RADAR KUDUS - FISIKA, bagi Qurrotu Aini, bukan sekadar mata pelajaran penuh rumus dan angka. Namun sebuah semesta yang memancarkan pesona tersendiri.
Seakan terdapat benang tak kasatmata yang tarik-menarik, sejenis gravitasi yang membuat Aini betah berlama-lama berhadapan dengan berbagai persoalan dan realitas alam fisika ini.
"Kita bisa belajar tentang semua hal yang terjadi di dunia ini," sebut siswi MAN 1 Jepara kelas XII F2 ini.
Perempuan gesit ini, tampak memiliki rasa ingin tahu yang tidak pernah membiarkannya berhenti bertanya. Hal-hal yang terjadi selalu memantik serta memunculkan rentetan pertanyaan dalam benaknya.
Aini mencintai fisika. Dan barangkali, yang sebenarnya ia cintai ialah petualangan memahami dunia. Fisika baginya hanyalah pintu, keberaniannya mengetuk pintu itulah yang membuahkan inspirasi demi inspirasi.
Remaja kelahiran 3 Januari 2008 ini, tumbuh sebagai remaja yang haus akan pengetahuan. Sejak duduk di MIN 2 Jepara dan MTsN 1 Jepara, ia sudah berkawan dengan IPA.
Dia pernah berkenalan dengan biologi dan berbagai materi pelajaran lain, namun hatinya ternyata lebih akrab dengan angka. Ada kenyamanan aneh yang membuatnya ingin terus mengulik, memecahkan persoalan, terus membuka jendela-jendela baru pengetahuan.
Maka ketika masuk MAN 1 Jepara, ia mantap memilih olimpiade fisika sebagai bagian dari jalan perjuangannya. Pilihan itu tidak sia-sia. Aini mengukir sejumlah jejak prestasi yang terus bertambah dan konsisten.
Baru-baru ini ia berhasil menyabet juara 2 dalam kompetisi fisika SMA/MA sederajat tingkat nasional 2025, pada pekan ilmiah fisika XXXVI FMIPA Unnes Semarang Minggu (26/10) lalu.
Sebelumnya, rentetan prestasinya seperti menduduki peringkat 1 OSN Fisika tingkat Kabupaten. Juara 2 UPC (UPGRIS Physics Olympiad) di UPGRIS Semarang. Juara 1 OLYMPICS, HIMAFI UNS. Juara 2 QUARKS, HIMAFI UNPAD serta Juara 2 Olimpiade Fisika Islam Nasional (OFIN) di UIN Walisongo Semarang.
Kecenderungannya pada ilmu fisika sungguh total. Hampir semua perhatiannya tertuju pada hal tersebut.
Anak bungsu dari dua bersaudara yang kini tinggal di Desa Mindahan Kidul, Kecamatan Batealit, Jepara ini mengaku turut terbentuk dari lingkungan sekitarnya.
Ia bukan tipe siswa yang belajar hanya ketika ujian mendekat. Jauh sebelumnya bahkan, ia sudah merapikan materi yang hendak dipelajari. Bab demi bab dikupas, target soal per hari, hingga manajemen waktu yang rapi. Rasa ingin tahunya adalah mesin sekaligus bahan bakar.
Untungnya, keluarga sepenuhnya mendukung perjalanan itu. Sejak duduk di bangku kelas empat ia sudah sering lomba, dan dukungan itu tidak pernah surut.
Sekolah pun, termasuk MAN 1 Jepara memberikan fasilitas yang membuatnya semakin percaya diri, dispensasi belajar lomba, pembiayaan perjalanan kompetisi, hingga beasiswa prestasi.
Di tengah kegemarannya membuka buku, Aini memendam mimpi besar, yakni dapat berkuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Ia tahu jalannya tak akan mudah, dan justru karena itulah ia merasa harus belajar lebih giat, lebih tekun, lebih konsisten. Sertifikat-sertifikat yang ia kejar bukan semata penghargaan, tetapi pijakan menuju masa depan yang ingin ia wujudkan.
Inspirasi terbesarnya datang dari dua arah, para peraih medali OSN Fisika dan kakaknya sendiri.
Para juara itu membuatnya bermimpi, sementara kakaknya mengajarinya sesuatu yang jauh lebih penting, keteladanan dan keuletan. Aini diajarkan untuk tidak gampang menyerah, dan memiliki ambisi yang terarah.
Di samping prestasi yang telah ia torehkan, tak sedikit pula kegagalan yang didapat. Namun ia belajar, bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan gerbang menuju rasa ingin tahu yang lebih besar.
Dirinya berharap, kelak ia akan menjadi perempuan yang mandiri, menginspirasi banyak orang, bermanfaat bagi sekitarnya, dan meraih pendidikan setinggi-tingginya.
"Menjadi perempuan yang berdaya dan memberdayakan," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya