KOTA – Di antara hiruk-pikuk Pasar Kliwon, tampak sosok muda membantu neneknya melayani pembeli di kios kecil penjual aneka bumbu dapur.
Dialah Laeli Praditasari (22), lulusan Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) asal Desa Tanjungrejo, yang memilih tetap rendah hati dengan membantu keluarga di pasar tradisional.
Setiap pagi, sekitar pukul 6 hingga 8, Laeli sibuk melayani tak kurang dari 15 pembeli yang datang membeli aneka bumbu dapur, rempah-rempah, hingga bumbu racik.
Setelah itu, ia melanjutkan aktivitasnya ke balai desa untuk membantu pekerjaan administrasi.
“Saya bantu jualan cuma pagi, karena jam delapan sudah ada kerjaan di desa. Kemudian sore hingga malam ada jadwal ngajar bimbel,” ujarnya sambil tersenyum ramah.
Kios milik neneknya itu sudah berdiri sekitar 12 tahun.
Sejak kuliah pada 2021, Laeli mulai rutin membantu berjualan di sela-sela jadwal kuliahnya.
Kini, setelah lulus, ia masih melanjutkan kebiasaan tersebut.
“Awalnya cuma ingin bantu nenek. Tapi lama-lama jadi kebiasaan. Sekalian menambah pemasukan dan pengalaman,” katanya.
Meski lulusan perguruan tinggi, Laeli sama sekali tidak merasa gengsi berdagang di pasar.
Ia mengaku justru banyak belajar soal interaksi sosial dan tanggung jawab dari pengalaman itu.
“Saya belajar langsung menghadapi orang, melayani, dan mengatur waktu. Itu juga bagian dari ilmu psikologi sosial, kan?” tuturnya sambil tertawa kecil.
Selain berjualan di pasar, Laeli juga memiliki usaha kecil di rumah.
Ia menjual berbagai camilan kering seperti keripik buatan sendiri dan titipan dari produsen lokal, dipasarkan secara daring melalui media sosial.
“Saya memang suka jualan, mungkin sudah turun-temurun dari keluarga,” katanya.
Perempuan berwajah ceria ini juga aktif berkegiatan di desa dan tengah menunggu hasil seleksi kerja yang telah ia lamar.
Meski sibuk, Laeli tetap meluangkan waktu untuk hobinya seperti badminton, jurnaling, dan traveling.
“Dulu sempat ke Wonosobo dan Bandungan, tapi sekarang jarang karena lebih fokus kerja dan jualan,” ungkapnya.
Memiliki cita-cita menjadi psikolog, Laeli terus berusaha menyeimbangkan antara mengejar karier sesuai jurusan dan meneruskan semangat jiwa kewirausahaan keluarganya.
“Bagi saya, bekerja dan membantu orang tua bukan soal gengsi. Justru di situ letak nilai hidup yang sesungguhnya,” katanya dengan senyum hangat. (dik)
Editor : Ali Mustofa