KEDUNGJATI — Ribuan warga Desa Karanglangu dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, kembali menggelar tradisi Asrah Batin pada Minggu (12/7).
Tradisi ini dilakukan setiap dua tahun sekali pada tahun genap. Kali ini jatuh pada 2026.
Bukan sekadar agenda dua tahunan, ini menjadi simbol persaudaraan. Sekaligus pelestarian budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Sejak pagi, warga Desa Karanglangu berjalan kaki sekitar tujuh kilometer menuju tepian Sungai Tuntang, yang berbatasan dengan Desa Ngombak.
Mereka menempuh jalur napak tilas melewati jalan setapak, kawasan hutan, hingga menyeberangi Sungai Tuntang menggunakan rakit maupun perahu.
Perjalanan pulang-pergi ditaksir mencapai sekitar 14 kilometer.
Sebelum berangkat ke Desa Ngombak, warga Karanglangu mengikuti doa bersama, bancaan (selamatan).
Pada pukul 07.30 kemudian berangkat bersama, jalan kaki. Beberapa membawa bekal ganti pakaian hingga sandal maupun sepatu.
Mereka sampai pada tepi Sungai Tuntang yang berbatasan dengan Desa Ngombak pada pukul 10.00.
Kemudian menyeberang menggunakan rakit dan perahu BPBD Grobogan secara bergantian.
Prosesi ini berjalan dramatis. Pasalnya arus sungai terbilang deras. Sehingga perlu dikawal oleh para pemuda dengan cara nyemplung di sungai.
Tepian sungai juga memiliki lebar sekitar 30 meter. Semua warga Desa Karanglangu baru rampung menyeberang hingga pukul 11.00.
Bak saudara. Setelah naik dari area sungai, mereka disambut warga Desa Ngombak, sejurus demikian bersalam-salaman.
Seperti kerabat jauh yang lama tak berjumpa. Mereka saling sapa dan mengabarkan keadaan satu sama lain.
Lalu, berjalan kaki dari tepi Sungai Tuntang menuju Rumah Kepala Desa Ngombak. Di sana, pun disambut meriah.
Lebih dulu, kaki Kepala Desa beserta istri dibasuh menggunakan air kembang setaman. Termasuk diberi jamuan makan dan minum. Mirip prosesi sarasehan penganten.
Kemudian dilangsungkan dengan pembacaan riwayat tradisi Asrah Batin. Hingga pembagian bedak tradisional serta nasi berkat yang dibungkus daun jati.
Ribuan orang tumpah ruah, ingin kecipratan berkah dengan mendapatkan dua hal tersebut. Bahkan rela saling dorong agar keduman (kebagian).
Sesepuh Desa Ngombak, Tamsir didampingi Suharsena menjelaskan bahwa istilah yang dahulu dikenal sebagai "Pasrah Batin" dan kini lebih dikenal dengan sebutan "Asrah Batin".
Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya berupa pertemuan dua desa, tetapi juga mengandung ajaran moral. Diwariskan para leluhur dan dikaitkan dengan pesan Sunan Kalijaga.
Tradisi Asrah Batin berawal dari kisah kakak beradik, Kedhana dan Kedhini, yang diyakini mendirikan Desa Karanglangu dan Desa Ngombak.
Pertemuan keduanya setelah lama berpisah menjadi simbol perdamaian, sekaligus pengingat adanya pantangan pernikahan antarketurunan kedua desa.
Semula keduanya hampir saling jatuh cinta. Namun karena ternyata memiliki ikatan darah, akhirnya keduanya diminta untuk 'Pasrah (secara) Batin' hingga kini disebut Asrah Batin.
Di samping itu, juga dibagikan tuntunan hidup ala Sunan Kalijaga supaya selamat dalam hidup mendapatkan kemuliaan.
Wejangan itu juga disampaikan oleh sesepuh desa. Seperti di antaranya andap asor dumunung urip, atau rendah hati dan tidak sombong.
Pangandikan jujur tidak lamis (berbohong).
Ana catur mungkur, atau sikap yang menolak atau menghindar untuk mendengarkan gunjingan, omongan buruk, atau fitnah mengenai orang lain.
Narimo ing pandum, atau menerima pemberian Sang Pemberi Hidup. Termasuk rukun dengan tetangga hingga tresno lan ngrumat pepadamu (senang membantu tetangga).
Di samping itu, juga dituturkan agar kabeh nggedhekno panembah marang Gusti atau memperbesar penghambaan kepada Sang Pencipta.
Serta nglakokno lelaku dawuhe Gusti atau menjalankan perintah Allah SWT.
"Ini di antara pesan yang pernah diberikan oleh Sunan Kalijaga," ujarnya.
Rangkaian tradisi sebenarnya telah dimulai beberapa hari sebelumnya.
Pada Rabu Wage (1/7), warga menggelar Gebyuk atau mencari ikan di Sungai Tuntang menggunakan jala dan jaring.
Kemudian Senin Wage (6/7) dilaksanakan Tubo, yakni menangkap ikan bersama untuk dibawa pulang.
Sebagian ikan diolah menjadi botok atau tunuman sebagai hidangan tradisi.
Sehari sebelum puncak acara, Sabtu (11/7), digelar prosesi Mapag Badek.
Warga Karanglangu membawa berbagai bahan kebutuhan seperti beras, kelapa, dan ubarampe sebagai bekal jamuan bagi warga Ngombak.
Setiap kepala keluarga di Desa Ngombak juga menyumbangkan dua sapit ikan untuk kebutuhan kenduri bersama.
Salah seorang warga Desa Karanglangu, Suprihadi (59), mengaku selalu mengikuti tradisi tersebut sejak dulu. Tahun ini ia kembali berjalan kaki bersama para warga.
"Kami berangkat sekitar pukul 07.30, istirahat di Ngawur untuk berganti pakaian dan sandal, lalu menyeberang sungai sebelum sampai Ngombak. Semua berjalan kaki sebagai bentuk napak tilas leluhur," ucapnya.
Menurutnya, hampir seluruh warga desa ikut dalam tradisi tersebut. Tahun ini warga Karanglangu menyiapkan sekitar 800 bungkus makanan untuk dimakan bersama.
Ada pula tradisi unik terkait nasi yang dibungkus dengan daun jati. Sebagian dimakan, sebagian lagi dikeringkan untuk disimpan sebagai simbol harapan dan keberkahan, hingga pelaksanaan Asrah Batin dua tahun mendatang.
Sebagian warga bahkan memanfaatkannya sebagai pakan ternak yang diyakini membawa berkah. Menjauhkan dari penyakit bagi ternak.
Sebagai penutup rangkaian acara, panitia juga menggelar undian berhadiah bagi masyarakat, di mana hadiah utama berupa mesin cuci.
Tradisi yang terus lestari ini menjadi bukti bahwa nilai persaudaraan, gotong royong, dan kerukunan tetap hidup di tengah masyarakat Grobogan. Utamanya masyarakat yang berada di kawasan hutan.
Cerita cinta terlarang Kedhana-Kedhini hingga kini masih diingat, menjadi ingatan kolektif masyarakat setempat. Namun, lepas dari hal tersebut, rasa dan sikap guyub rukun masih menjadi napas bersama di antara warga.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Grobogan Wahono menyampaikan pembangunan daerah tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan jalan maupun gedung, tetapi juga lewat penguatan kebersamaan dan kerukunan masyarakat.
"Tradisi seperti ini menyatukan pikiran, mempererat tali persaudaraan, membangun kesepahaman, serta menjadi sarana berbagi cerita. Semangat kebersamaan seperti inilah yang patut dijaga dan dilestarikan," sambungnya.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan Asrah Batin sebagai sarana menyelesaikan berbagai perselisihan, menjaga kerukunan lintas warga, serta memperkuat persatuan.(fik)
Editor : Admin