Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kisah Salma Salsabila Melibatkan Perajin Jepara, Berhasil Raih Best Marketable Design JIFDA

Fikri Thoharudin • Minggu, 19 Oktober 2025 | 21:51 WIB
SUMRINGAH: Salma Salsabila tunjukkan karyanya
SUMRINGAH: Salma Salsabila tunjukkan karyanya

PERJALANAN menempuh lebih dari 500 kilometer bukan sekadar jarak atau lawatan belaka. 

Bagi Salma Salsabila, mahasiswi Desain Interior Universitas Mercu Buana, itu adalah perjalanan meniti karya, dari ruang kelas kampusnya menuju pengalaman baru di Kota Ukir, Jepara.

Perempuan kelahiran Tangerang, 30 November 2003 ini datang dengan ransel penuh ide, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk menjemput mimpi. 

Saat karyanya diumumkan sebagai peraih Best Marketable Design dalam ajang Jepara International Furniture Design Award (JIFDA) pada Sabtu (18/10) malam di Pendopo Kabupaten Jepara, sorot matanya memantulkan sesuatu yang lebih dari sekadar kemenangan.

Ada pancaran cahaya yang menandai pertemuan antara ilmu, tradisi, dan semangat muda.

“Awalnya ini berawal dari tugas kuliah,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Tugas mata kuliah Desain Mebel Sarana Duduk itu menuntut setiap mahasiswa merancang kursi dengan muatan lokal. Tapi Salma melihatnya bukan hanya sebagai tugas akademik. Ia melihat kemungkinan.

Kebetulan, dalam rangkaian tersebut terdapat gelaran penganugerahan JIFDA yang merupakan rangkaian dari Jepara International Furniture and Craft Buyer Weeks (JIFBW) sejak Maret lalu.

Dibimbing oleh Mira Zulia Suriastuti, selaku Sekprodi dan Rr. Chandrarezky Permatasari, sebagai dosen pengampu, Salma menyalurkan idenya menjadi sesuatu yang punya cerita.

Ia kemudian tergerak mengikuti seleksi JIFDA dan membuat karya yang ia namai 'Meumbe Chair', kursi dengan bentuk lembut, terinspirasi dari domba, yang bisa berputar 360 derajat.

“Kalau lihat domba itu lembut, ya. Saya ingin kursi ini juga terasa lembut dan interaktif,” ujarnya.

Dari ide yang tampak sederhana, ia menganyam filosofi, kelembutan bukan kelemahan, tapi ruang untuk kenyamanan.

Salma membuat prototipe hanya dalam waktu dua minggu. Serta perjalanan ide tersebut menjadi berwujud membutuhkan sebulan penuh. Dari Tangerang Selatan, Salma harus berkoordinasi dengan perajin di Jepara, semuanya lewat telepon.

Ia belajar bahwa desain tidak berhenti di atas kertas ataupun piranti elektronik. Ada tangan-tangan lain yang memberi napas pada kayu, tangan perajin Jepara, dengan pengalaman bertahun-tahun menatah, menghaluskan, dan memberi jiwa terhadap setiap serat.

“Desain itu jembatan. Antara nilai-nilai tradisi dan kebutuhan masa kini, bahkan masa depan," tuturnya.

Dalam proses itu, ia tak hanya belajar tentang kursi, tapi juga menyinggung tentang pentingnya kolaborasi lintas generasi. 

Jumat (17/10) malam, ia tiba di Jepara untuk pertama kalinya. Kota ukir ini menyambutnya dengan ramainya area Jepara kota, serta ekspektasi yang membuatnya sumringah.

Puncaknya pada saat penilaian langsung di Pendopo Kartini Kabupaten Jepara Sabtu (18/10) malam, karya Meumbe Chair dipajang, ada sesuatu yang menarik perhatian juri. Karya itu bukan hanya estetis, namun terhubung dengan pasar, mudah diterima, tapi tetap berkarakter.

Karyanya dibuat dengan penuh ketulusan ini menjadi satu di antara setidaknya 204 karya yang diajukan dalam JIFDA.

Karyanya tersebut dinobatkan sebagai penerima Best Marketable Design. Hadiah Rp 5 juta ia terima bukan sebagai akhir, melainkan sebagai tanda jalan panjang yang baru dimulai.

Salma kian mantap menatap masa depan dengan rencana matang. Ia ingin membuat katalog desain, mempromosikan karyanya lewat media sosial, dan suatu hari membuka studio desain furnitur di Tangerang Selatan.

“Kalau nanti modalnya cukup, saya ingin fokus di desain furnitur. Jepara memberi inspirasi besar buat saya,” katanya.

Bagi Salma, Jepara bukan sekadar kota tujuan lomba, tapi ruang belajar yang begitu besar. Di sana ia menemukan bagaimana ide dan keterampilan berpadu, bagaimana perempuan bisa berdiri sebagai desainer, dan bagaimana mimpi bisa diukir.

Dalam usia mudanya, Salma Salsabila telah menunjukkan bahwa daya cipta tidak mengenal batas geografis. Ia datang sebagai mahasiswi, tapi pulang sebagai pembelajar sejati, membawa nilai dari Jepara bukan hanya di kepalanya, tapi juga di hatinya.

“Saya ingin menjadi perempuan yang mandiri, berdaya, dan terus mewujudkan mimpi,” ujarnya menutup percakapan.

Dari Jepara, melalui kursi yang bisa berputar itu, dunia pun perlahan menoleh pada namanya, Salma.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#berdaya #JIFDA #inspiratif #prestasi #perempuan #mimpi