GROBOGAN – Aksi clean up Sungai Jajar Lama di Desa Kramat, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan, berhasil mengangkat 619,77 kilogram sampah anorganik.
Kegiatan tersebut melibatkan Pemkab Grobogan bersama komunitas Sungai Watch serta Sam, Gary, dan Kelly Bencheghib asal France.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan Heru Dwi Cahyono mengatakan, pembersihan dilakukan sepanjang kurang lebih 40 meter.
Titik tersebut menjadi lokasi penumpukan sampah karena adanya tikungan sungai yang menyempit dan tersumbat material kayu serta bambu.
“Karena di sini ada bottleneck, tikungannya ada ranting bambu, kayu batangan yang menghalangi. Karena tikungan sehingga sampah tidak bisa lewat. Cukup banyak. Akhirnya mengangkat sampah yang ada di tikungan tersebut,” jelas Heru.
Ia menyebut, setelah dilakukan penimbangan oleh Sungai Watch, total sampah anorganik yang terkumpul mencapai 619,77 kilogram. Sampah tersebut selanjutnya akan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Untuk sampah anorganik akan dibawa ke TPA, sedangkan sampah organik akan ditinggal di sini untuk pembusukan. Sehingga menjadi sumber nutrisi tanaman di sekitarnya,” ujarnya.
Heru berharap aksi bersih sungai ini bisa menjadi pengingat agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah sembarangan.
“Ayo mulai peduli terhadap lingkungan kita. Sungai-sungai yang ada sampahnya, ranting dan pohon dilaksanakan kerja bakti bersama untuk memperlancar arus sungai.
Dengan lancarnya arus sungai potensi banjir yang timbul saat musim hujan ekstrem bisa dikurangi,” katanya.
Menurut Heru, kerja bakti pembersihan sungai juga harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah.
Sebab tanpa perubahan perilaku, persoalan sampah akan terus berulang.
“Termasuk juga kepedulian masyarakat untuk mengolah sampah bersama,” imbuhnya.
Namun demikian, Heru mengakui pembersihan Sungai Jajar Lama belum dapat dilakukan secara maksimal.
Sebab masih terdapat material longsoran yang sulit diangkat hanya dengan tenaga manual dan membutuhkan bantuan alat berat.
“Pembersihan kali ini belum bisa tuntas dilakukan karena harus membutuhkan alat berat. Material longsoran susah dibersihkan hanya dengan tangan.
Ke depan Dinas PUPR juga akan melakukan normalisasi agar aliran air bisa kembali normal lagi,” ungkapnya.
Ia menegaskan, kegiatan bersih sungai ini bukan hanya bertujuan membersihkan, tetapi juga sebagai bentuk edukasi bagi masyarakat dari berbagai kalangan usia.
“Tujuannya mengedukasi. Aksi hari ini tentu tidak cukup. Kalau kita tidak menjaga lingkungan, maka lingkungan tidak akan menjaga kita,” tegasnya.
Heru menambahkan, edukasi peduli lingkungan harus terus dilakukan karena tingkat kepedulian terhadap sampah masih rendah.
Ia pun menyoroti keterlibatan warga asing dalam aksi tersebut sebagai pesan kuat bagi masyarakat.
“Gary, Sam, Kelly yang warga Prancis saja peduli terhadap lingkungan kita. Maka dari anak-anak, warga dan perangkat daerah harus peduli,” pungkasnya. (int)
Editor : Admin