RADAR KUDUS - Bagi Muinatus Sholihah, mimpi menjadi guru bukan sekadar cita-cita masa kecil. Namun tujuan hidup yang diperjuangkan dengan penuh ketekunan, meski jalan yang ditempuh tak selalu mulus.
Awalnya, perempuan asal Grobogan ini mantap memilih jurusan Bimbingan dan Konseling (BK). Namun harapan itu sempat pupus saat dirinya tidak berhasil lolos ke jurusan tersebut di universitas impian.
“Saat itu rasanya campur aduk, sedih iya, bingung juga. Tapi saya tahu saya nggak bisa berhenti di situ,” kenang perempuan yang lahir di Grobogan 7 April 2001 ini.
Muinatus tak tinggal diam. Ia mencari alternatif jurusan yang masih sejalan dengan dunia konseling dan menemukan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI).
Awalnya ia merasa keputusan itu sudah tepat. Namun realitas berbicara lain. Alih-alih belajar tentang konseling pendidikan, ia justru lebih banyak mendalami konseling dan penyuluhan sosial keagamaan.
Namun takdir kembali membuka jalan. Setelah lulus, ia mendapat informasi tentang Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan ternyata jurusan BPI masih dinyatakan linier untuk mengambil PPG jurusan BK.
Ketika dinyatakan lolos, tantangan belum berhenti. Ia termasuk kedalam angkatan termuda di PPG dan alumni angkatan pertama dikampusnya yang mengikuti PPG.
Rasa minder menghampiri, apalagi mayoritas peserta berasal dari jurusan pendidikan BK yang sudah akrab dengan istilah-istilah dan materi yang ia baru dengar untuk pertama kalinya.
“Saya merasa seperti gelas kosong. Tapi justru itu membuat saya semangat terus belajar dan menyerap semua ilmu yang ada,” ucapnya.
Kini perjuangannya membuahkan hasil. Ia berhasil lulus bersama teman-teman seangkatannya, mengantongi gelar S.Sos., Gr.,. Bahkan kini Muinatus telah resmi menjadi guru BK di salah satu SMK swasta di kota Grobogan. (int)
Editor : Mahendra Aditya