GROBOGAN –Memasuki puncak musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai muncul di Kabupaten Grobogan.
Salah Satu kejadian karhutla tercatat terjadi di kawasan hutan Dusun Klampok, Desa Geyer, Kecamatan Geyer, Kamis (23/7), dengan luas lahan yang terbakar sekitar 0,25 hektare.
Kalak BPBD Grobogan Wahyu Tri Darmawanto mengatakan, kebakaran terjadi sekitar pukul 17.54 WIB.
Api kali pertama diketahui berasal dari kawasan hutan yang berjarak sekitar 100 meter di sebelah timur jalan raya.
Kondisi vegetasi yang mengering akibat kemarau membuat kobaran api dengan cepat merambat ke arah utara, selatan, dan barat.
"Api yang bergerak ke arah selatan bahkan sempat mengancam wilayah sekitar permukiman Dusun Klampok," ungkapnya.
Petugas Perhutani KPH Gundih bersama masyarakat setempat melakukan upaya pemadaman secara manual sebelum Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Grobogan tiba di lokasi.
Setibanya di lokasi, TRC BPBD langsung melakukan pemadaman menggunakan backpack sprayer dan peralatan pemadam manual.
Tim memfokuskan pemadaman di sisi selatan agar api tidak merembet ke permukiman warga. Setelah dilakukan pemadaman dan pendinginan, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 19.50 WIB.
Tidak ada korban jiwa maupun kerusakan bangunan dalam kejadian tersebut.
"Adanya karhutla ini menjadi alarm dini bagi Pemerintah Kabupaten Grobogan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026," jelasnya.
Menurutnya, berdasarkan prakiraan BMKG, Kabupaten Grobogan diperkirakan mengalami musim kemarau sejak Mei hingga Oktober 2026.
Kondisi itu dipengaruhi fenomena Super El Nino yang berpotensi menyebabkan kemarau lebih panjang dan kering, sehingga meningkatkan ancaman krisis air bersih maupun kebakaran hutan dan lahan.
"Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Grobogan telah menetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan mulai Mei hingga Oktober 2026," ujar Wahyu.
Ia menjelaskan, BPBD telah mengaktifkan posko siaga selama 24 jam dengan dukungan tiga Tim Reaksi Cepat (TRC) yang siap bergerak setiap saat apabila terjadi bencana kekeringan maupun karhutla.
Selain personel, BPBD juga menyiapkan berbagai sarana dan prasarana penanggulangan bencana.
Di antaranya tiga unit truk tangki air, 25 unit mesin pompa air (alkon), 200 selang beserta nozzle, 20 paket peralatan pemadaman manual, dua paket alat pelindung diri (APD), 20 unit handy talky (HT), serta cadangan 120 tangki air bersih yang siap didistribusikan ke wilayah terdampak kekeringan.
BPBD juga menggandeng PMI, Baznas, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, serta Perhutani dan berbagai instansi terkait untuk mendukung distribusi bantuan air bersih sekaligus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan karhutla.
Wahyu mengungkapkan, berdasarkan Kajian Risiko Bencana Kabupaten Grobogan, seluruh 19 kecamatan memiliki wilayah yang masuk kategori rawan kebakaran hutan dan lahan, baik dengan tingkat bahaya sedang maupun tinggi.
Kecamatan seperti Geyer, Gabus, Grobogan, Gubug, Karangrayung, Kedungjati, Klambu, Kradenan, Ngaringan, Penawangan, Pulokulon, Tanggungharjo, Tawangharjo, Tegowanu, Toroh, dan Wirosari tercatat memiliki desa-desa dengan tingkat kerawanan tinggi.
Karena itu, BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dengan tidak membuka lahan menggunakan api, tidak membakar sampah di area terbuka, serta tidak membuang puntung rokok di kawasan hutan maupun lahan kering.
"Masyarakat juga kami minta segera melaporkan apabila menemukan titik api. Semakin cepat ditangani, semakin kecil risiko kebakaran meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar," tegas Wahyu. (int)