Dijumpai wartawan di Tulakan, Donorojo, Deni memperlihatkan sebagian koleksi jam tangannya. Terlihat ada merek Casio, G-shock yang berjejer di dalam boks jam tangan.
“Ada yang Baby-G tapi sedang tidak saya bawa,” jelasnya. Ia memang hobi mengoleksi jam tangan.
Jam tangan itu ia dapatkan kebanyakan dari pasar online. Untuk merek Casio, G-Shock dan Baby-G second ia dapatkan dengan harga Rp 1 juta ke bawah.
Selain koleksi, Deni juga menjual beberapa jam tangan tersebut bila ada yang minat. Omzetnya sebagai penjual jam tangan dalam sebulan berjumlah Rp 5 juta. Biasanya ia berjualan online di media sosial seperti facebook dan instagram. Jam yang ia tawarkan berharga Rp 1 juta ke bawah.
Kata Deni, kebanyakan jam tangan yang ia koleksi berasal dari Jepang. “Ada juga dari Swiss tapi jarang, seperti merek Seiko. Saya ada tapi nggak terlalu cari merek itu karena harganya mahal,” jelasnya.
Salah satu koleksi paling tua, yakni keluaran era 1987-an. Jam tangan itu terlihat masih bagus, merek Casio, berwarna hitam solid. Deni mengoleksi tak hanya jam analog, namun juga jam digital.
Kata Deni, peminat jam digital lebih banyak dibanding analog. Selain era 1987, ada juga jam tangan keluaran era 1990-an, dan 2000-an. “Nggak tau ya, dari dulu saya suka yang vintage, kuno-kuno, ini dicari di pabriknya sekarang juga sudah nggak keluar, makanya yang nyari banyak. Peminatnya juga masih ada,” jelasnya.
Kata Deni, merawat jam tangan, termasuk yang antik, tidaklah sulit. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah rajin merawat baterai. Kalau baterai sudah mati langsung diganti. “Kalau merek Casio kena hujan dan wudu masih awet ya, tapi kalau renang tidak direkomendasikan,” jelasnya.
Meski memiliki hobi mengoleksi jam tangan antik, selama ini ia juga merasa tidak kesusahan. Tapi malah senang. “Namanya juga hobi, ya senang,” jelasnya singkat.
Ia mengaku memang ada beberapa edisi dan merek jam yang ia masih ingin cari. Namun belum bisa mendapatkannya karena susah. Selain itu, ia pernah merugi sekitar Rp 2 juta karena sempat tertipu saat mencari jam di media sosial. “Sudah saya transfer, jamnya tidak datang, ya bagaimana lagi,” ungkapnya. (nib) Editor : Ali Mustofa