Dia terbilang memiliki tugas yang lumayan berat. Apalagi masa remaja memiliki tantangan tersendiri. Permasalahannya cukup kompleks yang dihadapi. Di tengah pergaulan yang sarat dengan perkembangan teknologi yang pesat dengan segala dinamikanya.
Untuk itu, masa depan harus disiapkan dengan baik. Agar tidak menyesal di kemudian hari. ”Di Genre sendiri, ada yang namanya triad KRR. Yang mana tidak untuk nikah dini, tidak untuk seks pranikah, dan tidak untuk NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya). Jadi tugas duta Genre juga memberikan arahan kepada remaja-remaja sekitar, agar dapat menjadi remaja terencana, baik dari pendidikan, karir, dan pernikahan,” jelas gadis kelahiran Pati, 3 November 2001 ini.
Saat ini, masih banyak remaja yang kurang memiliki akses mengenai berbagai informasi tentang isu-isu kesehatan reproduksi remaja. Selain itu, banyak remaja yang belum tahu tentang adanya program Genre.
”Dari pengalaman yang saya rasakan, ada banyak remaja yang belum mengetahui hal tersebut. Untuk menyongsong Indonesia emas 2045, kita sebagai remaja harusnya menyiapkan diri supaya bermanfaat bagi orang lain,” kata gadis asal Desa Sendangrejo, Kecamatan Tayu, Pati, ini.
Dia menambahkan, pelajar di MA Miftahul Huda Tayu ini menyebut, sebagai seorang duta, dirinya sadar menjadi panutan bagi remaja lain. Jadi, dia sebisa mungkin harus dapat merencanakan kehidupannya yang lebih terencana, seperti tujuan dari program Genre. (lin) Editor : Ali Mustofa