Setidaknya ada 14 negara yang mengikuti kompetisi riset bergengsi itu. Saat itu Syatta dan beberapa temannya mengangkat aplikasi Gedor Lakon (Gerakan Donor Plasma Konvalesen). Aplikasi itu dibuat agar dapat mengakses informasi tentang golongan darah, plasma konvalesen, dan rute rumah sakit terdekat di Kudus. Yakni khusus untuk donor darah.
”Awal mula membuat aplikasi tersebut karena saat pandemi, banyak orang yang butuh donor darah,” katanya.
Tetapi sayangnya mereka tak bisa ke mana-mana. Maka dengan aplikasi tersebut dapat memberikan informasi seputar stok darah. Terutama ada daftar rumah sakit yang punyak stok darah. ”Awal mula saya juga tidak pernah tahu dunia aplikasi,” ujarnya.
Tetapi berhubung pada 2021 itu saya tidak ada kegiatan. Maka riset itu pun saya coba lakukan bersama teman-teman yang lain. ”Tapi keberhasilan riset tersebut juga tidak terlepas dari kerja keras para pembimbing,” ujarnya.
Aplikasi sudah jadi. Tetapi untuk saat ini aplikasi tersebut masih dalam tahap simulasi. Harapannya nanti aplikasi tersebut dapat berguna bagi orang banyak. Terutama untuk mengatasi masalah donor darah di Kudus. ”Nantinya aplikasi tersebut pun juga perlu kerjasama dengan berbagai pihak runah sakit,” imbuhnya.
Misal pandemi Covid-19 sudah tidak ada pun aplikasi itu dapat dikembangkan dan digunakan kembali. (ark/zen) Editor : Ali Mustofa