MENJADI mahasiswa terbaik bukan cita-cita yang mudah dicapai. Apalagi jika disertai perjuangan ekstra.
Amy Arba’atun Nisa Astuti, 25, mahasiswi Program Studi Administrasi Rumah Sakit Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) membuktikan bahwa kerja keras, manajemen waktu, dan dukungan lingkungan bisa menjadi kunci keberhasilan.
”Saya tidak berjuang sendiri. Ada peran besar orang tua dan teman-teman seperjuangan yang terus menyemangati," ujar mahasiswi asal Kabupaten Blora ini.
Ia mengaku menempuh jalur yang tidak biasa. Sebab, dia gap year (berhenti setelah lulus SMA) selama tiga tahun.
Dia yang merupakan lulusan SMK jurusan teknik geomatika, saat kuliah justru memilih jurusan administrasi rumah sakit.
”Saya baru kuliah setelah tiga tahun lulus SMK. Berhenti dulu. Saat kuliah saya pilih reguler, meski sambil bekerja,” terangnya.
Selama libur kuliah, Amy bekerja penuh waktu. Sedangkan saat hari-hari biasa, ia kuliah pagi dan menjadi tentor anak SD setelahnya.
Malam harinya, ia menggunakan waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah.
”Alhamdulillah saya bisa membagi waktu dengan baik. Tugas-tugas kuliah juga tidak keteteran meski sambil kerja," jelasnya.
Perjuangan Amy membuahkan hasil, ia lulus dengan indeks prestasi komulatif (IPK) 3,81 dan mendapat kesempatan magang di Pusat Sertifikasi Halal.
Sebuah peluang yang menurutnya sangat berharga untuk masa depan.
”Motivasi terbesarku adalah orang tua dan keinginan kuat mengejar cita-cita. Setelah lulus ini, saya ingin bekerja dulu. Tapi kalau Allah memberi rezeki, saya berencana lanjut S-2. Biar bisa jadi dosen atau membuka lebih banyak peluang kerja di bidang kesehatan," jelasnya.
Meski telah wisuda, Amy belum berhenti menjadi tentor. Ia tetap membantu anak-anak belajar sambil menyiapkan langkah berikutnya.
Kisah Amy ini, menjadi inspirasi, bahwa keterbatasan waktu dan latar belakang bukanlah penghalang untuk meraih prestasi terbaik. (Andika Trisna Saputra)
Editor : Ali Mustofa