanyekan kelestarian alam.

Sejak 2025 lalu, ia dipercaya menjadi Ketua Karang Taruna Argo Mulyo Desa Tempur. Turut menaruh perhatian pada kerja-kerja kemanusiaan, lingkungan, hingga pendidikan berbasis masyarakat.

Perempuan asal Dukuh Pekoso, RT 5 RW 3 itu bukan hanya aktif mengorganisir pemuda, tetapi juga terjun langsung ke lapangan. 

Saat bencana terjadi, Lusi ikut terlibat dalam aktivitas rescue, membuka posko, hingga koordinasi lintas kepemudaan desa. 

“Waktu laporan pertama masuk itu rame, belasan laporan. Sempat kaget, bingung, tapi tetap harus bergerak,” tuturnya saat ditemui di Posko Kaliombo pada Kamis (29/1).

Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, jiwa kepedulian sosialnya tumbuh sejak lama. 

Sejak setidaknya hampir satu dekade terakhir, ia telah aktif dalam kerja-kerja sosial. Sekalipun ia sebagai seorang perempuan, namun baginya, kerja kemanusiaan tidak mengenal gender. 

“Menurutku ini murni atas dasar kemanusiaan. Nggak peduli cewek atau cowok, semua punya hak untuk turun ke lapangan,” ujarnya.

Saat masa tanggap darurat, Lusi bahkan memilih siaga penuh di posko. Menjaga koordinasi penerimaan hingga distribusi bantuan.

Tak berhenti di situ, kepeduliannya juga menyentuh sektor lingkungan hidup. Bencana menurut hematnya, adalah momen. Sekaligus pemacu semangat. Untuk berbenah dan lebih peduli dengan kondisi alam.

Bersama Karang Taruna, Pokdarwis, perangkat desa, dan pemuda setempat, Lusi terlibat gerakan penanaman pohon. Baik di sekitar mata air ataupun cacthment area (daerah tangkapan air).

Dalam proses tersebut, ia juga kerap menggandeng anak-anak dan remaja. Khususnya pelajar SMA, agar kecintaan lingkungan tumbuh sejak dini.

Katanya, PR terbesar saat ini ialah menanamkan kesadaran. Bukan sekadar menanam pohon, tapi menanam nilai. Agar—Desa Tempur, Muria Raya, dan alam secara umum—tetap asri. Lestari hingga generasi mendatang.

Misi tersebut dijalankan melalui kegiatan edukasi. Aksi tanam bersama, hingga penguatan Basecamp Pendakian Puncak 29, sebagai pusat kegiatan pemuda dan lingkungan.

Perlahan, gerakan tersebut membuahkan hasil. Anak-anak muda mulai tertarik, terlibat aktif, dan menunjukkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga alam. 

Kepercayaan masyarakat—utamanya pemuda —Desa Tempur pun tumbuh. Nama Lusi, baginya bukanlah hal yang penting. Perhatian jika ada, justru mestinya dilakukan secara saksama. Ditujukan kepada alam. 

Yang penting, imbuhnya, bukanlah siapa yang bekerja. Akan tetapi apa yang dikerjakan.

Perasaan memiliki akan alam, lambat laun akan menggerakkan seseorang atas sebuah aksi yang nyata. Kepedulian merawat dan menjaga.

Di usianya yang masih muda, Lusi merasa masa bodoh. Utamanya dengan posisi ataupun simbol-simbol yang mengaburkan makna sebenarnya. Semua berperan.

Anak muda apalagi, juga bisa memberikan kontribusi. Keberanian untuk hadir, peduli, dan bergerak. Mengambil sikap. Menyelaraskan dengan kearifan lokal.

Hemat kata, cinta lingkungan adalah bagian dari kecintaan terhadap kemanusiaan. 

"Seperti orang yang naik lewat Basecamp sini, rata-rata sudah ada 1700-an pendaki setiap bulannya. Dari situ saya masuk, menyampaikan apa yang bisa dilakukan untuk alam," pungkasnya.(fik)

Editor : Ali Mustofa