Perempuan yang baru menjadi juara III mbakyu duta wisata Blora beberapa waktu lalu itu memulai kenal dengan dunia gambar digital sejak sekolah di jurusan multimedia di SMK N 1 Blora. Di sekolah itu, dia diajari beberapa hal. Seperti videografi, desain grafis, fotografi, juga pemrograman.
"Saya lebih suka desain grafis dibanding lainnya. Saat di SMK diajari AI (Adobe Illustrator, Aplikasi desain grafis, Red)," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Setelah lulus dari SMK, dia kemudian mencari kesibukan dengan bekerja di salah satu usaha clothing di Blora. Di sana, hampir setiap hari dia bergelut dengan aplikasi desain grafis lainnya, yaitu Corel Draw.
"Sukanya jadi bisa produktif. Membuat hari-hari jadi produktif. Ga tidur-tidur terus," ungkapnya diikuti dengan senyuman.
Atas keseriusannya dalam mengolah grafis, dia pernah menjadi finalis pekan seni mahasiswa nasional pada 2020 lalu. Namun, untuk dukanya, dia merasa kurang istirahat apabila bergelut di dunia itu. Meskipun baru sekedar freelance.
"Biasanya tidur siang, terus ga bisa. Biasanya bisa tidur jam 11-an.Jadinya lebih dari jam 12. Waktu tidur berantakan," keluhnya.
Selain itu, pihaknya merasa kurang suka dengan seseorang yang pernah mengkomersialkan karya desain grafisnya, namun dirinya tidak mendapatkan hasil apa pun.
"Dulu sih bilangnya minta tolong dibuatkan logo. Tapi ternyata logo itu dijual ke orang lain. Saya hanya dapat terima kasih," ungkap perempuan yang baru menempuh jurusan PGSD, STKIP Muhammadiyah Blora.
Namun dia tetap merasa bahagia dengan dunia itu. Sebab beberapa teman dan tetangga sangat men-support-nya dengan pesanan desain kepadanya. Perempuan yang menginjak usia kepala dua pada pertengahan bulan September ini sedang disibukkan dengan kampus mengajar, program Kementerian Pendidikan. "Cukup bangga bisa ikut program ini. Karena di angkatan saya, hanya ada dua yang diterima. Jadi dikenal dosen karena ikut ini," terangnya. (cha/zen) Editor : Ali Mustofa